The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● EIGHTEEN ●


__ADS_3

***


Eleanor dengan tubuh yang sudah kembali menjadi manusia, terbaluti baju dan luka gores yang menutupi hampir sekujur tubuhnya sedang mengacak-ngacak isi kopernya yang tidak sengaja tertinggal ketika memasuki Kota Wideon. Ia berusaha mencari obat luka sebagai pertolongan pertama untuk sayatan-sayatan di tubuhnya dan juga Baylor.


Ia menepuk-nepuk pipi Baylor berusaha membangunkannya yang masih terkapar lemah dengan luka yang bahkan lebih banyak dari Eleanor.


"Baylor...." Dengan suara sesunggukan ia terus memanggil sahabatnya yang selalu bersamanya dan seperjuangan dengannya.


Ia memangku kepala Baylor dan terus menerus menepuknya lembut, membangunkannya dengan cairan bening kristal yang jatuh dari pelupuk matanya membahasi pipi Baylor.


"Ele?" tanya Baylor yang baru saja terbangun. Ia susah membuka matanya yang dikelilingi dengan luka-luka goresan yang membuatnya pedih sekali.


"Baylor!! Hikss ... hikss ... hikss...."


Mulutnya tak tergerak melafalkan kata-kata selain isakan nangis yang menyambut kesadaran Baylor.


"Sstt, kenapa kau menangis? Kita masih hidup, Ele. Sudahlah," lirih Baylor.


"Maafkan aku, Lor. Seharusnya kita tidak pernah kemari," tutur Eleanor.


"Nggak, nggak Ele. Kita harus segera mencari buku itu, Ele," ucap Baylor.


Baru saja Baylor berkata demikian, tiba-tiba kepalanya yang terpangku di paha Eleanor mendadak terbentur ke tanah. Tubuh Eleanor kembali menghilang! Kali ini separuh wajahnya ikut menghilang, berkelap-kelip.


"Ele," tutur Baylor, berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih lemah itu. "Tidak apa, sebentar lagi kamu bebas, percayalah padaku," Ia terus membelai rambutnya yang tidak ikut menghilang dan menenangkannya.


Baylor berdiri dan dengan terpincang-pincang ia membereskan serakan barang di koper yang diacak Eleanor dan menutupnya. Mengangkat kopernya dan mulai berjalan menuju mobil yang ditinggalkannya dengan Eleanor yang masih setengah menghilang.

__ADS_1


Baylor melihat dari belakang tubuh Eleanor yang berjalan dengan lesunya. Kesedihan yang selalu diderita Eleanor juga dirasakan Baylor, bahkan baginya ketidakadilan itu lebih sakit daripada luka yang didapatnya saat ini.


***


Baylor yang sedari tadi telah mencoba memperbaiki mesin mobil akhirnya menyerah. Ia kemudian berjalan menghampiri Eleanor yang duduk termenung di mobil.


"Nggak bisa kuperbaiki, Ele. Gimana donk ini. Masa kita nggak usah pulang," ujar Baylor, mukanya tampak murung karena ia tak mampu memperbaiki mesin mobilnya.


"Yahhhh, gimana donk, Lor. Persediaan kita udah mulai menipis, nih," ucap Eleanor.


Suasana menjadi hening seketika, tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Matahari siang mulai meredup, namun panasnya tetap menyengat. Daun-daun dari pohon-pohon rindang terus berguguran. Burung-burung pun beterbangan melewati mereka yang hanya duduk termenung menatap kosong sekeliling mereka.


"Lor, sepertinya dari awal aku memang ditakdirkan seperti ini, untuk menderita. Gara-gara aku, kini kita hampir tewas," ujar Eleanor memecah keheningan.


"Jangan pesimis, Ele. Aku hanya tahu kalau selama kita melewatinya bersama kita pasti bisa. Kita harus yakin!" ucap Baylor.


"Baiklah kalau begitu, Lor. Tapi kamu harus berjanji kalau kau akan meninggalkanku sendirian ketika kita dalam bahaya. Aku tidak mau membahayakanmu," ucap Eleanor, ia mulai yakin dan percaya pada omongan Baylor tetapi tetap ia tidak mau sahabatnya mempertaruhkan nyawanya demi dia.


Mereka kembali terdiam merenungkan nasib mereka ke depannya. Tak lama setelah itu, suara alarm kembali memecah keheningan. Alarm yang bersumber dari handphone Eleanor kembali mengingatkannya akan penderitaannya yang akan dimulai dalam waktu kurang dari 5 menit.


"Ahaa!! Lor, aku ada ide!" seru Eleanor tiba-tiba.


Entah apa yang dibisikkan Eleanor pada Baylor, namun membuat mereka segera berkemas ke dalam mobil. Baylor juga duduk di kursi pengendara dan bersiap-siap untuk mengendarai mobilnya.


Tepat pukul 5, seperti biasanya Eleanor kembali berubah menjadi monster ganas. Ia memanfaatkan hal itu untuk mendorong mobilnya yang mogok hingga mesin mobil pun hidup kembali.


Namun, dengan tubuh monster, Eleanor tidak dapat masuk ke mobil kecil itu. Ia mendorong lebih jauh lagi dan lagi dengan segampang itu, enteng sekali bahkan bagi tubuhnya itu hanya seringan bulu. Baru kali ini ia menemukan kesenangan pribadi di balik tubuh monsternya.

__ADS_1


Ia tertawa terbahak-bahak dengan memainkan mobil itu, ia mendorong keras, menarik kembali, dan sesekali mengangkat mobil itu rendah. Namun wajah tegang itu terkurung di balik kesenangan Eleanor, Baylor takut sekali ketika ia bermain seperti itu. Ia hanya dapat memegang ketat agar dirinya tidak jatuh dan berguling-guling dalam mobil yang terasa ringan bagi Eleanor itu.


Namun kesenangan itu lenyap lagi dalam 15 menit. Ia sudah tidak dapat mengangkat mobil dalam tubuh manusianya. Kini mereka fokus pada satu tujuan, buku. Mereka bergegas mencari bandara terdekat untuk terbang ke kampung halaman mereka. Kota Delson bukanlah kota yang dapat dijangkau hanya dengan mobil dari lokasi mereka saat ini.


Keduanya membeli tiket pesawat dan menitipkan mobilnya di penitipan kendaraan bandara. Tiket tercepat yang dapat mereka beli adalah pagi subuh, sehingga mereka menghabiskan malam dalam bandara luas keren itu.


Dalam pesawat terbang terlihat Baylor tidur pulas, dirinya dan juga Eleanor telah melewati hari-hari paling melelahkan seumur hidup. Namun, mungkin hari-hari berikutnya lebih susah lagi dari ini, yang tak pernah dibayangkan orang normal dan tidak berani dibayangkan orang yang akan mengalaminya.


Berbeda dengan Baylor, Eleanor hanya memejamkan matanya. Namun pikirannya terus melayang ke arah kematian. Ia seperti sedang mempersiapkan jiwanya yang akan mengarungi luasnya surga, berdekatan dengan ibunya yang telah lama pergi darinya. Ia terlihat terus mengigit bibir bawahnya hingga muncul bercak darah yang tidak terlalu banyak, yang bahkan tidak disadarinya karena gelisah yang berputar di otaknya.


***


Sesampainya di kota Delson....


"Hoaaaaa, indah sekali. Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku ke sini." Tangan Baylor membentang luas di depan gerbang bandara.


Kota Delson memang jauh lebih asri dibanding kota-kota lain. Pegunungan masih tampak jelas tak berkabut. Bahkan pohon-pohon hijau selalu terlihat di setiap langkah jalan. Tak dipungkiri, keduanya rindu dan kagum sekali sekembalinya ke kampung halaman mereka.


"Ayo!" ajak Baylor dengan tangannya melambai datang ke Eleanor.


Eleanor hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum alami dalam wajah polosnya.


Eleanor mengetik 'daftar perpustakaan di kota Delson' dalam situs pencarian.


"Woww," mulut Baylor membulat perlahan tidak menyangka daftar sepanjang itu. "Sampai kapan carinya ini?"


Sekiranya ada hampir 20 perpustakaan di kota Delson termasuk daerah pelosok. Tidak yakin apakah itu banyak atau tidak, namun baru pertama kali ini ada manusia harus mondar-mandir ke seluruh perpustakaan.

__ADS_1


"Ayoooo!!!" Baylor berteriak keras sekali hingga dilirik aneh orang lain. Itu adalah bentuk pelepasan stress dan perjuangannya sampai detik ini.


Keduanya mulai berjalan keluar dari bandara dan mencari taksi. Lalu pergi ke perpustakaan paling dekat.


__ADS_2