The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● ELEVEN ●


__ADS_3

Pyang....


"ELE? TANGANMU?!" teriak Baylor panik, pecahan kaca pecah berserakan di lantai karena tak mampu dipegang tangannya.


"Kenapa tanganmu?" tanya Baylor lagi. Ia berdiri dari kursinya dan sempat mundur sejenak.


"Hikss ... hikss ... hiksss...."


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Eleanor selain tangisannya.


Baylor mulai merunduk dan duduk kembali. Ia mendekatkan dan menghadapkan kursinya kepada Eleanor. Tanpa basa basi, ia mengusap lembut air mata yang terus bergenang di pipi Eleanor.


Kali ini bukan hanya tangan kanannya yang hilang, namun kedua tangannya! 


"I--ini sudah sejak kapan, Ele?" tanya Baylor lembut.


Tak ada sahutan dari Eleanor.


Baylor memberanikan dirinya untuk bertanya sekali lagi. "Ele?"


"Waktu kita makan sushi, ini semua sudah terjadi. Ku kira ini hanya delusi," ucap Eleanor yang samar-samar terdengar karena tertutupi oleh isakannya.


"Jadi waktu itu memang sudah terjadi dan waktu itu kau mencoba menyembunyikan tanganmu di bawah meja?" tanya Baylor yang ikut berkaca-kaca. Eleanor hanya mengangguk pelan, tak mampu bersuara dan kembali terisak.


"Lantas mengapa kau tak memberitahuku tentang ini semua?" tanya Baylor frustasi.


"A--aku tak mau merusak makan malam itu. Aku tahu itu adalah impianmu sejak lama, Lor," ucap Eleanor terbata-bata.


"K--kau sungguh jahat. Kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku, dari sahabatmu ini? Kau sungguh menyebalkan, Eleanor Devacio. Mengapa kau--," ucap Baylor yang tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Frustasi, marah, simpati, empati, sedih, semua bercampur menjadi satu.


"Maafkan aku, Lor," ucap Eleanor sambil menatap mata berkaca-kaca Baylor, ia tak pernah melihat sahabatnya itu menangis selain dikarenakan dirinya.


Baylor membalas tatapan Eleanor. Ia menatap hangat manik mata hazel Eleanor dengan tatapan iba. Ia tak mampu melihat sahabatnya itu menderita lagi. Namun, ia tak berdaya. Tak ada yang mampu dilakukannya untuk membantu sahabatnya. Kalau saja bisa, ia rela mengorbankan apapun demi Eleanor, bahkan jiwa raganya sekalipun.


Ia kemudian memeluk erat Eleanor, mencoba menenangkan sahabatnya dan dirinya sendiri. Tanpa mereka sadari, waktu berjalan begitu cepat dan mereka telah terlarut dalam kesedihan selama hampir 2 jam.


"Ele, tatap aku. Dengarkan aku baik-baik. Kau akan baik-baik saja selama aku bersamamu. Aku janji aku akan membantumu mencari jalan keluarnya. Aku yakin kita bisa melewatinya sama-sama," ucap Baylor dengan hangat, menyemangati sahabatnya.


"Ele, aku rela mengorbankan apapun demi kamu. Aku janji, aku tak akan membiarkanmu menderita terlalu lama. Aku akan membantumu mencari jalan keluarnya, Ele," batin Baylor.

__ADS_1


***


Beberapa hari berlalu....


Sinar bulan dan bintang-bintang mulai sirna. Kini giliran mentari yang kembali menyinari kejamnya bumi yang kelam, yang penuh penderitaan itu. Pohon-pohon dan dedaunan kembali bermain musik yang diiringi oleh nyanyian burung-burung yang hinggap di ranting-ranting pohon rindang itu. Begitu juga dengan Eleanor dan Baylor yang kembali bersiap untuk menghadapi hari yang baru ini.


"Ele, kau sudah siap?" tanya Baylor sambil mengetuk pintu apartemen Eleanor.


"Sudah, Lor. Tunggu sebentar, aku sedang membereskan tas kerjaku," sahut Eleanor yang masih di dalam apartemennya.


Tangannya dengan buru-buru memasukkan semua keperluannya ke dalam tas putihnya dan meraih sepotong roti panggang tepat saat ia berlari melewati meja makannnya. Lalu bergegas ke depan pintu dan memakai heels-nya, membiarkan Baylor terus-menerus memanggilnya dari depan pintu.


"Ishh, kau itu tak sabaran sekali, Lor," omel Eleanor begitu membuka pintunya dan mendapati Baylor dengan kepalan tangan terangkat, siap untuk mengetuk pintu apartemen Eleanor lagi.


"Kau yang lambat sekali, Ele. Kau membuat kita hampir terlambat," omel Baylor balik.


"Aku tak pernah menyuruhmu untuk menungguku. Aku bisa menyetir sendiri," ucap Eleanor.


"Baiklah kalau begitu. Hari ini kita berangkat dengan mobilmu dan kau yang menyetir," ucap Baylor.


"Heii, mana ada wanita yang menyupiri pria. Ke mana perginya semua sopan santunmu itu?" ucap Eleanor sambil berkacak pinggang, lalu menggigit roti panggangnya yang masih ia genggam di tangan kirinya.


"Baiklah kalau begitu. Naik ke mobilmu dan aku yang menyetir. Kau duduk manis saja sambil makan roti panggangmu dengan tenang," ucap Baylor lalu dengan sigap mengambil alih kunci mobil dari tangan Eleanor.


***


"Emank aku bisa ke mana lagi? Palingan kalau aku keluar juga bareng kamu. Ada apa?" tanya Eleanor, menoleh ke arah Baylor yang fokus menyetir.


"Hmm, bagaimana kalau besok malam kita ke taman?" tanya Baylor sambil menoleh ke arah Eleanor kemudian lanjut fokus menyetir.


"Boleh," ucap Eleanor sambil mengangguk.


"Aku akan membuatmu tak akan pernah melupakan kejadian besok," batin Baylor.


"Cepat habiskan rotimu, Ele," omel Baylor layaknya seorang emak-emak.


"Sabar, makanan itu harus dinikmati," bela Eleanor terhadap dirinya sendiri.


"Hmmm, lebih baik kau cepat habiskan atau kita keburu sampai ke kantor," tukas Baylor.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Eleanor.


Baru saja Eleanor mau memasukkan sisa roti panggangnya ke dalam mulut, rotinya mendadak jatuh ke jok mobil. Ia terdiam, menjadi patung sesaat, mencoba berpikir sebentar.


"Ada apa, Ele? Kenapa rotinya malah dimakan mobil? Kan harusnya dimakan kamu," ucap Baylor sambil tersenyum lalu menoleh cepat ke arah Eleanor.


Senyumannya tak bertahan lama. Baylor langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan kembali fokus pada Eleanor.


"Lor, ke--kenapa hari ini parah sekali?" tanya Eleanor, matanya mulai berkaca-kaca, cairan kristal bening itu hampir mengalir keluar dari matanya.


Kali ini bukan hanya tangan kanannya atau tangan kirinya yang hilang, atau bahkan kedua tangannya, namun seluruh bagian dari sepasang tangannya, baik dari ujung jari hingga ke lengan atasnya menghilang!


"Ele, tak apa-apa. Tenangkan dirimu, aku ada di sampingmu. Bagaimana kalau sehabis pulang kerja setelah kau kembali menjadi manusia kita ke perpustakaan kota untuk mencari tahu lebih banyak lagi? Internet itu tak berguna, jangan buang-buang waktu kita lagi," ucap Baylor, entah dari mana ide itu terlintas di pikirannya.


Selama ini, Baylor dan Eleanor sudah mencoba mencari tahu dari banyak sumber melalui internet, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun artikel yang mampu memberikan satu penjelasan pun kepada mereka.


"Okay," ucap Eleanor, mengusap air matanya yang sudah sempat tumpah jauh dari wajahnya, berusaha kembali tegar untuk menghadapi harinya yang masih panjang ini.


***


"Mari kita turun, Ele. Semangat ya kerjanya," ucap Baylor seraya mengusap lembut puncak kepala Eleanor, menyemangati Eleanor yang masih sedikit gelisah.


"Baiklah. Makasih banyak ya, Lor. Aku tak tahu apa jadinya hidupku tanpamu. Mungkin aku akan tetap hidup dalam kegelapan terus-menerus. Kau-lah pemberi cahaya dalam hidupku," celoteh Eleanor panjang lebar yang hanya dibalas dengan senyuman tulus dari Baylor.


Baylor lalu mengalungkan tangannya pada pundak Eleanor dan berjalan menuju pintu kantor.


"Lor, sebaiknya kau lepaskan tanganmu atau rekan kita akan berpikir yang bukan-bukan," ucap Eleanor.


"Bagaimana kalau aku tak mau?" goda Baylor sambil menutup sebelah matanya (wink) lalu menuntun Eleanor masuk ke kantor.


"Kau ini sungguh--," ucap Eleanor, terhenti ketika mereka berpapasan dengan seorang yang sangat mereka kenali.


Ia adalah Favid!


"Hai, Favid!" ucap Baylor dengan santainya, ia tak merasa canggung sama sekali dengan sikapnya, tangannya masih bertengger pada pundak Eleanor.


"Oh, hai!" balas Favid sambil tersenyum kikuk, kemudian langsung berjalan melewati keduanya tanpa berkata sepatah kata pun lagi, berbeda sekali dengan Favid yang biasanya: Favid yang ceria, periang, lucu, gemar bercanda, dll.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Baylor pada Eleanor.

__ADS_1


"Mana ku tahu. Emank aku dewa? Kau ini, cepat lepaskan tanganmu!" tukas Eleanor sambil memukul telapak tangannya yang bersisa pada bahunya.


Akhirnya Baylor pun melepaskan tangannya dari pundak Eleanor dan berjalan masuk ke meja kerjanya.


__ADS_2