The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● THIRTY ●


__ADS_3

"Emeamore Dezoido Vasida!" teriak Baylor membaca tulisannya sendiri di kertas kosong yang penuh coretan dan tanda garis silang, garis yang menghubungkan satu per satu huruf hasil penemuannya yang gagal selama berjam-jam bahkan berhari-hari.


Ia kemudian mengulang kembali dari awal buku itu dan mencari alfabet-alfabet yang dimaksudnya lalu menulis ulang hingga akhir dengan teliti.


"Tidak salah lagi, Emeamore Dezoido Vasida," bacanya dengan hati-hati mengingat tulisan itu agak susah dilafalkannya tanpa spasi dan bahasa yang tidak pernah dilihatnya, yang ia sendiri tidak tahu artinya.


"Aku harus memberitahu mereka. Ele pasti senang," gumamnya sambil tersenyum kecil meninggalkan kursinya dengan membawa buku dan kertas coretannya yang terselip di dalamnya.


Niatnya membuka pintu ia urungkan ketika melihat angka jam yang telah melalui perjalanan hendak menemui angka 2 tengah malam. Ia kasihan bila harus membangunkan Eleanor pagi-pagi begini yang telah mengalami kesusahan berat tidak lama sebelumnya dan pastinya lelah. Ia sendiri pun tidak tahu bila daritadi waktunya ia habiskan duduk merenung buku itu. Baru sekarang rasa lelah itu merebak kembali ke otot-ototnya yang sudah kaku karena terus duduk di tempat yang sama untuk waktu yang lama.


Baylor berbalik dan menghempaskan dirinya ke sembarang arah di tempat tidur luas itu dengan buku misterius dalam pelukannya. Tidak lama setelahnya, Baylor telah terlelap hanyut bersama dengan hari yang telah dilaluinya.


***


Keesokan harinya....


"Baylorrrr!!!!" teriak seorang wanita disertai gedoran pintu menggunakan samping kepalan tangannya.


Baylor terkejut karena kedamaian tidurnya yang disertai dengan bunga mimpi tiba-tiba hancur dengan suara yang menusuk telinganya. Ia bahkan tidak sempat membuka perlahan matanya yang selalu dilakukan orang ketika pertama kali bangun tidur. Baylor langsung beranjak dari kasur kamarnya dan membukakan pintu bagi Eleanor, sang nona yang meneriaki namanya tadi.


"Bay! Bay! Bay!" seru Eleanor sembari langsung memperlihatkan sebuah kertas putih yang terlihat noda diatasnya tepat setelah pintu itu terbuka.


Pandangan Baylor yang masih buram karena cairan matanya yang keluar sehabis bangun membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas. Ia mengambil kertasnya dari genggaman Eleanor yang sedari tadi ia todorkan, dan menyipitkan matanya. Perlahan huruf-huruf itu terlihat.


"Emeamore Dezoido Vasida?" tanya Baylor dengan mata sipit yang masih berusaha membaca lebih jelas.


"Iyaa! Favid menemukannya," ungkap Eleanor sembari menunjuk ke arah Favid yang berdiri di belakangnya sejak awal dengan senyum lebar semerbak.


"Aku juga menemukannya. Aku sudah menemukannya sejak jam 2, namun aku tak mau mengganggu tidur nyenyakmu," ujar Baylor tidak mau kalah.


Meskipun ia senang, dalam hatinya ia iri melihat Favid yang terlebih dahulu memberi tahu Eleanor walaupun ia telah menemukannya sedari pagi-pagi buta tadi. Terlebih lagi Eleanor terus memuji dan memberikan senyuman kepada Favid.


"Oh, ya?" tanya Eleanor kagum dengan kedua matanya yang membesar.


"Iya, masuklah."


Baylor mengangguk kepalanya dan mempersilahkan Eleanor dan Favid untuk masuk dan membahas lebih lanjut dalam ruangannya.


Ketiganya duduk di atas kasur karena tahu proses menelusuri ini tidaklah mudah dan pasti akan membutuhkan waktu yang lama, sehingga lebih tepat untuk duduk di tempat yang empuk dibandingkan keras seperti kursi.


"Bagaimana kalian bisa menemukan mantra ini?" tanya Eleanor penasaran melihat keduanya telah menemukannya layaknya dengan mudah.


"Lihatlah typo ini. Seperti yang dibilang Favid sebelumnya, ada kejanggalan disini," ucap Baylor sembari menunjuk suatu kata dalam buku itu.


"Awalnya kukira salah pengetikan itu biasa. Namun setelah kulihat, kata yang salah itu terlalu jauh hurufnya dengan huruf sebelumnya dalam papan pengetikan baik keyboard maupun mesin ketik zaman dulu. Seperti kata 'princessi' ini, 's' dan 'i' tidaklah dekat di keyboard manapun.


Terlebih lagi ternyata salah pengetikannya sangat banyak, dan kalau kita menghilangkan satu huruf itu saja, kata itu langsung terbentuk sempurna. Jadi lebih tepatnya bukan salah pengetikan, tetapi penambahan kata yang tampaknya disengaja," jelas Baylor panjang sekali mengutarakan semua ilmunya.

__ADS_1


"Berarti itu hanya asumsi kalian, kan? Belum tentu itu benar. Mungkin juga memang itu tidak disengaja," ucap Eleanor.


"Ya! Tapi menurutku tidak salahnya kita mencoba," balas Baylor yang diikuti dengan anggukan setuju Favid.


"Lalu bagaimana menggunakannya?" tanya Eleanor yang tidak sabar untuk menyelesaikan penderitaanya selama ini, yang bahkan tidak jelas mengapa bisa ada dalam dirinya.


"Sepertinya, tapi hanya sepertinya, ini hanya menurut pendapatku. Setiap misteri itu harus disambung-sambungkan, dan seperti yang kita tahu, masih ada misteri lain selain ini." Akhirnya Favid berucap sesuatu setelah Baylor mengambil kesempatan menjelaskannya tadi.


"Chéri?" tanya Baylor yang dengan cepat mengerti maksud Favid.


Favid mengiyakannya dengan anggukan kepalanya.


"Maksudnya?" tanya Eleanor yang tidak begitu mengerti bergiliran menatap keduanya yang berada di samping kiri dan kanannya karena dia tidak punya waktu selama hidupnya untuk memikirkan tentang sesuatu yang tidak logis.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Eleanor karena susah untuk menjelaskan kembali otak teka-teki misteri kepada seseorang yang tidak tahu dasarnya.


"Sepertinya kita harus mengucapkan mantra itu seperti penyihirnya. Benar maksudmu gitu, Favid?" tanya Baylor yang otaknya lebih nyambung bersama Favid ketimbang Eleanor.


"Ya!" balas Favid yang mulai serius dalam diskusi bersama ini. "Chéri, tangan. Mungkin maksudnya letakkan tangan di atas lubangnya dan katakan mantra itu," sambungnya.


Eleanor seketika membuka mulutnya membentuk huruf 'A' tidak bersuara yang mengerti dengan penjelasan singkat Favid. Sementara, Baylor tampak biasa saja karena dirinya juga sempat terbesit hal itu beberapa saat yang lalu.


"Baiklah! Ayo kita coba," ajak Eleanor yang bersemangat dan langsung membuka buku yang sudah berbaring di sana lama, semenjak dipeluk Baylor dalam tidurnya.


Eleanor langsung membuka halaman tengahnya. Seperti pendapat keduanya, Eleanor mencoba meletakkan sebelah tangannya dan melafalkan mantra itu sedikit terbata-bata sembari membacanya dari kertas putih yang diberikan Favid karena dirinya tidak terbiasa mengucapkannya, bahkan baru pertama kalinya.


"Cobalah kedua tanganmu, Ele. Kita harus mencoba semuanya sebisa mungkin," anggapan Baylor ia keluarkan.


Eleanor hanya menerima masukannya dengan hati yang telah berputus asa. Sepertinya ia dapat meramal apa yang akan terjadi setelahnya. Ia pun meletakkan kedua tangannya dengan posisi bersebelahan dan sekali lagi mengucapkan mantranya.


CLINGG!!!


Mungkinkah berhasil? Tidak nyatanya. Sebuah tayangan gambar keluar dari lingkaran lubang hitam itu.


"Love?"


Tayangan itu terputar sendiri sesaat setelah keluar. Begini tayangannya.


Awalnya terdapat dua gambar love. Kemudian secara perlahan dua love itu menyatu begitu saja, menjadi satu love. Lalu setelah hanya tertinggal satu love, tayangan itu menghilang kembali seperti pasir yang keluar dari genggaman tangan. Sebuah teka-teki baru diberikan lagi.


"Sudah, ah. Aku sungguh lelah!" seru Eleanor lalu berdiri mengambil remote TV dan membukanya.


Sementara Baylor dan Favid justru sedikit senang. Keduanya merasa ini adalah perkembangan baru yang harus dipecahkannya lagi. Lebih baik beratus-ratus teka-teki daripada hanya membiarkan mereka mencari tanpa petunjuk.


"Kenapa tayangannya baru muncul sekarang? Kenapa tidak dari awal Ele meletakkan tangannya?" gumam Baylor sembari memejamkan matanya mengingat kembali gambaran tayangan sebentar itu.


Favid pun tidak pantang menyerah. Ia juga sama seperti Baylor, menanyakan segala pertanyaan kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Dua, dua, dua," gumam Favid tanpa henti hingga ia terpikirkan sebuah cahaya.


"Lor," panggilnya membangunkan Baylor dari putaran otaknya sendiri. "Mungkinkah ... harus dua tangan dari orang yang berbeda?" tanya Favid ketika Baylor telah membuka matanya.


"Orang yang saling jatuh cinta?" tambah Baylor setelah mengingat kembali bentuk hati dalam tayangannya. Love pastilah segala sesuatu tentang cinta dan kasih sayang, semua orang tahu itu.


Keduanya beradu pandang cukup lama hingga Baylor memanggil Eleanor yang sedari tadi menonton TV sembari duduk di sofa depan.


"Ele?" panggil Baylor dengan nada merendah dan sedikit gelisah. Ia mengibas-ngibaskan tangan bertanda menyuruhnya untuk datang.


Eleanor hanya menatap malas dan datang ke arah mereka tanpa berkata dari mulutnya. Ketika Eleanor sampai di tepi kasur, ia terkejut mendengar pertanyaan yang ditanyakan Baylor. Ia tidak tahu harus menjawab apa, ia bahkan selalu menjauhi pertanyaan itu, seperti musuh bebuyutan.


"Siapa dari kita berdua yang kau sukai?" tanya Baylor dengan nada gelisah. Inilah yang sedari tadi ia khawatirkan sejak tahu makna tayangan itu.


Eleanor hanya menatap wajah mereka. Matanya terlihat ketakutan dan wajahnya mulai menghitam, seperti darah tidak mengalir lagi di tubuhnya.


"Ayolah, Ele. Kita butuh itu untuk masuk. Kita berdua menyukaimu, kau tahu itu. Hanya kau satu-satunya yang bisa memutuskan," ujar Baylor. Ia sendiri pun takut dan ingin menghindar saat ini.


Sementara Favid, sebenarnya ia sudah tahu jawaban Eleanor tanpa harus mempertanyakannya. Ia cuma mempersiapkan batin dan mentalnya agar kuat dan tidak mudah hancur nantinya.


Eleanor hanya menutup mulutnya dan menelan ludahnya keras sekali. Semua air liurnya pun sepertinya sudah ditelannya hingga terasa kering sekali di dalam lidahnya.


"Orang yang saling mencintai yang bisa masuk dengan meletakkan tangannya bersama dan melafalkan mantranya," jelas Baylor lebih lanjut agar Eleanor mengerti keadaanya saat ini.


Selama beberapa saat hanya hening dan diam yang menegangkan. Jantung Eleanor berpacu tidak karuan semenjak pertanyaan itu. Telunjuknya perlahan mengambang dan memilih ke arah pria itu, pria yang menemaninya selama ini, pria yang dicintainya sekaligus sahabatnya selama ini, Baylor.


Telah lama ia tahu perasaannya, tetapi ia takut persahabatan mereka akan hancur ketika nanti timbul saat keduanya tidak lagi suka dan bosan. Itulah mengapa ia tidak mau dan membantah keras perasaannya itu.


Sekejap itu Baylor hendak menangis, bukan sedih namun bahagia yang keterlaluan itu. Tangannya ia julurkan yang menunggu tangan Eleanor menindih di atasnya.


"Mau mencobanya?" tanya Baylor.


Eleanor meletakkan tangannya perlahan dan mengangguk malu karena pengakuan tidak terduga itu terlalu cepat dibanding bayangannya.


Favid seperti yang sudah seharusnya, ia sakit dan patah hati. Namun sepertinya kali ini tidak sesakit yang sebelum-sebelumnya. Ia berusaha tersenyum walaupun pahit rasanya.


Keduanya memindahkan posisi tangan bergandengan ke atas lubang hitam itu. Secara serempak mereka menuturkan mantranya.


"Emeamore Dezoido Vasida!"


"Emeamore Dezoido Vasida!"


"The CURSE: Deadly Game. Selesaikan maka kamu akan bebas atau kamu akan mati. Buku tetaplah harus terbuka atau kau akan terperangkap di dalam selamanya. Hahahaaaaa." Sebuah suara keluar dari lubang itu, suaranya menyeramkan sekali.


Syuttttttt~


Tiba-tiba saja keduanya menghilang ditelan lubang hitam itu bersama dengan suara misterius tadi. Tubuh mereka sesaat lalu terlihat menciut hingga hilang disertai cahaya putih terang yang membesar.

__ADS_1


__ADS_2