
***
Kerutan halus terpajang nyata di samping ekor matanya akibat cahaya putih terang sekali yang menusuk matanya kalau tidak dipejamkannya.
"Ele? Baylor?" gumamnya mencari kedua teman sekantornya yang menghilang diterkam bersama dengan cahaya yang tidak dapat ditatapnya.
'Tetap harus terbuka' dan 'terperangkap'. Kedua kata itu terngiang terus di kepala Favid tanpa disadarinya.
"Bentar, bentar. Tetap harus terbuka? Terperangkap?" tanyanya pada dirinya sendiri setelah tersadar penuh akan hal yang baru saja lewat dengan cepat.
Alisnya menajam karena belum sepenuhnya mengerti sebenarnya apa yang terjadi. Dimana temannya saat ini? Dan apa maksud ucapan tadi yang selalu diingatnya karena suara yang tidak biasa?
"Mungkinkah ini yang dimaksud game itu?"
Pupil matanya berpindah ke kiri dan kanan, atas dan bawah.
"Ya! Mereka masuk dan bermain game saat ini. Aku harus menjaga bukunya agar tetap terbuka!" seru Favid penuh di tengah ruang kosong beranggotakan dirinya sendiri dan beberapa perabot.
Favid memegang buku itu dan mendekapnya dalam posisi tetap terbuka di halaman tengah. Ia mulai mencari-cari barang yang dapat membantunya meringankan beban menjaga buku itu tetap terbuka.
Hingga ketemulah beberapa karet di laci nakas. Favid mengambilnya dan mengikat halaman-halaman belakang kedua sisi itu. Sekarang semua halaman yang tidak termasuk halaman tengah telah menyatu terikat karet elastis.
Tidak sampai disana, Favid tetap waspada. Ia pergi keluar hotel dengan buku yang terikat terus mendekap erat dalam tangannya dan mencari sebuah toko peralatan tulis terdekat.
Semua peralatan yang dapat digunakan ia beli. Stapler, selotip, penjepit, dan apapun yang penting berguna.
Dengan keadaan buku yang dilindungi dan terbalut dengan berbagai peralatan tulis umum, menjadikan buku itu agak aneh dan ditatap orang-orang asing yang berlalu lalang di jalanan tidak jauh dari hotel nginapnya. Setiap orang yang melihat buku itu pasti memikirkan keadaan otak pemilik buku itu, mereka mengira ada sedikit kemiringan dalam otak sang pemiliknya melihat buku itu dijaga dengan ketat olehnya layaknya anaknya sendiri.
Masih dengan buku yang ditahan dengan perlengkapan tulis agar tidak tertutup atau halamannya berbalik dari halaman tengah itu, Favid hendak membuka pintu hotel yang telah terakses masuk. Namun, seseorang mendaratkan telapak ujung tangannya ke bahu lurus Favid. Ia pun mau tak mau harus berbalik dan melihat
"Hmm? Siapa ya?" tanya Favid bingung pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di depannya.
***
"Serius?" tanya Eleanor sambil meloncat-loncat layaknya anak kecil yang kegirangan bila diberi permen manis.
"Ini!" seru Baylor.
Tangannya yang kotor karena tertutupi lumuran tanah mengangkat sebuah kunci tua.
"Wahh!" seru Eleanor.
Mata hazel-nya berbinar-binar melihat kunci itu layaknya cahaya surgawi yang ia lihat.
"Ayo, kita harus cepat!" seru Baylor.
__ADS_1
"Ya, tentu saja kita harus bergerak cepat!" timpal Eleanor.
Kedua sejoli itu pun bergegas berlari ke pintu batuan itu dan segera mencolok kunci tua itu ke dalam lubang kunci dan memutarnya. Anehnya, tak ada yang berubah, bahkan pintu itu tak bergerak sedikit pun walaupun sudah mereka dorong sekuat tenaga.
"Ayo dorong lebih kuat, Ele!" lirih Baylor sembari memperkuat tenaganya hingga seluruh otot-ototnya muncul di kulit tipisnya.
"Aku sudah tak sanggup, Lor," ucap Eleanor lalu berhenti mendorong pintu yang beratnya tak terkira.
"Aku juga nyerah, Ele," ucap Baylor.
Mereka yang awalnya sudah sempat berpikir optimis tiba-tiba kehilangan harapan kembali.
"Sebenarnya apa maksud permainan ini, sih? Aku kesal sekali, Lor," omel Eleanor.
"Aku pun tak mengerti, Ele," ucap Baylor.
Keduanya kembali duduk melepas letih mendorong tadi di atas bebatuan tidak rata itu, mencoba memikirkan jalan keluar sambil sesekali kembali menatap lubang kunci itu.
"Ele, apa kita harus mengucap mantra itu lagi?" tanya Baylor setelah mendadak mendapat pencerahan yang entah dari mana datangnya.
"Mantra apa? Mantra yang kita ucapkan di awal-awal masuk permainan tadi?" tanya Eleanor yang sudah mulai ling lung karena kelamaan di dalam gua pengap dan gelap itu.
"Ya! Meskipun aku tak yakin tapi tak ada salahnya bukan kalau kita mencoba," ucap Baylor yang diikuti anggukan dari Eleanor.
Keduanya berlari terbirit-birit seperti dikejar hantu dan bertatap-tatapan sesaat setelah tiba di depan pintu batuan besar itu.
"Ya," jawab Eleanor.
"Satu, dua, tiga," ucap Baylor memberi aba-aba singkat.
"Emeamore Dezoido Vasida!"
Tangan Baylor memutar kunci berlawanan jarum jam sambil mendorong pintunya saat mengucapkan mantranya dengan lantang.
Nyitt!!
Cahaya kemilau terpancar dari sekeliling pintu yang membuat keduanya menyipitkan mata mereka.
"What?" teriak mereka hampir bersamaan.
Mereka tak percaya dengan apa yang berada di depan mata mereka dan mengerjapkan mata mereka berulang kali melihat sekelilingnya.
***
"Nama saya Isabelle," sahut wanita itu mendengar pertanyaan pria muda di depannya dengan dekapan sebuah buku.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Favid melihat Isabelle yang sepertinya sehat bugar dan tidak kekurangan apapun.
Namun, sebuah senyuman sinis terulas di bibir Isabelle, dan ... tatapannya ke ... buku? Hal itu dianggap wajar oleh Favid karena orang-orang di jalanan tadi pun menatap bukunya lebih sering ketimbang dirinya, lebih tepatnya lebih dahulu ke bukunya sebelum dirinya.
"Oh, buku apa itu? Boleh saya lihat?" tanya Isabelle dan hendak langsung mengambil bukunya.
Favid langsung sedikit memundurkan tubuhnya menjauhi Isabelle. Genggaman yang awalnya sedikit lengah sekarang langsung mengerat melihat tindakan lancang Isabelle.
"Maaf, jika anda tidak perlu apa-apa saya rasa hanya bisa sampai sini saja," katanya kemudian meraih kembali gagang pintu yang tadinya terlepas ketika dipanggil Isabelle.
"Emm ... sebenarnya saya lapar," ujarnya segera agar Favid sempat mendengarnya.
Favid langsung menoleh melihat Isabelle. Namun, sepertinya keadaannya tidak seperti orang kelaparan.
Isabelle menurunkan pandangannya dengan tatapan sendu sembari mengelus-ngelus perutnya.
Favid lalu mengeluarkan dompet dari sakunya dan merogoh beberapa rupiah untuk diberikan kepada Isabelle yang sekiranya cukup untuk kebutuhan beberapa hari ke depan. Namun, Isabelle menolak ketika uang itu jatuh di tangannya. Ia mengembalikan uang yang diberikan Favid.
"Tidak, tidak, Nak. Tante nggak mau terima duit. Beliin satu makanan aja cukup kok," ucapnya.
Favid tampaknya berpikir cukup serius kemudian mengurangi jumlah rupiah tadi menjadi lebih kecil. Tetapi lagi-lagi ditolaknya. Kata Isabelle ia hanya mau dibeliin aja. Lah, aneh kan? Diberi hati, diminta jantung, udah dikasih jantung, diminta otak lagi. Apalah maunya.
Dengan berat hati Favid mempersilakan masuk Isabelle ke kamar hotelnya dan hendak memesan makanan langsung lewat menelepon sementara Isabelle duduk di sofa depan televisi.
Favid mendekati letak telepon hotelnya yang berada di samping tepi kasur. Ia pun meletakkan bukunya di tepi kasur lalu mengangkat teleponnya dan menekan angka-angka nomor yang tertera di kertas yang disediakan.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" teriak Favid pada Isabelle.
Sesaat lalu Favid merasakan angin yang cepat di belakang lehernya dan merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Betul saja, ketika ia berbalik, Isabelle sedang menunduk ke arah kasur dan hendak menutup bukunya. Untungnya Favid sempat menyelip tangannya di tengah buku hingga tidak tertutup.
"Emm--emmm, saya hanya mau lihat judul bukunya. Tidak bolehkah?" tanya Isabelle dengan muka tampang bodoh.
"Awas!" teriak Favid lalu mengambil kembali bukunya dan mengusir Isabelle.
Bukan maksud durhaka pada orang tua, namun ia merasakan bahaya yang akan datang dan tidak nyaman dengan tatapan Isabelle yang selalu mengarah ke buku itu seakan telah merencanakan sesuatu.
Perlahan-lahan Isabelle berjalan mendahului Favid yang mengusirnya. Namun....
***
"Lor? Kenapa kita bisa berada di sini?" tanya Eleanor.
Bamm!!
Pintu batuan tadi menutup kembali dengan sangat kuat dan menghilang. Ya, menghilang untuk selama-lamanya dari muka bumi.
__ADS_1
"Di sini dingin sekali, Lor," lirih Eleanor sembari menggosok-gosok tangannya karena udara dingin yang terus menyelimuti keduanya.
Entah berapa lama mereka bisa bertahan di tempat ini. Mereka bisa saja mati kedinginan membeku di sini. Bisa kalian tebak sekarang mereka berada di mana?