The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● TWENTY THREE ●


__ADS_3

***


"Will you be my girlfriend?"


Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Eleanor. Tubuhnya membeku seketika, otaknya terus memutar mencoba mencerna perlahan ucapan orang yang berada tepat di hadapannya. Apa ucapan itu serius? Ia sendiri tak tahu.


"Kau--," ucap Eleanor.


Namun, ucapannya terhenti ketika momen spesial itu diganggu oleh suara ketukan pintu.


Tokk ... tokk ... tokk....


"Permisi," teriak seseorang dari depan pintu.


Seketika Baylor dan Eleanor dengan sigap beranjak dari tempat tidur dan bergerak ke arah pintu. Mereka mencoba mengintip dari lubang pintu, namun hasilnya nihil. Kaca lubang pintu yang sengaja dibuat pihak hotel untuk mempermudah melihat ke luar itu ternyata sudah rusak dan pecah.


Meskipun begitu tentu saja masih dapat melihat, walapun susah kan? Namun, orang di luar tampaknya bergairah sekali, hingga tubuhnya berada tepat di depan pintu, mungkin saja hampir menempel sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali melalui pecahan kaca. Mereka saling bertatap-tatapan sesaat sebelum akhirnya Eleanor mengangguk, mengisyaratkan Baylor untuk membuka pintu.


Drettt....


Suara gesekan pintu dihasilkan ketika Baylor membukanya.


"Kau?" teriak Eleanor dan Baylor bersamaan, terkejut dengan kehadiran orang itu.


Bagaimana bisa orang itu sampai di sini?


"Kalian?" teriak orang itu balik, matanya tertuju pada isi kamar mereka.


"Sudah kuduga kalian ini akan berbuat hal tidak senonoh," gumam orang itu, menatap tajam Eleanor dan Baylor bergantian.


"Vid, ini nggak seperti yang kamu pikirkan," ujar Eleanor terbata-bata.


Ya, orang itu adalah Favid, teman kantor mereka.


"Kau ini jangan suka menuduh tanpa mengetahui kebenarannya. Harusnya kami yang bertanya, untuk apa kau kemari?" ujar Baylor sambil menatap aneh Favid.


"Sudah jelas alasan kedatanganku adalah untuk mencari kebenaran tentang semua ini dan ternyata dugaanku benar. Kau jangan mengelak lagi, Lor. Ranjang bertaburan mawar merah, kamarnya dihiasi seperti ini, siapapun yang kemari akan tahu apa yang kalian lakukan.


Aura romantisnya sudah terpancar luas. Tak ada alasan untuk mengelak lagi," ujar Favid panjang lebar sambil tersenyum sinis.


"Kau itu sepertinya mau kepalan ini mendarat pada pipimu, Vid," ujar Baylor geram, sekaligus mengangkat tangannya yang sudah dikepalkannya itu, seakan sudah siap untuk menghajar orang yang sudah merusak rencana yang telah bertahun-tahun ia tunggu.


"Kau pikir aku takut?" tantang Favid.


"Sudahlah, Vid. Berapa kali harus kukatakan padamu kalau jangan berani-beraninya kau ikut campur urusan pribadiku. Apalagi kau ini sudah menuduh kami sembarangan. Kau bahkan tak pantas kusebut sebagai temanku. Kau pikir aku wanita murahan? Kau pikir Baylor tidak memiliki hati nurani?


Kau selalu bicara tanpa berpikir. Aku sudah lama mencoba menahan amarahku ini padamu, tapi apa balasannya. Kau malah semakin menjadi-jadi. Hari ini hari ulang tahun Baylor, okay? Ini semua hanyalah sebuah kejutan untuknya," jelas Eleanor panjang sekali, sesekali menarik napas panjang untuk meredakan amarahnya.


Favid yang belum pernah mendengar teman kerjanya itu bicara sepanjang itu terdiam sesaat. Bagaimana mungkin wanita yang dijuluki sebagai 'Ratu Es' oleh satu kantor mendadak bisa berceloteh sepanjang itu? Apakah ia sedang bermimpi?


"Mengapa kau terdiam? Kau kaget dengan amarahnya?" ujar Baylor.

__ADS_1


"Kau jangan pernah macam-macam dengan kami, Vid. Kau akan tahu akibatnya," lanjutnya.


"Aku tak takut pada kalian. Nor, kau sudah tahu yang sebenarnya, kau sudah tahu perasaanku padamu, dan semua isi hatiku. Lantas mengapa kau lakukan ini semua padaku? Apa kau tidak memikirkan perasaanku sama sekali?" tanya Favid.


Bukan hanya Baylor yang terdiam, bahkan Eleanor sendiri juga terdiam. Anehnya, bukan Favid yang ia pikirkan, namun Baylor. Ia mendadak teringat dengan pertanyaan yang sempat Baylor lontarkan sebelum diganggu oleh ketukan Favid. Apa Baylor serius dengan pertanyaannya?


"Hei, apa maksud ucapanmu?" tanya Baylor, memiringkan kepalanya sedikit, tidak mengerti dengan ucapan Favid.


"Ohh, jadi ternyata kau tidak memberitahu tentang itu pada Baylor?" tanya Favid.


"Untuk apa aku memberitahunya. Itu hanya akan menambah beban pikirannya saja. Aku sendiri bahkan tidak memikirkannya lagi karena hal itu tidak penting untukku. Aku saja sudah melupakannya kalau saja kau tak datang dan mengganggu semua ini.


Lagian ini sudah larut malam, lebih baik kau pergi saja dan jangan kembali lagi. Jangan pernah kau ganggu kami lagi," ucap Eleanor dengan penuh amarah, lalu tangannya meraih gagang pintu dengan cepat dan hendak menutupnya, namun dihalangi oleh cengkeraman erat dari Favid.


"Kau boleh usir aku kali ini, tapi aku nggak akan biarin kalian bahagia. Lihat saja nanti. Aku akan mendapatkanmu dengan cara apapun," ucap Favid lalu bergegas meninggalkan Eleanor dan Baylor yang sibuk bertatap-tatapan, tidak mengerti dengan maksud ucapan penuh ancaman Favid.


"Udah ah, nggak usah dipikirkan," ucap Baylor sesaat kemudian.


"Kau tak marah?" tanya Eleanor was-was.


"Marah? Haha, untuk apa aku marah, Ele," tawa Baylor.


Eleanor menatap sahabatnya itu, merasa bersyukur karena Baylor sungguh mengerti dirinya, tidak seperti orang lain.


"Oh ya, kau belum jawab pertanyaanku tadi," ujar Baylor setelah ia sudah mengontrol tawanya.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Eleanor pura-pura linglung.


"Ah, lebih baik kau cepat minggat ke kamarmu, sudah malam. Hadiahnya dibawa juga, yaaa. Kau bisa membukanya satu per satu di kamarmu," ujar Eleanor, mengusir Baylor dengan halus.


Baylor keluar dengan tangan penuh bermacam-macam kotak hadiah dan muka disambar kekesalan.


"Hufttt," desah Eleanor terasa amat lega di dadanya, ia belum sanggup menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


***


Di suatu tempat di langit yang sama....


"Prof! Saya telah menemukan lokasi Eleanor," teriak Sofia sembari memukul keras meja kerjanya karena ledakan kebahagiaan.


"Dimana?" tanya Prof. Catoo terkejut dan tentu saja bahagia.


"Kota Delson."


"Hmm...."


Senyum jahat terpampang jelas pada sudut bibirnya.


"Ayo, sekarang!" titahnya pada seorang anak buahnya yang berdiri tegak di ambang pintu ruangan.


Professor tentu saja sudah menyiapkan sesuatu yang matang dengan sempurna, kalau tidak untuk apa gelar professornya. Apa lagi rencana jahatnya kali ini?

__ADS_1


***


Keesokan paginya....


"Elee!!!!"


Gedoran pintu disertai dengan teriakan tanpa henti. Eleanor terbangun, terkejut dengan teriakan keempat setelah teriakan dari luar semakin keras dan keras. Ia langsung bergegas beranjak dari kasurnya dan dengan penampilan acak-acakan ia membuka pintu.


"Emmm???" tanya Eleanor yang mulutnya masih tertempel dan matanya sulit terbuka, efek samping dari bangun.


"Ele? Lo sakit? Matanya nggak bisa buka?"


Plakkk!!!


Pukulan tangan Eleanor mencetak warna merah jelas pada pelipis Baylor.


"Udah gangguin orang tidur, berani tanya lagi. Apaan sih?" tanya Eleanor dengan mata terpejam yang kesal dengan kelakuan Baylor yang masih tidak dewasa.


"Ayo!! Cepetan sadar dan buka bukunya, biar cepat bebas juga," kata Baylor sembari menerobos masuk dari pertahanan lemah Eleanor.


"Ehhhh, nanti aja. Masih pagi lho," ucap Eleanor sekaligus mengikutinya dari belakang dengan tangan mengambang hendak menghentikan Baylor.


"Pagi apanya?" tanya Baylor bingung. "Ini udah siang, SIANG!"


"Hahh??"


Eleanor terkejut langsung melirik ke arah jam dengan mata terbuka lebar. Namun masih jam 9:45, siang apanya? "Ini namanya siang, hahh?"


"Hahaha, udah cepatan," sontaknya langsung menarik Eleanor dan dengan tangan kilat meraih buku yang terletak di atas nakasnya.


Krukkkk....


Suara demo para cacing di perut Eleanor.


"Kekekekke," kekeh Baylor. "Lapar, yah?"


Eleanor hanya mengangguk lemah dengan mengerucutkan mulutnya.


"Yaudah, aku beliin. Bentar, yah," sambungnya.


"Kan bisa telepon resepsionis minta dibawain makanan."


"Nggak, aku mau beliin kamu makanan yang spesial banget, nget, nget," seru Baylor dan langsung berbalik keluar dari pintu.


Eleanor tidak sempat menolak atau mengucapkan sepatah kata pun. Hanya duduk manis yang bisa ia lakukan.


Sudah 10 menitan lebih tetapi Baylor masih belum kembali. Eleanor dengan santainya di luar tetapi sakit panas di dalam berubah menjadi monster, kegiatan rutin dalam daftar kesehariannya.


Tambahan 6 menit berlalu, terdengar suara bel kamar memanggil, lantunan itu menandakan seseorang datang.


Tanpa berpikir panjang bahwa itu adalah orang lain, Eleanor yang bersembunyi dalam tubuh mengerikan monster langsung membuka pintu coklat itu untuk orang yang sedang menunggu di depan, yang ia kira pasti Baylor. Ternyata....

__ADS_1


"AHHHHH!!!"


__ADS_2