
***
Plakkk!!!
Sebuah tongkat hitam yang terdapat pada kantong samping security mendarat di belakang kepala Isabelle.
"Ahh," rintih Isabelle kesakitan.
Ia memegangi tempat yang terpukul itu dan berniat melihat siapa yang memukulnya. Namun, otaknya tiba-tiba teraduk-aduk dari dalam dan telinganya berdengung nyeri. Tidak lama kemudian penglihatannya menjadi buram.
Brukk!!!
***
"Lor, maafkan aku. Gara-gara aku, kau juga ikut menderita," ucap Eleanor yang sudah hampir membeku.
Bahkan ucapannya terdengar tidak jelas saking gemetaran dirinya. Kedua rahangnya, baik rahang atas maupun rahang bawahnya saling bergesekkan satu sama lain. Gigi barisan atas dan barisan bawahnya saling menggosok satu sama lain hingga hampir keropos.
"Sampai jumpa, Ele," ucap Baylor dengan susah payah.
Setelah itu, mata Baylor tak berkedip lagi. Sama halnya dengan mata Baylor, jantung Baylor juga berhenti berdetak.
Eleanor yang menyaksikan kematian sahabatnya terpukul sendiri dan tak berhenti mengutuki dirinya sendiri.
Bippp!!!
Suara itu terdengar di arena permainan. Keduanya terlempar kembali dari atas, seperti saat keduanya mau memulai permainan.
Brukk!!!
"Auuchh!!" lirih Eleanor sambil memegang lututnya yang terluka.
"Ele, kau tak apa-apa?" tanya Baylor panik.
Pertanyaan dari Baylor tak ia gubris. "Baylor, kau masih hidup?" tanya Eleanor histeris.
"Ya, ada apa? Bukankah kita sudah tahu kalau kita akan mati dan hidup kembali?" tanya Baylor terheran-heran melihat Eleanor yang histeris.
"A--aku melihatmu mati kedinginan, Lor," ucap Eleanor.
"Sudahlah, aku masih hidup, kok," ucap Baylor menenangkan Eleanor.
"Ya. Tapi, kenapa kita kembali ke gua?" tanya Eleanor setelah menghentikan ke-lebay-annya.
"O-mai-gad. Ayo, selesaikan dan cepat kembali ke kutub dingin itu!" ucap Baylor.
"Ya, kau benar," jawab Eleanor.
Kini keduanya masih setengah mengerti dengan cara permainan ini. Permainan ini sungguh membuat mereka linglung dan bodoh.
Baylor kemudian menatap papan peta yang berada di tangannya. Ia mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa papan peta yang tadinya ia letakkan di atas meja ketika mencoba mencari petunjuk kini berada di genggamannya kembali? Sungguh aneh!
Tanda centang di bulatan pertama bahkan kini sudah lenyap, menandakan bahwa mereka harus menyelesaikannya kembali dari awal. Tanda love kini pun sudah berkurang satu lagi, tersisa tiga buah.
__ADS_1
Mereka kemudian menyelesaikan tantangan di arena pertama dengan sangat mudah karena sudah tau letak kuncinya sebelum akhirnya dihadapkan kembali dengan arena kedua.
"Ele, ayo!" ucap Baylor mengajak Eleanor untuk masuk ke dalam gubuk tua penuh kenangan buruk itu.
Brukk!!!
Sama seperti sebelumnya, mereka kembali terkunci di dalam gubuk tua itu. Mereka jauh lebih berhati-hati kali ini dalam mencari kunci.
"Lor, di mana kunci itu," gerutu Eleanor yang sudah pasrah.
"Aku tak tahu. Kita sudah mencari di mana-mana, baik di laci maupun lemari, bahkan kolong maupun di atas," ucap Baylor yang tak kalah frustasi.
***
Isabelle terjatuh dan terpapar di lantai bersama dengan ketiga orang yang telah dibuatnya begitu sebelumnya dengan buku yang hampir tertutup ketika terjatuh langsung dari tempat yang lumayan tinggi, meninggalkan seseorang yang memenangkan pertandingan ini. Hanya saja, pihak manakah yang ia dukung? Hmm, Favid-kah? Atau jangan-jangan ia membentuk pihak yang baru lagi? Pihaknya sendiri?
Untunglah tidak, ia hanya seorang cleaning service yang tidak sengaja melihat peristiwa itu ketika hendak membersihkan kamar Favid sesuai jadwal. Secara kebetulan ia melihat semua kejadiannya dari awal dan dapat mencerna mana yang baik dan jahat.
Ia sempat melihat-lihat sekitar dan mencari sebuah benda yang dapat melemahkan pihak yang jahat hingga sedikit lama pergerakannya untuk menghentikan Isabelle.
Cleaning service itu langsung menelpon ke resepsionis dengan telepon hotel dan memberitahukan bahwa terdapat banyak orang pingsan di lantai sekian dan kamar sekian tanpa menceritakan kronologinya.
***
"Hanya korek api itu satu-satunya benda disini, Lor," ucap Eleanor.
"Ahhh!" teriak Baylor putus asa.
"Tidak ada cara lagi, Ele. Kita harus membuka korek apa itu lagi. Sepertinya tadi kita melewatkan sesuatu," ucap Baylor mendekat ke Eleanor.
Ia menunggu persetujuan dari Eleanor karena ia takut calon kekasihnya ini kedinginan. Tapi memang hanya itu satu-satunya cara untuk mencari petunjuk.
Akhirnya Eleanor setuju setelah berbagai pergumulan di dalam hatinya. Sekali saja anggukan kepalanya, Baylor langsung bergegas ke lemari tua berkayu rusak itu dan menarik lacinya. Sekali lagi hanya sebuah kotak korek api di dalamnya yang berisikan jebakan.
Baylor mengambilnya dan melihatnya sama-sama dengan Eleanor. Baylor hanya menatap inti pupil Eleanor tanpa mengucapkan satu patah kata pun dengan tangannya yang mematung di ujung tarikan kotak kecil itu.
"Tariklah," ucap Eleanor setelah melihat mata Baylor yang tidak tega harus melihatnya menderita kedingingan lagi.
Srettt....
Tarikan pelan yang menimbulkan suara seperti gesekan kertas terdengar besar dalam ruangan kosong itu.
Sekali lagi Baylor mengeluarkan sebatang korek api dan memegangnya. Sementara kotak korek apinya ia alihkan ke tangan Eleanor di sebelahnya.
Benang yang pernah dilihatnya kini menarik otomatis mereka lagi hingga jendela itu terbuka. Namun, rasa dinginnya kali ini melebihi apapun. Sungguh! Sangat dingin!
"Lor!! Atapnya!" teriak Eleanor yang berusaha melawan dingin yang menyelubungi sekeliling tulang rahang, gigi, dan lidahnya.
"Apa??? KENAPA?!!"
Kali ini bukan hanya jendela, seluruh atapnya kini terbuka dan terbang ditiup angin dingin. Saljunya terus turun dari atas sana sehingga gubuk yang awalnya kosong ini pun sekarang terisi oleh lembut putihnya salju.
"Lor, se--sepertinya kita harus mati lagi," ucap Eleanor menghembuskan napas mulutnya ke dalam kesatuan tangannya untuk menghangatkannya sementara.
__ADS_1
"Tidak! Kita harus bergerak sekarang, Ele. Kita tidak bisa menyiakan nyawa kita sekali lagi," balas Baylor lalu langsung menarik Eleanor mengikutinya agar menghindari Eleanor terus menerima udara dingin itu dan lama-lama menjadi sebongkah es manusia.
Plakk!!!
Suara itu berhasil mengundang perhatian Baylor. Tetapi ternyata tidak berguna, hanya kotak korek api tadi yang jatuh dari tangan Eleanor yang tidak sanggup lagi memegang sehelai pun rambutnya.
Baylor pun berbalik kembali hendak berjalan, namun diurungkannya.
"Ahh!! Bodoh!" umpatnya sendiri menepuk samping kepalanya.
Lalu berlalu sebentar meninggalkan genggaman tangannya dengan Eleanor dan mengambil kotak tidak berisi itu.
"Apa ini?"
Sekarang kedua sisi samping gubuknya juga lenyap terbang mengikuti arus angin. Dingin ini sudah tak terbendung lagi.
"Lor!! Apa yang kau lakukan," teriak Eleanor melihat Baylor memungut sebuah kotak yang sengaja dibuangnya itu. "Kita harus cepat, Lor. Jangan membuang waktumu. Ayo!"
Eleanor saat ini sungguh dengan sangat panik. Jikalau pun mati kedinginan, maka kematian kali ini akan sedikit kesakitan.
"Bentar!" Baylor memungutnya dan kembali ke Eleanor. "Ini juga barang, Ele. Kita terlalu menganggap remeh kotak ini."
"Tidak apa-apa disana. Lepaskan! Sudah kita ambil isinya, mau ada apa lagi," bantah Eleanor yang tidak setuju dengan Baylor.
Namun Baylor terus menerus mengecek dan meraba-raba satu per satu sisi kotak itu. Dahinya berkerut dan matanya mengecil mencoba melihat ke dalam kotak yang sangat kecil itu, yang hanya mampu dilirik oleh sebelah matanya.
"Ini!" teriaknya dengan kegembiraan ke arah Eleanor.
Tangannya diangkat menunjukkan sebuah benda. Kunci!
Fiuhhhhh....
Satu sisi gubuk itu lepas kembali dari dalamnya tanah, menyisakan hanya sebuah sisi yang tertempel pintu di sana.
"Ayo, Ele!"
Sekarang rintangannya bukanlah mencari sebuah kunci lagi, namun Eleanor. Wanita monster itu benar-benar hampir membeku dalam posisi berdiri.
Melihatnya tidak lagi mampu bergerak, Baylor terpaksa sedikit mengangkat Eleanor dengan susah payah. Bahkan tubuhnya sendiri sudah menjadi beban hidup baginya, sekarang badan Eleanor pun harus ditanggungnya.
"Ele, kumohon," sahut Baylor menepuk pipinya.
Eleanor sudah hampir menutup matanya dan hilang kesadaran. Ia menarik paksa dan menyeret tubuh Eleanor yang tidak bergeming. Karena hal itulah, waktu mereka menjadi terbuang sia-sia.
Kedinginan itu sedikit demi sedikit juga mengikis kesadaran dan hangat tubuh Baylor.
"Tidak, tidak," gumam Baylor yang matanya hampir menutup.
Baylor memeluk tubuh Eleanor agar kehangatan dapat terbentuk di antara tubuh mereka yang bersentuhan. Hal ini sedikit bermanfaat hingga Baylor dapat sedikit maju hingga sampailah mereka di depan pintu.
Eleanor belum mati, namun sekitar 4 detik lagi mungkin ia akan mati. Untungnya sebelum itu Baylor telah berhasil membuka pintu itu dengan kunci yang didapatnya dari tempat tidak terduga.
Klekk....
__ADS_1