The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● TWENTY EIGHT ●


__ADS_3

"Hei, berhentilah!" teriak Baylor yang sembari tadi mengejar tanpa henti wanita yang diseret oleh banyak pria sekaligus di tangga evakuasi.


Teriakan dramatis wanita itu membuat Baylor dan Favid mengejarnya lebih cepat lagi hingga kecepatannya mengimbangi anjing liar kelaparan yang melihat mangsa tepat di hadapannya.


Setelah keluar dari pintu tangga evakuasi yang berakhir di lantai dasar, mereka sudah sampai di tanah kosong yang terletak tepat di belakang hotel. Terlihat beberapa besi panjang berkarat menumpuk dari fondasi yang kuat hingga tersisa satu besi di atas yang diduduki oleh sesosok orang dengan pria berbaju hitam berbaris di sampingnya. Mereka syok melihat dalang di balik semua kerusuhan ini.


"Hahahaaa, pahlawan kesiangan sudah tiba," ejek seseorang.


"Kau?" geram Favid dan Baylor bersamaan, sungguh menyesali kebodohan mereka karena sudah terjebak dalam rencana busuk si pendek itu.


"Hahaaa, kalian pikir kalian itu pintar? Kalian hanyalah setitik debu dibandingkan dengan aku. Hahahaaa ... akulah Professor Catoo yang tak terkalahkan," ucapnya dengan suara membahana dan tawa menyeramkan.


Ia selalu menggeleng-geleng kepalanya dan memajukannya beberapa kali saat berbicara untuk mengejek pria yang berbaik hati tulus menolong.


"Mau kamu apa, sih? Kau mau kuhajar?" ucap Favid penuh amarah.


"Boleh, boleh. Tapi langkahi dulu anak buahku yang gagah perkasa ini. Apa kalian yakin bisa menang melawan mereka semua? Hahahaa ... tidak, bukan?" ucap Catoo dengan nada merendahkan dan tatapan dingin di akhir ucapannya yang telah lama ia pendam dari berkali-kali kekalahan karena dua orang yang terlalu ikut campur.


"Kau benar-benar sudah lewat batas, Catoo," gumam Baylor.


Ia sudah bersiap-siap untuk menghajar sebagian anak buah Catoo. Ia tahu terlalu mustahil melawan sedemikian banyaknya otot yang menggeliat pada tubuh-tubuh itu. Tetapi, tentu saja sebuah rencana terpikir di pikirannya, ia tidak sebodoh dan polos seperti anak kecil yang selalu ia lakukan hari-hari biasanya. Inilah saatnya ke-macho-annya berteriak untuk memecah.


"Kalian lebih milih menghajarku, ya. Sungguh bodoh," ujar Catoo dengan tatapan mengenaskan dan senyum meremehkan tersungging.


Ketika kata 'bodoh' terucap dari mulut kotor Catoo, tiba-tiba suatu pikiran menghantam Baylor. "Ele?" gumamnya.


***


Brukk!!!


"Ahhh!!" teriakan Eleanor keluar begitu saja menghantui sesisi ruangan ketika dua pemuda bertubuh atletis masuk melalui pintu yang telah ia yakini terkunci.


Kedua pria itu mendobrak keras pintunya walau kesulitan beberapa saat. Namun hanya sebentar, pintu itu bahkan takluk terkena sentuhan kekuatan combo mereka.


"Hahahaaa, kini giliranmu, sayang," ucap salah satu dari mereka yang mengenakan kacamata hitam dengan suara menjijikkan tepat setelah melewati ambang pintu kamarnya.


"Siapa kalian? Apa mau kalian? Aku tak berbuat salah kepada kalian. Jangan mendekat!" teriak Eleanor ketakutan.


"Hei, hei, hei! Kau tak kenal kami? Ya, tapi kau pasti kenal dengan bos kami," ucap orang itu lagi sembari mendekatkan satu langkah dengan perlahan sambil tersenyum sinis.


"Bos? Bos yang mana? Bos gendut?" tanya Eleanor panik, namun mencoba untuk tetap tenang dan kuat.

__ADS_1


Bos gendut yang ia maksud adalah bos tempat ia bekerja yang sudah kalian ketahui dengan sangat sifat periangnya.


Mata Eleanor mulai berputar tak tentu arah, tetapi masih siap siaga dengan apa yang akan dilakukan mereka selanjutnya. Nalarnya juga berdesakan mulai bekerja mencari ide untuk menyelamatkan dirinya.


"Haha ... masa kau tak kenal dengan Professor Catoo. Kau tentu tahu," jawabnya lagi dengan senyum lebar seperti terpesona dengan kecantikan mata Eleanor di kala ketakutan.


Eleanor terkesiap sekejap mata, lututnya lemas seketika. Pikirannya melayang pada kondisi Baylor dan Favid saat ini yang terjerumus karena keinginan hati nuraninya tadi.


"Kumohon, lepaskanlah aku. Jangan sakiti aku," ucap Eleanor memohon lepas pada kedua pria itu dan memundurkan tubuhnya karena takut dengan perintah Catoo kepada anak buahnya.


Ia mencoba mengulur waktu sembari memikirkan jalan keluar dengan kepala mungilnya. Ia tidak yakin kalau kedua temannya dapat menyelamatkannya kali ini karena mereka juga pasti sedang menghadapi  kesulitan.


Kedua pria berbadan tegap itu terus berjalan maju perlahan agar tidak mengejutkannya dan menyakitinya, seperti yang diperintahkan atasan mereka untuk membawanya tanpa segores pun luka.


Eleanor yang ketakutan dengan langkah kaki mereka yang kecil namun tetap menggema dalam gendang telinganya sontak terus mundur hingga tubuhnya terhenti di sebuah meja televisi.


Sebuah benda menusuk yang tidak sengaja disentuhnya ketika tangannya menopang pada meja yang hampir membuatnya jatuh ke bawah mengundang sebuah lirikan mata untuk melihatnya.


"Kunci?" batinnya.


Ya! Kunci untuk membuka connecting room. Apakah rencana itu bisa berhasil membantunya lagi kali ini? Pasalnya pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Baylor berat sekali karena terbuat dari kayu asli bermutu bagus. Apa ia bisa menutupnya tepat waktu? Ia sendiri tidak yakin. Namun, ia tetap mengambil kunci itu dan menyelipkannya dengan pelan ke dalam saku belakang celana hitam pendeknya agar tidak disadari keempat mata di depannya.


"Kau jangan mundur terus, sudah hampir buntu, sayangku," ujar yang lainnya.


"Kau boleh lakukan apapun padaku, tapi tolong jangan bawa aku pada si pendek itu," imbuhnya.


"Apapun?" tanya salah satu dari mereka lalu menoleh ke arah rekannya dengan tatapan penuh hasrat yang akan dimengerti para pria.


"Ya, apapun," jawab Eleanor, tubuhnya mulai gemetaran.


"Kau yakin? Apa kau mau melakukan 'hal' itu dengan kami?" tanya orang itu lagi dengan kedua alis terangkat.


"Ya, aku yakin," ucap Eleanor kemudian berjalan keluar dari dua tubuh pria yang membungkusnya dari arah luar, lalu menuju pintu yang terbuka sedari tadi dan menutupnya rapat-rapat, seakan benar-benar bersungguh hati dan siap untuk melakukan 'hal' itu.


Kedua anak buah Catoo saling menatap satu sama lain, terkejut dan bingung dengan ucapan Eleanor yang mereka kira memiliki harga diri yang tinggi.


"Kalian sudah siap?" tanya Eleanor sembari menyeka air matanya yang sudah terlanjur tumpah.


"Ya, tentu saja!" jawab mereka kompak dengan anggukan bersemangat dan mata membesar mulai melihat lekuk tubuh Eleanor yang membuat mereka membayangkan beberapa jam ke depan.


"Tunggu kejutan dariku," ucap Eleanor mendekati keduanya yang sempat terjauh tadi.

__ADS_1


Kemudian dirinya menuntun kedua pria itu menuju connecting door. Lalu meraih kunci emas dari saku belakangnya dan membukakan pintu, mempersilahkan mereka untuk masuk ke kamar sebelah, yang mana adalah kamar milik Baylor.


"Kalian masuk saja duluan dan persiapkan diri kalian. Aku pasti akan memberi kalian kejutan," ucap Eleanor sembari memainkan rambutnya menggoda kedua pria itu, seperti kebanyakan wanita p***cur.


Sesaat setelah kedua pria itu terbohongi dan masuk ke ruangan, Eleanor langsung mengunci pintu itu dan segera berkemas-kemas mengambil seluruh barang penting.


"Menurut kalian aku wanita murahan? Dasar bodoh," gumamnya dengan penuh percaya diri.


Lalu dengan susah payah ia terus mengangkut kursi dan menatanya rapat di luar kamar Baylor agar tidak mudah didobrak kedua pria itu ketika menyadari siasat Eleanor. Ia kemudian segera meninggalkan kamarnya dan turun melalui lift, meninggalkan kedua pria itu di kamar yang mungkin masih berenang-renang dalam lautan kesenangan. Ia hanya berharap kalau kedua pria itu tak begitu cepat mengetahui kebohongannya.


"Ke mana Baylor dan Favid?" gumamnya sendiri setelah tiba di lantai dasar. Kakinya tak berhenti bergetar.


"Permisi, Mba. Apa aku bisa menanyakan apakah di sekitar ini ada tempat yang sepi?" tanya Eleanor pada salah satu pegawai di meja resepsionis.


***


"Favid kau ambil yang kiri dan aku ambil yang kanan," ucap Baylor memberi arahan kepada Favid dan tentu saja dengan mata ekornya yang mengisyaratkan sesuatu. Favid yang melihat arah ekor mata dan tatapan tajamnya seakan mendapat sebuah telepati rencana sesungguhnya dari Baylor.


Kini keduanya sudah memasang pose kuda-kuda dan sudah siap membobol pertahanan Catoo.


Baylor melayangkan kaki kanannya ke wajah anak buahnya yang mendekat hendak menghajar Baylor. Sementara kaki kirinya tertahan diam di atas semen tanah, menjaga keseimbangan agar tidak jatuh ketika layangan kakinya beraksi. Tentu saja sebuah hajaran kaki tidak akan membuat anak buah kekar itu layu seketika.


Baylor yang tidak begitu menguasai bela diri berusaha sekeras mungkin agar setidaknya satu anak buahnya melemah. Namun, sepertinya ia terlalu meremehkan mereka.


Sementara Favid yang lebih menguasai hajar menghajar, mengatasi dua orang sekaligus dengan tangan dan kaki cekatannya.


Rencana A yang harusnya menghajar sebagian tampaknya harus segera beralih. Terlalu banyak yang masih menunggu agar Baylor dan Favid segera beradu kuat dengan mereka. Rencana B segera dinaikkannya demi menggantikan gagalnya rencana A.


"Favid," seru Baylor memanggilnya.


Favid langsung menolehnya dengan ekor mata agar fokusnya pada lawannya tidak terlalu memecah. Ia melihat sekilas Baylor memberinya tanda ke arah pintu evakuasi yang mereka buka tadi. "Apa maksudnya melarikan diri?" tanya Favid pada dirinya sendiri melihat tanda aneh Baylor.


Tidak berapa lama, sebuah suara terdengar keras dan pendek begitu saja terlontar, "3! Run!" teriak Baylor.


"Apa?" teriak Favid menjawab teriakan Baylor sebelumnya. Ia melihat Baylor yang berlari membelakanginya. "Apa ini? 3? Komando apa dia?" gumamnya menggerutu kesal sembari berlari cepat menghampiri Baylor.


Semua pasukan yang sedari tadi bergelut bersama mereka langsung mengejar mereka. Bahkan anak buah yang masih berdiri santai pun langsung mengejar setelah mendengar teriakan penuh kemarahan Catoo, bos mereka.


Kedua pria kuat abal-abal itu (Baylor dan Favid) hampir sampai ke pintu yang masih terbuka. Terlihat di belakang mereka semuanya telah dekat namun menurut perhitungan detik masih sempat untuk menutup dan mengunci pintunya sebelum mereka berhasil menangkapnya.


Tiba-tiba dua pria bertubuh kekar lain dengan baju rapi sekali bak pengantin pria muncul di pintu itu, menghalangi Baylor dan Favid yang telah sampai tepat di depan pintu dari sisi depan.

__ADS_1


"O-oww." Mata Baylor dan Favid membeku bersama dengan mulut mereka.


Bagaimana ini? Di belakang ada anak buah Catoo dan di depan ada dua pria yang sepertinya adalah anak buah si pendek itu juga. Ke mana mereka harus melarikan diri?


__ADS_2