The Monster!

The Monster!
22. Asing


__ADS_3

Sebelum Diego memulai perjalanan, Gio sempat memberikan Diego sebuah peta, sekaligus beberapa keperluan yang mungkin akan berguna dalam perjalanan nanti.


Begitu juga dengan Ellen yang sudah menyediakan beberapa makanan, seperti roti dan kue untuk mengisi perut Diego nanti saat di jalan.


"Apa ini tidak terlalu berlebih-lebihan?" Tanya Diego yang melihat tas besar dengan berbagai perlengkapan


"Tidak! Kau harus membawanya, aku sudah menyiapkan semuanya untuk mu!" Tegas Ellen


Diego hanya menghela nafasnya pasrah, lagi pula tidak ada gunanya berdebat dengan Ellen dikarenakan sudah pasti Diego akan kalah.


"Berhati-hati lah saat di perjalanan, selain monster kau akan bertemu dengan manusia jahat diluar sana." Ucap Gio


"Aku mengerti, aku akan selalu berhati-hati!" Jawab Diego


Saat Diego baru melangkah keluar dari dalam rumah, ia begitu terkejut saat melihat orang-orang yang begitu ramai di halaman menunggunya.


Orang-orang yang selama di desa selalu Diego bantu, apalagi selama bekerja hampir seluruh pekerjaan di papan pengumuman Diego yang mengambilnya.

__ADS_1


"Hei!! Apa kau ingin pergi tanpa mengucapkan salam!" Teriak seorang pria


"Haha! Pahlawan kita akhirnya akan pergi juga!" Ucap salah satunya lagi


Diego tersenyum mendengarnya, ia tak percaya meski hanya sebulan Diego berada di desa, namun kebaikan yang pernah ia lakukan akan sampai seperti ini.


"Semuanya, maaf aku tidak memberitahu kalian!" Seru Diego


"Tenang saja, kami akan selalu mendukung mu, Diego!" Ucap semua orang berteriak


Setelah merasa cukup untuk mengumumkan kepergiannya, Diego segera melangkah menuju gerbang luar desa, sambil tidak lupa melambaikan tangannya pada orang-orang dari kejauhan.


Diego menoleh sembari menaikan alisnya mendengar panggilan Ellen, dan dengan tersenyum Ellen berkata, "Aku akan menunggu mu!" Ucap Ellen dengan senyuman terbaiknya


Sembari tersenyum Diego melambaikan tangannya, ia tak menjawab dan hanya tersenyum sebagai bentuk jawaban atas ucapan Ellen


Diego kembali melanjutkan langkahnya, ia meninggalkan tempat pertama yang ia singgahi, tempat dimana ia belajar sedikit demi sedikit tentang dunia ini.

__ADS_1


Tempat yang membuat Diego lebih nyaman dan menyebutnya sebagai rumah, tempat dimana orang-orang yang mau menerimanya seperti seorang keluarga.


"Aku akan kembali..." Lirih Diego meski ia sendiri tak yakin kapan akan terjadi


Hembusan angin begitu lembut mengantarkan kepergian Diego, burung-burung terbang dengan kelompoknya dan rumput-rumput bergesekan seolah sedang bernyanyi dan menari.


Sementara itu ditempat lain, seorang pria dengan pedang di pinggangnya tengah duduk di atas tumpukan monster yang mengerikan, matanya nampak sayu memandang dengan penuh rasa bosan.


Di tangannya terdapat sebuah simbol api, dan dengan santainya ia mengulurkan tangannya kearah tumpukan monster, dan dalam sekejap api besar membakar tumpukan monster itu.


Dengan santai pria tersebut melangkah pergi, matanya nampak tajam menatap depan, dengan tekad serta ambisi yang nampak tersembunyi


"Em, baiklah! Aku akan kesana." Ucapnya tanpa tau berbicara dengan siapa


Setelah berbicara sendiri pria tersebut kembali melanjutkan langkahnya, dimana saat itu pula tanpa sengaja ia berpapasan dengan seorang pria tinggi nan kekar.


Mata keduanya saling memandang sekilas satu sama lain, meski pria itu tak merasakan mana di tubuh pria yang lewat tadi, namun dengan jelas ia merasakan ancaman dari pedang di punggungnya.

__ADS_1


Hal yang menarik adalah koin tengkorak yang bergelantung di ganggang pedang, dari situlah ia merasa ancaman yang terasa sedang bersembunyi.


Namun Diego tak menyadari hal itu, ia hanya terus berjalan melewati pria yang berpapasan dengannya, begitu juga dengan pria tadi yang juga sama-sama tak perduli.


__ADS_2