
Kota Axio sebuah kota yang terkenal akan para petarungnya, di kota ini terdapat sebuah Colosseum tempat para manusia pemberani mempertaruhkan nyawanya, hanya untuk nama dan ketenaran serta uang.
Mereka akan bertarung satu sama lain hingga ada salah satu dari mereka mati, tidak ada kata menyerah di colloseum ini, menyerah pun orang tersebut akan tetap mati.
Namun dibandingkan itu, terdapat sebuah berita yang bukan hal mengejutkan bagi beberapa pemerintah di kota ini, yaitu keberadaan para utusan.
Alasan para pemerintahan kota tetap diam tidak lain karena uang, uang adalah raja dari segala raja yang ada. Bagaimana tidak, hanya dengan benda mati itu saja membuat orang-orang menutup telinga dan patuh.
"Pemerintah sepertinya tidak bisa di andalkan!" Kesal seorang pria yang tengah memacu kuda pada Diego
Diego saat ini tengah duduk di gerobak belakang kuda, karena sebelumnya Diego melihat pemuda tersebut, jadi kenapa tidak meminta tolong padanya, ya walau harus bayar.
"Sepertinya aku tidak asing dengan hal itu..." Ucap Diego seolah ingat tentang hal yang sama di dunianya
"Sepertinya kau orang kaya, Tuan?" Tanya pemuda itu
"Tidak, apa aku terlihat seperti orang kaya?" tanya Diego.
"Sebenarnya tidak, hanya saja orang-orang yang pergi ke kota Axio biasanya hanya orang-orang kaya!" Jelasnya sembari memecut kuda
__ADS_1
"Kenapa harus orang kaya?" Tanya Diego kembali
"Tentunya karena semua barang di sana sangatlah mahal, kecuali di pinggiran kota, apalagi dengan pusat hiburan di sana yang menjadi pusat tujuan para manusia kaya," jelasnya
"Heh ... Ini informasi yang bagus untuk ku."
Perjalanan yang dilakukan menggunakan kuda itu tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit dari awal Diego menumpang, namun pria tersebut hanya bisa mengantarkan sampai persimpangan jalan.
"Aku hanya bisa sampai sini, kau tau jika ingin masuk aku perlu bayar," ucapnya
Diego mengangguk mengerti, untuk itulah sebelumnya Diego membutuhkan plat lisensi untuk melewati pembayaran biaya masuk setiap kota.
Berjalan dari persimpangan hanya sebentar, apalagi dari persimpangan bisa terlihat tembok tinggi yang mengelilingi kota saat ini.
Dan benar saja begitu Diego sampai di depan gerbang, ia diberhentikan oleh beberapa penjaga yang melarangnya masuk.
Diego segera memperlihatkan plat lisensinya, dan secara mudah para penjaga mempersilahkannya untuk melewati gerbang.
"Kalau begitu silahkan," ucap penjaga tersebut
__ADS_1
Diego mengangguk dan segera melangkah masuk, sambil diiringi tatapan nanar dari para penjaga gerbang tadi.
"Tubuhnya besar sekali..." Bisik penjaga itu
***
Begitu masuk Diego disambut dengan hiruk-pikuk kehidupan kota yang penuh akan hiburan, dimana orang-orang kaya hidup dan menghabiskan uang mereka di sini.
Di pusat utama Diego dapat dengan jelas melihat patung Dewi Maya berdiri menghadap keluar gerbang kota, melihatnya saja sudah membuat Diego kesal setengah mati.
Tujuan pertama Diego setelah sampai adalah sebuah Bar, dimana bar merupakan tempat sekaligus cara tercepat untuk mendapatkan informasi gratis disana.
Beberapa bar yang Diego kunjungi nampak terlihat mewah dan mahal, cukup lama Diego mencari bar yang sederhana dan sesuai dengan isi dompetnya.
Namun ketika Diego hendak meninggalkan Bar mewah di hadapannya, seorang wanita tiba-tiba memanggilnya, suara yang tidak asing bagi Diego.
"Hai pria yang di sana!" Panggilannya dengan suara khas
Diego menatapnya dengan terkejut melihat wanita yang memanggilnya, dan benar saja wanita itu merupakan wanita yang Diego temui di atap rumah Baron waktu itu.
__ADS_1
"Kau?"