
Aula Raja
Semua orang nampak terkejut dengan informasi yang Megi dan Raga sampaikan. Masalahnya ini tersangkut langsung dengan sebuah entitas tinggi dan kuat.
"Pahlawan Megi, apa yang kau katakan itu benar?" Tanya Raja Arnold
"Tentu Yang Mulia. Informasi ini Saya dapatkan langsung dari seorang pendeta penghubung, milik kerajaan Anika."
Para petinggi menghela nafas, rasa tegang jelas terasa jika yang Megi sampaikan itu merupakan sebuah kebenaran.
"Yang Mulia, sepertinya kita perlu melakukan perundingan dengan Kerajaan Anika tentang masalah ini!" Ucap seorang petinggi
"Itu benar Yang Mulia. Apa yang akan dilakukan Dewi Maya, itu jelas merupakan sebuah malapetaka untuk manusia!" Tambah seorang lagi
Raja Arnold diam sejenak, matanya memandang kearah penasihat di sampingnya untuk masalah sekarang.
"Harap tenang terlebih dahulu. Kita perlu memikirkan baik-baik masalah ini, karena pastinya kerajaan Anika tidak akan mungkin mempercayai informasi ini begitu saja." Jelas penasihat
__ADS_1
"Terlebih pengaruh gereja di sana juga begitu besar, yang berarti hal ini akan semakin sulit. Karena itu juga artinya kita akan melawan pihak gereja untuk masalah ini." Sambung penasihat kembali
Semua orang kembali diam, bingung harus berbuat apa. Terlebih pengaruh gereja juga sangat besar di sana, yang bisa di simpulkan jika Raja Anika merupakan sebuah boneka.
"Yang Mulia, sepertinya tentang masalah ini kita perlu berbicara langsung pada Dewa Saka." Ucap Raga
Semua orang terkejut, berbicara dengan Dewa merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Terlebih hal ini juga tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
"Pahlawan Raga, kami tau kau ingin mencari jalan pintas untuk masalah ini. Namun berbicara dengan Dewa itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan, terlebih kita juga perlu persetujuan dari pihak gereja." Jawab penasihat
"Aku yakin mereka akan mengerti tentang masalah ini, apabila kita ceritakan masalah sebenarnya yang terjadi. Lagipula orang-orang gereja pasti tak akan mau kalah jika mendengar tentang hal ini." Tegas Raga kembali
"Baiklah, akan ku usahakan. Namun sebaiknya kau melakukan semuanya dengan baik, Pahlawan Raga." Ucap Raja Arnold
"Tentu Yang Mulia!"
***
- Terowongan Kota
*DUAR!!
__ADS_1
Beberapa anak panah melesat dengan cepat, Angelina pun berlari mengejar kearah orang-orang berjubah, kendati demikian beberapa dari mereka masih berhasil kabur.
"Cih! Mereka masih bisa kabur!"
"Nona Angelina, bagian depan sana ada Tuan Willy. Jadi kabur pun mereka hanya akan datang menuju kematian saja."
"Willy? Apa yang dia lakukan di kota yang jauh ini?" Tanya Angelina nampak bingung
"Em kami sendiri kurang tahu. Namun nampaknya dia juga ikut membasmi para anggota kultus ini." Jelas seorang bawahan
"Kita sebaiknya kembali, Willy akan mengurus sisanya."
"Eh? Benarkah?"
Angelin segera berjalan pergi, meninggalkan terowongan gelap yang berbau darah begitu kental.
Sebenarnya ada rasa bingung dalam diri Angelina selama ini. Dari beberapa informasi yang dia dapat, para anggota kultus ini masih belum terlihat melakukan kerusakan yang besar untuk kerajaan.
Bahkan bisa dibilang, kehadiran mereka saja terasa begitu kecil, dan juga sumber masalah yang mereka hasilkan juga tidak pernah terlalu besar.
'Aku penasaran kenapa Dewi memerintahkan kami untuk membunuh para anggota kultus? Bukankah selama ini mereka tidak pernah melakukan aksi besar?' bingung Angelin
__ADS_1