The Monster!

The Monster!
26. Pembunuh Pahlawan


__ADS_3

Gerard Theddy, pria tampan itu berjalan dengan santainya ditengah kondisi hujan yang begitu lebat, ditambah dengan angin yang begitu kencang dan menakutkan.


Sudah beberapa hari terakhir Kerajaan Loni tengah mengalami hujan lebat, bahkan sampai membuat beberapa akses penyebrangan menjadi rusak dan tak bisa digunakan.


Di sebuah bar Gerard berhenti, ia memesan beberapa bir untuk mengisi perutnya. Sembari duduk santai, matanya nampak memandang dingin kearah orang-orang disekitarnya.


"Apa kau ingin pesan sesuatu Tuan?" Tanya penjual bar.


"Bir dan sup panas," jawab Gerrard singkat


Penjual bar segera mengangguk ia segera menyiapkan pesanan yang diminta, cukup beberapa menit ia memasak dan memberikannya pada Gerrard.


Dengan santainya Gerrard menyantap makanan itu, dan dengan tenangnya ia meminum bir di tangannya sembari waspada dengan sekitar.


Sedari tadi Gerrard sendiri sudah tau beberapa orang yang memperhatikannya, terlebih dengan dual Blade yang Gerrard miliki di pinggang kanan dan kirinya.


Beberapa menit setelah selesai dengan mengisi perutnya, Gerrard segera keluar meninggalkan bar disusul dengan pria yang mengikutinya.


Gerrard dengan tenang menuju sebuah gang sepi dan sempit, tentunya Gerrard mempunyai rencananya sendiri meski ia dapat menghabisi lawannya dengan sekejap.


"Jadi, mau sampai anjing asing mengikuti ku?" Tanya Gerrard membalik badannya


"CK! Padahal kau tidak perlu berbicara seperti itu, bukankah hal ini akan membuat kematian mu sangat menyakitkan?" Tanya pria dengan bandana itu sembari menjilat belatinya


"Kematian menyakitkan? Ah ... Aku jadi ingin mencobanya dengan kalian!" Senyum Gerrard yang membuat para penjahat terkejut


"Apa? Hei apa kau sedang menghibur dirimu sendiri?" Ucapnya dengan tenang


Sementara itu dua teman penjahat tadi nampak tersenyum lebar, keduanya berjalan mendekat kearah Gerrard sembari mengeluarkan pedang besar dari sarungnya.


Kedua penjahat itu segera berlari bersiap menyerang, namun dengan sekali tatap keduanya seketika membeku tak bisa bergerak sama sekali.

__ADS_1


Dan dengan santainya Gerrard mencekik keduanya dan mengangkatnya, sambil tersenyum tipis Gerrard membakar keduanya hidup-hidup.


"Agh!! Hentikan! Tolong!!!" Teriaknya kesakitan karena dibakar hidup-hidup


"Kau! Seorang utusan...!" Kejut penjahat dengan bandana sebelumnya


Dengan tertatih-tatih ia segera berlari, namun entah mengapa kedua kakinya begitu berat untuk digerakkan, ditangkap Gerrard melemparkan dua tubuh penjahat tadi hingga membuat dirinya tertindih.


"Agh panas! Kumohon ampuni aku!" Teriaknya yang merasakan panas akibat tertindih jasad yang terbakar.


Gerrard tak perduli malahan ia tersenyum bahagia mendengar rintihan manusia yang kesakitan di hadapannya, dan dengan sekali jentikan seluruh tubuh di hadapannya terbakar hangus.


"Hah ... Bau-bau kesengsaraan!!!" Tawa Gerrard sembari menatap langit mendung dengan penuh kebahagiaan


***


"Ayah, seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri!" Keluh Lora yang melihat Grey kembali kambuh batuk darah


"Ayah tenanglah, aku tau apa kekhawatiran ayah selama ini." Jelas Lora sembari menggenggam erat tangan pria yang menyayangi nya itu.


"Maaf Lora, kau harus menanggung semua ini..."


"Aku hanya menjaga apa yang harus ku jaga, Ayah..."


Diego hanya diam di atas atap mendengarkan keluh kesah anak dan ayah itu, jujur Diego sebenarnya iri melihat kasih sayang harmonis seperti itu, meski hanya dari seorang ayah.


Diego berusaha kembali mengingat momen indah dirinya saat bersama keluarga, namun sayang momen itu sama sekali tidak ada di ingatan Diego.


Yang ada hanya bagaimana dulu dia dipukul oleh ayahnya, dan bagaimana ia menyaksikan perselingkuhan yang dilakukan ibunya, hal itu membuat sang ayah kecewa dan sakit hati, hingga menjadikan Diego sebagai pelampiasan amarah.


Sungguh menyedihkan rasanya pada saat mengingat hal itu, hal berharga yang Diego miliki saat itu adalah saat ia bekerja, dimana ada seorang nenek yang terus-menerus memberikannya makanan, menganggap Diego adalah cucunya.

__ADS_1


Dan sungguh, hal kecil seperti itu adalah penyemangat untuk Diego pada saat itu untuk tetap hidup dan berjuang, hingga akhirnya nasib malang kembali menimpa.


Dimana sang nenek dikabarkan meninggal pada saat itu, ditambah Diego juga dipecat dari pekerjaannya karena sedang dilakukan pengurangan karyawan.


"Hah, sungguh masa lalu yang buruk..."


"Benarkah, ada memangnya?"


Secara tiba-tiba suara seseorang wanita terdengar di samping Diego, dan dengan cepat Diego menoleh arah samping.


"Hm?" Senyum wanita tersebut


Tanpa Diego sadari sama sekali seorang wanita muncul di sampingnya, dengan rambut panjang terurai serta pakaian dress panjang sampai kaki berwarna merah darrah.


Wanita tersebut tersenyum manis kearah Diego, dan jujur baru kali ini Diego melihat wanita dengan tubuh serta wajah secantik itu, namun Diego seketika waspada ketika melihat belati kecil di paha wanita tersebut.


WOSHH!!


Dengan cepat Diego segera menjaga jaraknya, bahkan saking cepatnya sampai membuat wanita tadi cukup terkejut melihatnya. Diego segera memegang ganggang pedang miliknya namun tak ia rasakan ada di belakangnya.


"Sial aku lupa!" Ucap Diego yang baru ingat pedangnya yang tertinggal di kamar


"Hm? Kau sangat cepat untuk seukuran manusia tanpa berkat!" Ucap wanita cantik itu kagum


"Siapa kau?" Tanya Diego


"Entah?" Ucapnya yang tiba-tiba berada di belakang Diego memeluknya dan dengan santai ia meraba setiap otot dada Diego.


Diego segera menoleh kearah belakangnya, namun wanita tersebut kembali menghilang dan berdiri di depan Diego seperti sebelumnya.


"Katakan siapa kau!" Tanya Diego dengan penuh penekanan

__ADS_1


"Aku bukan siapa-siapa, hanya sedang lewat haha..." Tawanya yang membuat wajah cantiknya semakin terlihat


__ADS_2