The Monster!

The Monster!
61. S2 Raga Costa


__ADS_3

"Ti-tidak jangan mendekat!"


Seorang pria dengan jubah di tubuhnya, nampak ketakutan setengah mati dengan seorang pria di hadapannya.


"Hm? Bukankah kau seharusnya memohon untuk sebuah ampunan?" Tanya pria itu sembari menarik ganggang pedang dari sebuah lingkaran sihir kecil di dekat pundaknya


Krang...


Suara gesekan pedang dan lantai terdengar, membuat rasa takut semakin menjadi-jadi bagi pria tadi. Apalagi di belakang pria tersebut begitu banyak tumpukan mayat yang tergeletak.


"Ti-tidak jangan!!"


Crack!!


Satu tebasan kuat membuat tubuh pria tersebut terbelah, termasuk lantai yang hancur oleh tebasan ringan tersebut.


Di tengah kegiatan tersebut, seorang pria nampak berjalan mendekat, pria dengan armor lengkap di tubuhnya.


"Tuan Raga, semuanya telah kita bereskan!" Ucapnya di susul dengan anggota yang lain


"Kumpulkan semua informasi yang masih bisa di simpan, dan untuk yang masih hidup segera kirim menuju penjara, lakukan dengan baik agar mereka mau memberitahu dimana kelompok yang lain berada!" Jawab Raga melemparkan pedang tersebut ke udara dan menghilang jadi partikel kecil


"Baik!"


Dengan cepat seluruh anggota berpencar, berusaha mengumpulkan apapun yang masih bisa di ambil, terutama beberapa informasi yang bisa saja tersimpan di antara buku-buku.

__ADS_1


***


"Kerja bagus Tuan Rega! Seperti yang di harapkan dari Utusan Dewa Saka!" Puji Raja Arnold sembari di iringi tepuk tangan bangsawan lain


"Benar sekali yang mulia, apa yang dilakukan Tuan Raga tak bisa dibandingkan dengan apa yang Pahlawan kerajaan Anika lakukan!" Puji salah satu bangsawan


Menerima pujian entah mengapa tak membuat Raga menjadi bangga, melainkan rasa kesal yang dia dapat, terlebih saat melihat sifat penjilat para bangsawan padanya


***


-Taman kerajaan


Raga termenung diam sembari menatap sendu air mancur di hadapannya, matanya begitu intens sembari memegang segelas wine di tangannya.


"Megi?" Balas Raga menatap datar wanita di sampingnya


"Ada apa? Dimana kebahagiaan mu, hm?" Tanya Megi berdiri diam di samping Raga


"Aku tidak tau," jawab Raga datar


"Sudah mendengar tentang ibu kota, Anika?" Tanya Megi


Raga memutar otaknya, ia kembali ingat dengan informasi yang Rendy katakan padanya waktu itu, tentang bagaimana ibu kota kerajaan tersebut di lenyapkan.


"Ya," jawabnya singkat

__ADS_1


"Menurut mu, pahlawan yang terlalu lemah. Atau musuhnya yang terlalu kuat?" Tanya Megi tersenyum


"Entahlah, namun mengapa Dewi mereka tidak memberikan pertolongan. Apakah Dewa Saka juga akan melakukan hal itu kelak?" Tanya Raga membuat Megi terkejut dan tersenyum


"Hm ... Kau tidak tau sebuah rahasia kecil?"


"Katakan,"


"Para Dewa tak akan pernah menolong umat manusia, dan jika mereka melakukan itu ya melalui kita sebagai perantara."


"Alasannya?"


"Beberapa ratus ribu tahun yang lalu, terdapat seorang Dewa yang menciptakan dunia dan semesta, ketika ia di segel. Ia pernah mengatakan dan memberikan sebuah kutukan. Dimana ketika sebuah entitas kuat (Dewa) mengeluarkan kekuatanya, maka mereka akan diberikan hukuman oleh semesta, berupa segel seratus tahun." Jelas Megi tersenyum


Raga terdiam, ia mencoba memahami apa yang Megi katakan padanya, mengenai asumsi itu Raga yakin inilah yang membuat para Dewa mengirim seseorang untuk menuju dunia bawah.


"Tentu akibat hal itu membuat para Dewa menjadi sulit untuk bergerak, dan karena itulah yang memanggil seorang utusan yang tak lain adalah kita. Yang tugasnya adalah melakukan apapun misi yang dia berikan."


"Begitu. Namun apa Dewa melakukan hal ini karena ingin menolong umat manusia, atau ... Karena sesuatu?"


Pertanyaan tersebut membuat Megi terdiam, apa yang Raga katakan tentunya merujuk pada keinginan dan maksud para Dewa selama ini.


Tak mungkin jika mereka memanggil para pahlawan hanya untuk melindungi umat manusia, pasti terdapat maksud lain yang orang lain tak mengerti.


"Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu,"

__ADS_1


__ADS_2