
Di hadapan sebuah makam, Willy berdiri diam dengan raut lesu. Ia nampak gelisah mengingat apa yang terjadi waktu itu, tentang bagaimana dirinya gagal menolong orang-orang termasuk temannya sendiri.
Kematian Jack, serta pertolongan Dewi Maya yang tidak kunjung tiba, membuat Willy menjadi ragu akan kepercayaannya pada sang Dewi selama ini.
"Apa benar, Dewi tak akan menolong kita, Jack?" Tanya Willy lesu
Beberapa peristiwa terus terjadi, apa yang membuat Dewi begitu enggan mengulurkan tangannya untuk membantu para pengikutnya saat ini.
Jack telah tewas, begitu juga dengan Rose. Namun sama sekali tak ada tanda-tanda jika Dewi Maya memperhatikan para pengikutnya dan orang-orang yang dia kirim selama ini.
Ditengah keraguan, tiba-tiba sebuah sinar terang datang melesat kearah Willy, sangat cepat sampai membuat Willy tak sempat berbuat apa-apa.
*Swing!
Sinar terang mengisi sekitar, membuat Willy menutup mata untuk melindungi pandangnya yang menyilaukan.
"Kita bertemu lagi, Pahlawan." Suara yang tak asing terdengar menyapa
"Dewi Maya!" Ucap Willy terkejut
"Ya, ini Aku! Apa kau merasa Rindu, manusia?" Tanya Maya tersenyum lebar
"Apa alasan mu sekarang?" Tanya Willy dengan datar
"Hmm? Begitulah sikap mu setelah apa yang kuberikan?" Tanya Dewi Maya duduk di singgah sana miliknya
"Apa yang kau maksud sebuah kematian pada teman ku? Atau sebuah pertolongan yang tak pernah kunjung tiba?" Tanya Willy menatap tajam
"Hahaha!! Bagus sekali, aku suka melihat seorang manusia dengan tatapan itu!" Balasnya menyeringai lebar
Willy hanya diam tak berbicara, otaknya sudah terlalu panas dengan wanita gila di hadapannya saat ini.
"Dengar Willy, apa yang terjadi padamu sebenarnya ada karena sesuatu di sekitar mu sendiri.."
"Apa maksud mu!"
"Kultus Iblis. Apa kau tau? Tidaklah kau sadar jika semua ini hasil perbuatan mereka? Teman mu mati oleh seorang iblis, yang mana itu dilakukan oleh iblis yang menjadi sesembahan mereka?" Dewi Maya mendekat kearah Willy
"Dengar Willy, yang kau harus salahkan itu mereka, bukan diriku. Ingatlah, kelompok mereka telah melakukan hal kejam seperti ini! Cobalah untuk membunuh mereka, apa kau tidak tau? Mereka begitu banyak berkeliaran di kota!"
***
__ADS_1
Di sebuah taman kerajaan yang indah. Raga memandang diam pada sebuah kolam ikan di hadapannya. Mata nampak diam melihat kelompok ikan yang tengah berebut untuk memakan sebuah pakan yang Raga berikan.
Sementara itu, seorang wanita cantik berjalan menghampirinya. Raga sadar, jadi tanpa menoleh sekalipun ia sudah tau siapa orang yang berjalan kearahnya.
"Ada apa, Megi?"
"Hm, tanpa menoleh pun kau tau siapa? Memang bukan main insting seorang Pahlawan!" Puji Megi tersenyum manis
"Hm?"
"Baiklah akan ku jelaskan. Mengenai informasi yang kita cari, aku telah menemukannya."
Raga terdiam, ia menoleh kearah Megi dan menunggu penjelasan selanjutnya mengenai informasi tersebut.
"Tentang kultus yang selalu kerajaan buru. Sebenarnya mereka bukanlah ancaman yang besar untuk kita. Namun ada hal yang menjadi sebuah ancaman."
"Apa itu?"
"Pengikut Dewi Maya."
Raga tersentak mendengarnya. Apa yang Megi katakan merupakan sebuah informasi yang aneh menurut Raga.
Karena mau bagaimana pun, apa hal yang membuat pengikut Dewi Maya menjadi sebuah ancaman pada dunia?
"Raga, ini bukan hanya sekedar informasi konyol belaka. Apa yang kukatakan merupakan sebuah kebenaran." Megi nampak serius
"Lantas, apa peristiwa kehancuran ibukota Anika sebulan yang lalu merupakan ulah pengikut Dewi Maya?"
"Tidak. Itu bukan ulah mereka. Namun murni serangan langsung yang Dewa Kontrak berikan. Haraga, itu adalah iblis kuno kau tau?"
"Hm? Lalu, darimana bisa ancaman Dewi Maya ini?"
"Sudah kukatakan Raga, para pengikutnya. Mereka adalah mesin pembunuh yang Dewi Maya jadikan sebagai perantara."
"Perantara?"
"Di tengah melakukan penyelidikan, seorang Pendeta penghubung memberikan sebuah informasi padaku. Melalui perbincangan kepala pendeta dengan Sang Dewi, dia mengatakan jika Dewi Maya mengatakan soal kebangkitan."
"Lalu, hubungan dengan para pengikutnya?"
"Inilah letak permasalahan terbesar yang kukatakan sebagai ancaman. Melalui para pengikutnya, Dewi Maya menjadikan mereka mesin pembunuh secara tidak langsung, dengan dalih Pahlawan."
__ADS_1
Raga semakin bingung mendengarnya. Dia sama sekali tak mengerti mengapa bisa Dewi Maya melakukan hal tersebut, terlebih untuk tujuannya sendiri.
"Apa tujuannya?"
"Untuk membangkitkan yang Satu!" Jawab Megi serius
"Yang Satu?"
"Ya, Satu. Perwujudan dari Dewa pencipta semesta. Ini adalah asumsi, berdasarkan informasi yang diberikan, pendeta penghubung mengatakan jika Dewi Maya ingin membangkitkan Sang Satu. Dan setelah ku cari tahu, melalui artefak dan beberapa buku kuno, yang dimaksud satu adalah Elder!"
***
*Bruk!
Seorang pria berjubah putih jatuh tersungkur, ia dikelilingi oleh beberapa pria berjubah yang lainnya sembari membawa sebuah senjata.
"Sepertinya seorang tikus berani macam-macam di sini!" Ucap kepala pendeta berjalan mendekat
"Sialan! Tindakan kalian tak akan bertahan lama! Kami pasti akan menghentikan perbuatan-"
*Bugh!
Pria berjuba di tendang, ia terpental dengan segumpal darah segar keluar dari mulutnya tanpa henti.
"Menghentikan kau bilang? Memangnya siapa orang yang akan membantu mu melakukan itu?" Tanya kepala pendeta membawa sebuah belati
"Siapa? Kau pikir dengan membunuhku informasi ini tak akan bocor? Huh, kau salah!"
"Beraninya kau melakukan hal ini! Aku bersumpah kau akan di masukan kedalam neraka oleh Dewi!" Amuk kepala pendeta
"Dewi? Apa yang kau harapkan dari iblis berkedok Dewi itu Huh!" Balas pria berjubah putih bangkit menyerang
*Crack!!
Belum sempat ia menyentuh kepala pendeta, para bawahnya telah terlebih dahulu menahan serangan itu dengan menusuk beberapa belati ke tubuhnya.
"Kurang ajar! Manusia hina seperti dirimu, tak akan mengerti akan rencana suci sang Dewi!" Kepala pendeta menunjuk sambil menusuk belati di tangannya kearah pria berjubah putih
"Apa kau pikir memusnahkan manusia merupakan rencana suci...?"
*Bruk!
__ADS_1
Pria berjubah ambruk, ia tewas setelah beberapa tusukan bersemayam di tubuhnya saat ini.
"Tentu saja, demi kehidupan yang baru dan lebih baik!" Senyum kepala pendeta kearah tubuh pria berjubah putih