
Di hadapan sebuah makam yang masih baru, Willy berdiri diam sambil menatap lekat kearah batu nisan yang memperlihatkan nama pahlawan Rose yang beristirahat.
Sementara itu dari kejauhan Ratu Silvia berjalan mendekat sembari membawa bunga merah di tangannya, bunga yang begitu Rose sukai itu.
"Dia adalah wanita yang hebat." Puji Silvia berjalan mendekat
Willy memutar arah tubuhnya dan memberi salam, setelah itu berkata, "Hm, sangat hebat. Dia berani mengorbankan dirinya untuk kemanusiaan," jawab Willy
"Ngomong-ngomong, terimakasih karena pahlawan Anika telah datang kemari." Ucap Silvia menaruh bunga di makam tersebut
"Sudah seharusnya, apalagi kami berasal dari tempat yang sama, meski tidak saling mengenali." Ucap Willy
"Kejadian kemarin, sungguh benar-benar malapetaka untuk kerajaan Loni," ucap Silvia menatap sayu pada makam di hadapannya
"Yang Mulia tenang saja, aku dan Jack akan membantu mengurusnya." Ucap Willy meyakinkan
"Terimakasih, aku juga sudah menyebarkan seluruh pasukan untuk mencari orang tersebut." Jelas Silvia
Sementara itu Jack hanya memandang dari kejauhan, tatapan Jack begitu dingin saat ia tau Rose telah terbunuh malam kemarin.
Tanpa ada yang tau, sebenarnya Jack dan Rose merupakan teman dekat, keduanya saat itu tiba-tiba di panggil pada saat terjatuh di sebuah sungai yang dalam, pada saat Jack hendak menolong Rose.
__ADS_1
Tentu Jack menolong Rose karena perasaan suka pada wanita cantik itu, namun meski begitu perasaan itu tak kunjung Jack ucapkan dari mulutnya.
Rose sendiri sudah tau jika Jack menyukainya, ia sudah sering memberikan kode untuk mengatakan cintanya itu namun Jack sama sekali tidak peka akan hal itu.
Jack sendiri sebenarnya sangat ingin mengungkapkan perasaannya, namun sayang ia masih terlalu takut untuk mengatakan kalimat suka dari mulutnya.
Sementara itu Willy dan Ratu Silvia nampak berjalan kembali, keduanya telah selesai melakukan penghormatan pada makam Rose.
Willy berhenti sejenak di samping Jack, ia menepuk pundak Jack sambil mengatakan kalimat, "temui dia, jangan membuatnya kecewa..." Ucap Willy berlalu pergi
Jack mengerti dan segera melangkah perlahan menuju makam wanita yang begitu ia cintai itu, namun rasa cintanya itu belum pernah ia sampaikan secara langsung.
Jack berdiri diam di hadapan makam Rose, matanya hanya memandang nanar dengan mulut yang ia rapatkan kedalam, serta tangan yang ia kepalkan begitu kuat.
"Maafkan aku, Rose..." Lirih Jack dengan raut penuh penyesalan
"Sudah kukatakan waktu itu, ikutlah bersama ku tinggal di kerajaan Anika! Tapi kenapa kau malah menolaknya dan tinggal di kerajaan Loni? Apa kau masih marah padaku karena tidak bisa mengungkapkan perasaan ku?" Ucap Jack yang menangis tersedu-sedu
"Bangunlah Rose ... Aku mencintaimu, aku sudah mengatakannya sekarang, jadi kumohon kembali, aku berjanji tidak akan membuat mu kesal lagi." Sungguh ucapan itu keluar dari mulut pria yang sama sekali terlihat tidak memiliki sisi romantis itu
"Aku ... Aku benar-benar tidak bisa kehilangan mu Rose, kumohon Dewi Maya! Kumohon kembalikan dia untuk ku! Akan ku lakukan apapun selama ia bisa kembali pada ku!" Seru Jack dengan penuh penekanan
__ADS_1
Sang Dewi tak menjawab, selain awan hitam yang begitu pekat dan menurunkan hujan yang sangat lebat, bahkan alam juga tau bagaimana kesedihan seorang Jack saat ini.
"Maafkan Aku Rose..." Lirih Jack tersedu-sedu di hadapan batu nisan Rose
Hujan turun begitu lebat, namun hal itu sama sekali tak membuat Jack merasakannya, karena yang ia inginkan saat ini adalah Rose, ia ingin Rose kembali padanya.
Dari kejauhan Gina dapat melihat jelas bagaimana sedihnya Jack di makam itu, ia juga mengerti bagaimana perasaan Jack selama ini.
Sambil membawa payung Gina berjalan perlahan menuju arah Jack yang menangis tersedu-sedu tanpa henti sambil memeluk makam Rose.
Gina segera menjulurkan payung di tangannya ke atas kepala Jack agar tidak terkena hujan, namun membiarkan dirinya sendiri basah oleh hujan yang turun.
"Jack..." Panggil Gina yang sama sekali tak dihiraukan
"Ikhlaskan dia, Jack. Jangan membuat Rose merasa bersalah karena telah meninggalkan mu, lagipula ini diluar kendalinya?" Ucap Gina menenangkan
Gina yang berbicara seperti juga tak mampu menahan air matanya, tanpa ia inginkan air mata itu segera keluar yang menghangatkan wajah cantiknya.
Sementara itu dari balik ruangan Willy nampak menatap lekat pada dua orang yang tengah berada dalam guyuran hujan itu, Willy sendiri sebenarnya sedikit terkejut ketika mendengar berita kematian Rose.
Apalagi Rose merupakan pahlawan yang sudah di akui kekuatannya, ditambah dengan segala prestasi dalam berbagai pertarungan yang telah ia dapatkan.
__ADS_1
"Nampaknya dunia telah menunjukkan wajah aslinya sekarang..." Ucap Willy memandang langit mendung