
Dia terus menatap keluar jendela memandangi dedaunan dengan pandangannya yang kosong. Hari masih begitu pagi, embun masih saja asyik bertengger di dedaunan sampai menciptakan butir-butir air yang membasahi dedaunan. Sesekali dia menghembuskan nafas mendengus tanpa alasan tertentu. Rasa bosan dari hari ke hari makin menggorogoti perasaannya. Sayanganya, meski perasaannya mulai membaik, Ayahnya masih saja bersikeras agar dia tetap dirawat di rumah sakit untuk masa pemulihan.
Tok tok tok..
"Masuk.." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya yang masih sibuk menatap keluar jendela meski tidak ada objek tertentu yang dia fokuskan.
"Selamat pagi Tuan muda? Bagaimana keadaan anda hari ini??"
"Apa Ayahku sudah tiba??" Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya pada supir pribadi Ayahnya yang sekarang berdiri didepannya.
"Iya Tuan muda.." Jawab laki-laki paru baya itu
"Ck.. Sudah kubilang, jangan panggil aku Tuan muda..." Dengusnya sambil beranjak dari ranjang tempat tidurnya selama dia dirawat dirumah sakit tiga hari terakhir ini.
"Tuan muda mau kemana??"
"Pak Kasim, kan aku sudah bilang jangan panggil aku Tuan muda. Bapak kan lebih tua dari aku jadi panggil namaku saja.."
"I ituu.." Laki-laki paruh baya itu terdengar sungkan.
"Ck..." Keluhnya sambil meninggalkan pak Kasim berjalan dengan cepat.
Suasana pagi dirumah sakit masih cukup sepi dari keluarga penjenguk pasien, terlebih lagi dia yang dirawat dibagian kamar VIP dimana tidak sembarang orang yang bisa lalu lalang. Hanya ada beberapa perawat dan juga dokter yang berjalan disekitar lorong dari sekat-sekat kamar inap.
"Orangtua itu.. Beraninya dia memutuskan jalan cerita hidupku kedepannya..." Dengusnya sambil berjalan mempercepat langkahnya.
Tap tap tap.. Langkah kaki itu terdengar jelas dengan sandal cepak yang dia gunakan.
__ADS_1
"Ayahhh...." Panggilnya sambil mendorong pintu salah satu kamar rawat inap.
Laki-laki yang dia panggil Ayah barusan sampai terkejut dan nyaris melompat dari tempatnya.
"Kamu ini kenapa sampai mendobrak pintu seperti itu???" Tegurnya dengan nada suara yang berusaha dia tekan sekecil mungkin.
"Apa maksud Ayah kalau aku harus tinggal dengan perempuan?? Apa Ayah ingin menodai kesucian anakmu ini????" Tanyanya dengan nada yang tinggi.
"Sttt jangan ribut-ribut.. Nanti kakakmu terbangun..."
Dia mengarahkan pandangannya pada laki-laki yang sedang berbaring di ranjang pasien dengan oxyflow yang menempel dihidungnya karena kebutuhan oksigennya harus dibantu oleh alat untuk tetap bernafas dengan baik dalam masa komanya.
"Bagus dong.. Bukannya dia memang harusnya dibangunkan???" Katanya santai.
"Ah iya ya.." Gumam pak Randi, Ayah dari laki-laki yang baru saja mendobrak pintu dan berteriak dengan lantang itu, juga Ayah dari laki-laki yang sedang berbaring tanpa sadarkan diri.
"Tahu dari mana??"
"Nara.."
"Berhenti selalu menyebut namanya. Dia Ibumu.."
"Dibandingkan Ibu, dia lebih terlihat seperti kakakku.."
"Dzakii...."
"Haisss.. Aku kesini bukannya untuk ngebahas istri Ayah. Aku kesini untuk..."
__ADS_1
"Nak..." Randi memotong perkataan putra bungsunya. "Dia sudah tidak punya keluarga lagi, kita adalah satu-satunya yang bisa membantunya, dan lagi ini semua terjadi karena kelalaian kita.."
"Tapi kenapa aku Yah?? Kenapa dia tidak tinggal dengan kak Danish saja??"
"Kamu kan lihat sendiri, kakakmu masih belum sadar sampai sekarang dan lagi kakakmu itu sudah punya tunangan, bagaimana bisa dia tinggal dengan perempuan di rumahnya.."
"Apa aku harus punya tunangan juga biar perempuan itu tidak tinggal sama aku..."
"Bukannya begitu.."
"Kalau begitu dia tinggal sama Ayah saja.."
"Dzaki, kamu tahu kan Ayah tidak bisa menetap lama di suatu daerah karena pekerjaan Ayah. Bagaimana Ayah harus membawanya kemana-kemana? Itu akan menganggu pendidikannya.
"Kalau begitu belikan saja dia rumah sendiri.."
"Kamu tahu kan kalau dia lupa ingatan, dia tidak mengingat apapun dan hanya kita orang yang dia kenal sekarang.."
"Aku menolak.."
"Dzaki.."
"Gak, pokoknya aku menolak..."
.
.
__ADS_1