The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 26


__ADS_3

"HUAAAAA....." Dzaki reflesks ikut berteriak. Matanya yang sedari tadi sayu karena masih menahan ngantuk seketika terbelalak karena terkejut dengan teriakan Hana.


Astaga.. Aku mengingat semua yang terjadi semalam, tapi kenapa aku melupakan kalau bocah kecil ini tinggal bersamaku sekarang..


"Kamu ini kenapa berteriak kencang sekali, membuatku kaget saja..." Tegur Dzaki sedikit kesal sambil berjalan menuju meja dimana segelas air tergeletak disana.


"Kamu yang ke kenapa????" Hana dengan nada suaranya yang semakin meninggi dan gugup terus-terus membelakangi Dzaki sembari menutup matanya. "Kenapa keluar kamar tidak pake baju dan celana yang pantasss....."


Dia bilang apa barusan??? Kesadarannya yang melayang-layang berusaha dia tangkap kembali dan mengumpulkannya untuk memahami perkataan Hana.


Tunggu... Matanya semakin terbelalak, menatap kebawah dan...


"Kenapa kamu gak ngomong dari tadi...." Dzaki berusaha menutupi dirinya dengan telapak tangan yang tidak seberapa luasnya itu dibandingkan tubuhnya yang terpampang nyata tanpa penutup.


Pagi ini Dzaki keluar dari kamar dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali setelah tertidur semalam, dan hanya menggunakan celana boxer setengah paha sembari bertelanjang dada yang membuat Hana sangat terkejut melihatnya.


Hana terus-terusan menutupi wajahnya yang memerah dan berusaha menghapus ingatannya tentang apa yang  baru saja dia lihat. Wajah Dzaki pun tidak kalah memerah menahan malu mengingat Hana sudah melihat bagian tubuhnya yang bahkan Myesha perempuan yang bersamanya sedari kecil belum pernah melihatnya.

__ADS_1


"Tutup mataamu.. Jangan lihat aku..."


"Siapa juga yang mau melihatmu.. Cepat pakai baju dan celanamuu..." Teriak Hana masih membelakangi Dzaki.


Dzaki perlahan mundur, masih berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Jangan berbalikk...."


"Haahh... Siapa berbalik.. Kamu bayarpun aku tidak akan berbalikk...."


"Tidak akan...."


Dzaki mempercepat langkahnya berbalik dan berlari kecil menuju kamarnya.


"Laki-laki gilaa..." Kecam Hana.


Perlahan Hana menurunkan tangannya, wajahnya terasa panas. Ingatan mengenai apa yang baru saja dia lihat berusaha Hana hapus dengan susah payah, namun bukannya hilang, lekukan tubuh Dzaki dan otot perut yang berbentuk kotak-kotak itu semakin jelas diingatannya. "Arghhh Hana, kenapa pikiranmu menjadi nakal  begini??" Hana menepuk-nepuk pelan kepalanya. "Ah apa sebelum lupa ingatan otakku memang mesum seperti ini yang terus-terusan membayangkan perut.. Arghhhh.." Hana kesal pada diri sendiri. Perut sixpack Dzaki yang dilihatnya tidak lebih dari tiga detik itu cukup mmenghipnotisnya dan membuatnya terus terbayang-bayang.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Hana, hufftt tenang.." Menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, Hana berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Ck.. Dia juga kenapa bodoh sekali sih?? Bisa-bisanya dia keluar tidak menggunakan baju.." Dengus Hana kesal.


Suasana pagi dihari pertama mereka tinggal berdua, gempar dengan kejadian yang sangat memalukan bagi keduanya. Hana terus mendengus kesal mengingat Dzaki yang menurutnya sudah gila karena keluar tanpa menggunakan baju sedang Dzaki.. Ah harusnya dia sangat malu melebihi Hana bukan??


.


.


.


Brakk....


Dzaki setengah membanting pintu kamarnya, berdiri mematung bersandar dibalik pintu.


"Apa dia melihatnya??" Dzaki kembali menunduk melihat tubuhnya yang benar-benar terpampang nyata. "Aisshhh..." Rambut yang tidak bersalahpun menjadi sasaran kekesalan Dzaki, dijambak dan di ucek-ucek hingga berantakan tak karuan. "Dia pasti melihat semuanya.. Ah asetku yang berharganya.."


Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Wajahnya semakin memerah setiap membayangkan bagaimana Hana melihatnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2