The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 33


__ADS_3

Entah ada apa dengan sepatu atau lantai yang sedang dia pijaki, berjalan sembari menunduk dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


Myesha berjalan menunduk menyusuri koridor bagian VIP di Rumah sakit tempat Danish dirawat. Keranjang buah bertengger ditangannya.


"Hufftt..." Menghembuskan nafas kecil dan berusaha mengubah ekspresinya menjadi lebih baik.


"Selamat siang kak..." Sapa Myesha dari balik pintu, berjalan menghampiri Danish yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


Mendengar sapaan Myesha, segala aktifitas Danish hentikan dan beralih fokus pada wanita cantik yang menjadi tunangannya itu.


"Siang Yesh.." Danish memberi senyuman manis. "Sudah pulang sekolah??"


Myesha hanya tersenyum mengiyakan pertanyaan Danish.


"Bagaimana keadaan kakak?"


"Yahh lebih baik dari hari kemarin.."


"Mau aku kupaskan buah?"


Danish mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.


Hana mengambil satu buah apel, membersihkan dan mengupasnya, masih berusaha memperlihatkan ekspresinya yang baik-baik saja meski hati dan pikirannya sedang berkecamuk.

__ADS_1


"Auu..." Sontak Myesha terkejut, jarinya tergores dan cairan merah itu perlahan muncul dari balik kulitnya yang putih bersih.


"Myeshaa... Kamu tidak apa-apa.." Danish yang terkejut spontan meraih tangan Myesha, memasukkan kedalam mulutnya untuk menghentikan pendarahannya.


Myesha sedikit terkejut, meski statusnya sekarang adalah tunangan Danish, namun hal yang Danish lakukan saat ini bukanlah hal yang lumrah baginya, mengingat pertunangan itu menyimpan sesuatu yang hanya diketahui keduanya.


.


.


.


Pandangan Myesha tidak lepas dari Danish yang begitu mengkhawatirkannya hanya karena luka kecil yang disebabkan oleh goresan pisau saat mengupas buah. Ini bukan hal yang lumrah terjadi diantara mereka meski status mereka saat ini adalah sebagai tunangan. Namun status mereka yang resmi hanya dimata kedua keluarga, tidak untuk Myesha juga untuk Danish.


"Kamu ini kenapa ceroboh sekali??"


"A aku.. Aku hanya tidak sengaja. Ini juga gak papa kok.."


"Apanya yang gak papa, ini berdarah Yesh.."


"Cuman luka kecil saja.." Myesha menarik tangannya kembali.


"Ada apalagi?"

__ADS_1


Wajar saja Danish curiga, tidak biasanya Myesha ceroboh seperti ini jika tidak ada hal yang mengganggu pikirannya.


"Tidak ada apa-apa. Memangnya mau ada apa?" Myesha menyembunyikan segala kerusuhan yang ada dalam hatinya.


"Jangan bohong sama aku Yesh, aku bukan orang yang baru mengenalmu kemarin sampai bisa kamu bohongi.."


"Beneran kak, gak ada apa-apa kok. Aku cuman kelelahan saja tadi, makanya tanganku jadi gak sengaja kegores.."


"Kamu gak mau cerita sama aku??" Mata Danish tidak hentinya menatap Myesha dengan sedikit tekanan agar Myesha mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.


Myesha hanya tersenyum simpul. Ya tidak ada hal yang bisa dia sembunyikan dari Danish, sekuat apapun dia menyembunyikannya, Danish pasti akan tahu.


"Tentang Dzaki lagi??" Danish menebak.


Myesha sedikit terkejut.


"Ah tebakanku benar ya?" Melihat reaksi Myesha, Danish yakin jika hal yang membuat Myesha kepikiran saat ini adalah adiknya.


Myesha hanya tertunduk dengan senyumnya yang perlahan pudar.


"Dzaki kenapa lagi??"


Walau tidak ada perasaan khusus yang dimiliki Danish untuk Myesha, namun Danish selalu mengkhawatirkan Myesha, gadis kecil yang tumbuh bersamanya sedari kecil. Myesha sudah seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


"Apa aku masih boleh cemburu??"


Dia cemburu? Apa Dzaki sedang dekat dengan perempuan lain sekarang? Rasanya tidak mungkin anak nakal itu bisa melupakan Myesha dalam waktu secepat ini.


__ADS_2