The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 21


__ADS_3

"Berhenti selalu memikirkan hal-hal yang seperti itu. Aku senang seperti ini, membuatku merasakan seperti seorang Ibu yang sesungguhnya.." Senyum manis Nara yang menenangkan perasaan Randi.


"Kedepannya, aku akan memberimu hari-hari yang bahagia.." Ucap Randi, meski ia tidak tahu kapan waktu itu tiba, namun dia ingin kata-kata itu membuat Nara bahagia.


"Sungguh??" Tangan Nara melingkar manja di leher suaminya.


"Tentu.." Randi meraih tengkuk istrinya, memberinya ciuman hangat yang dalam tanpa memberi Nara waktu untuk bernafas.


Dering telfon Randi menghentikan ciuman manis Randi yang mendarat di bibir istrinya.


"Ah sebentar..." Randi meraih ponselnya. Nara masih bergelantungan disisi suaminya meringkuk dengan manja.


"Kenapa??" Tanya Nara menatap dalam suaminya setelah menyelesaikan pembicaraan melalui telfon itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya laporan perusahaan saja. Sepertinya negosiator kita berhasil meraih kesepakatan dengan klien, kita bisa tinggal disini lebih lama.." Randi membelai rambut istrinya, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik nan putih bersih milik Nara.


Ah iya aku lupa.."


Beberapa hal yang ingin disampaikan Nara tadi sempat terlupakan akibat dari ciuman suaminya yang selalu membuatnya terbuai.


"Tentang??"


"Aku rasa Hana memiliki trauma.."


"Dzaki dan Hana pulang menggunakan Bis hari ini. Dzaki bilang kalau Hana memberontak dalam mobil dan tidak ingin pulang menggunakan mobil Dzaki. Awalnya aku kira Dzaki sengaja membuat Hana takut agar Hana tidak ingin tinggal bersama Dzaki. Kamu tahu kan, bagaimana Dzaki sangat menolak untuk tinggal bersama Hana. Tapi setelah aku bertanya pada Hana... Sepertinya dia mengalami trauma untuk masuk kedalam mobil, dia seperti mengingat sesuatu yang menyeramkan saat berada dalam mobil. Aku rasa itu hal yang mungkin saja terjadi, meski dia lupa ingatan, memori Hana pasti tersembunyi dalam otaknya yang membuat ingatannya muncul sekilas jika terpacu.." Jelas Nara panjang lebar.


"Jadi maksud kamu, ingatan Hana terpacu tiap berada dalam mobil??"

__ADS_1


"Mungkin seperti itu, kecelakaan itu memberinya memori yang buruk dan itu terjadi didalam mobil" Randi mengusap dagunya yang sedikit kasar dengan jenggotnya yang baru saja dicukur tidak sampai habis itu.


"Aku rasa untuk sementara sebaiknya Hana kemana-mana tidak menggunakan mobil.." Saran Nara.


"Lalu? Apa dia harus naik sepeda?? Aku sudah mengurus pendidikan Hana dan aku menempatkannya disekolah yang sama dengan Dzaki. Sekolah itu tidak cukup jauh dari sini tapi tetap saja akan membuat Hana kesusahan jika harus bersepeda sayang."


"Hana masih bisa naik Bis. Dzaki bilang mereka tiba dirumah menggunakan Bis.."


"Tapi aku tidak bisa membiarkannya naik Bis sendirian, kesehatannya belum pulih dan ingatannya juga bermasalah, dia bisa ditipu oleh oranglain dan lagi kamu lihat, Hana itu seperti anak kecil dia bisa saja diculik..."


"Bagaimana kalau kita bujuk Dzaki untuk berangkat naik Bis juga bersama Hana.."


"Sayang.. Idemu buruk sekali. Apa kamu pikir Dzaki akan menuruti kita, kamu tahukan Dzaki itu seperti apa.." "

__ADS_1


Hem.. Biar aku yang mencoba membujuknya, sesekali kita harus menipu Dzaki agar mau menurut.." Nara mengepalkan jari-jarinya, bertekad untuk membujuk Dzaki meski dia tahu itu bukan hal yang mudah.


"Semoga bisa, aku benar-benar sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Diagnosa dokter tentang Dzaki juga masih saja menganggu pikiranku.." Kata Randi kembali pusing


__ADS_2