
Randi masih berusaha membujuk Dzakii agar mau tinggal bersama dengan perempuan yang terlibat kecelakaan bersamanya.
"Pokoknya aku gak mau.." Tegas Dzakii.
"Dzaki, Ayah juga tidak mungkin menyuruhnya tinggal denganmu kalau Ayah punya pilihan lain.."
"Ayah gak takut kalau aku tinggal sama dia?? Aku laki-laki normal Yah, aku bisa aja ngelakuin sesuatu sama dia.."
"Lakukan saja kalau bisa, Ayah bisa memonitoring tempat tinggalmu. Kamu tidak lupa kan kalau Ayah pernah memasang CCTV disana.."
"Ya aku matikan.."
"Memang kamu pikir Ayahmu ini bodoh..."
Randi sebenarnya tidak bermaksud memasang CCTV untuk mengawasi putranya, dia percaya putranya tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik. CCTV yang dia pasang di rumah masing-masing putranya tidak lain agar bisa melihat putra-putranya ketika dia sedang rindu dan tidak bisa langsung datang menemui mereka.
"Ck Ayahhh..."
"Nak, kamu itu Dzaki putra Ayah yang Ayah besarkan seperti anak sendiri..."
"Ayahh.. Ayah pikir aku ini si Malika kedelai hitam yang di besarkan seperti anak sendiri.. Aku kan memang anak Ayah.."
__ADS_1
"Ya kalau kamu sadar kalau kamu anak Ayah, harusnya kamu turutin kemauan Ayah dong..."
Dzakii mengalihkan wajahnya dari pandangan Ayahnya, rasanya sia-sia saja berdebat dengan Ayahnya.
Tok tok tok...
Ayah dan anak itu spontan berbalik mendengar pintu diketuk.
"Kalian kenapa??" Tanya Nara terkejut melihat Suami dan anak tirinya memasang ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.
"Nara.. Aku boleh minta tolong.." Dzaki dengan cepat menghampiri Nara.
"Sudahlah sayang, kamu tidak seharusnya menegur Dzaki sampai seperti itu, wajar saja kalau dia belum terbiasa memanggilku Ibu.." Bela Nara.
"Tapi.."
Nara memberi isyarat pada suaminya dengan melambai-lambaikan tangannya agar berhenti membahas masalah panggilan Dzakii terhadapnya.
"Hem.. Kamu kenapa??" Tanya Nara sambil membelai kepala Dzakii dengan penuh kasih sayang.
"Ck.. Kamu seperti ini sudah merasa tua sekali?? Kamu cuman beberapa tahun lebih tua dariku Nara.." Gerutu Dzaki melihat Nara yang memperlakukannya seperti anak kecil.
__ADS_1
Tokk...
"Aduhh..."
Nara spontan memberi pukulan kecil pada Dzaki.
"Kamu itu putraku, jadi wajar saja aku seperti ini. Mulai sekarang panggil aku Ibu, aku gak akan ngebela kamu lagi kalau Ayahmu menegur karena memanggil namaku.."
"Ck, kenapa labil sekali sih.." Keluh Dzakii.
"Harusnya dari kemarin-kemarin kamu seperti itu sayang.." Kata Randi terkekeh melihat istrinya menjadi galak namun tetap terlihat imut di matanya.
Aura Nara, seorang perempuan yang usianya hanya tua dua tahun dari Danish. Dia menikah dengan Randi baru setahun yang lalu. Meski usianya terpaut jauh dari Randi, itu tidak membuat perasaan cintanya pada laki-laki yang sudah dia kenal 3 tahun yang lalu itu memudar. Usia Nara yang tidak berbeda jauh dari Dzaki dan Danish itu yang membuat Dzaki kesulitan memanggil Nara dengan panggilan Ibu. Dibanding melihat Nara sebagai Ibu, Dzakii lebih melihat Nara sebagai kakak perempuannya.
Sebelumnya Nara adalah guru Les yang dipilih Randi untuk membantu Danish belajar saat akan menghadapi ujian Nasionalnya sewaktu SMA. Nara masih seorang mahasiswi waktu itu, namun kecerdasannya membuat Randi mempercayakan Danish untuk diajar olehnya.
Entah bagaimana dan apa saja yang telah terjadi. Awalnya Randi hanya menghubungi Nara untuk mengetahui bagaimana perkembangan Danish dengan pelajarannya. Lama kelamaan Randi jadi sesekali bercerita tentang kesibukannya bekerja sampai tidak bisa memberikan waktunya pada kedua putranya. Randi juga tidak semata-mata bercerita hal seperti itu pada Nara jika Nara tidak memberi sinyal bahwa Randi boleh membahas hal seperti itu terhadapnya. Semakin hari Nara dan Randi semakin akrab, sesekali keluar makan berdua untuk sekedar ucapan terimakasih Randi pada Nara dalam membantu Danish sampai akhirnya Randi menyadari bahwa bukan sekedar merasa tertolong oleh kehadiran Nara yang membantunya menjaga Danish, tapi perasaan nyaman dan bahagia mulai muncul di hatinya saat bersama Nara.
Jelas, Randi awalnya ragu-ragu bahkan sangat ragu untuk mengungkapkan perasaannya pada Nara mengingat Nara dengan usianya sangat terpaut jauh darinya. Randi bahkan sempat mengurungkan niatnya untuk mengatakan isi hatinya pada Nara, namun karena perasaannya yang semakin hari semakin besar dan Nara yang selalu merespon tiap ia bercerita membuatnya kembali terdorong untuk mengatakan perasaannya
.
__ADS_1