
Hana menyentuh beberapa perabot dirumah Dzaki, alih-alih niat membersihkan Hana malah dibuat terheran-heran dengan keadaan rumah Dzaki yang tetap bersih bebas dari debu. Hana tidak melihat ada oranglain dirumah Dzaki seperti seorang pembantu rumah tangga misalnya, itu membuatnya menjadi bingung sendiri mengapa rumah ini tetap bersih sedang dia tahu, Dzaki sendiri tidak berada di rumahnya selama tiga hari terakhir ini.
Hana mengurungkan niatnya untuk membersihkan dan beralih menuju dapur. Tidak banyak bahan makanan yang bisa diolah, mungkin karena sebelumnya rumah Dzaki dalam keadaan kosong sehingga tidak ada persediaan bahan makanan lebih dirumahnya, semalam saja pak Randy hanya menelfon dilevery order untuk makan malam mereka.
"Dzaki sarapan ala Indonesia atau barat ya??" Gumam Hana sambil memandangi beras dan roti bergantian.
Karena persediaan stok makanan yang tidak banyak membuat Hana tidak bisa memasak lebih beragam untuk sarapan mereka pagi ini. Hana hanya menyiapkan nasi goreng juga omelet danĀ menyiapkan roti beserta selai dan juga susu. "Biar Dzaki yang memilih dia akan memakan apa pagi ini" Pikir Hana.
.
__ADS_1
.
.
Cahaya mentari pagi perlahan-perlahan menerobos masuk kedalam kamar Dzaki melalui jendela yang lupa dia tutup semalam. Begitu banyak beban pikiran yang mengganggu Dzaki, membuatnya sulit tertidur dan memilih menghabiskan waktu membersihkan rumahnya untuk mengabaikan pikiran-pikiran yang tidak jelas itu. Alhasil karena kelelahan, Dzaki sampai lupa menutup dan mengecek ulang keadaan pintu ataupun jendela rumahnya sebelum tertidur selepas dia membersihkan tubuhnya.
"Hm.. Bau apa ini?? Harum.." Meski matanya masih terpejam, bau enak sebuah masakan sudah tertangkap oleh indra penciumannya. "Siapa yang masak pagi-pagi begini??" Matanya masih sangat berat dan rasa kantuk masih saja menggodanya untuk tetap berbaring.
"Apa Nara tidak jadi pergi semalam??" Gumam Dzaki mengira-ngira sambil berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Semalam Ayah dan Ibu tirinya pamit. Rencana awal Randi dan Nara untuk menginap dirumah Dzaki dibatalkan. Randi sudah merasa lebih lega untuk meninggalkan Dzaki dan Hana berdua mengingat Dzaki sudah menyatakan dirinya siap untuk menjaga Hana meski melalui tipuan darinya.
Dzaki yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya terus-terusan berjalan ke arah aroma yang sangat mengundang selera sambil mengucek-ngucek matanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih saja belum bisa ia atasi.
"Nara kamu tidak jadi pulang semalam??" Dzaki berjalan ke arah dapur sedikit sempoyongan dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.
"Ah tidak, Mami sudah pergi.." Hana menjawab pertanyaan Dzaki yang sepertinya belum sepenuhnya sadar kalau Nara sudah tidak dirumhanya lagi. Hana dengan pelan-pelan menyiapkan piring dan sendok untuk sarapan pagi ini "Aku mendapat pesan dari Mami kalau dia pergi ke.. HUAAAAAA......" Hana spontan berteriak dan berbalik sembari menutup matanya.
"HUAAAAA....." Dzaki reflesks ikut berteriak. Matanya yang sedari tadi sayu karena masih menahan ngantuk seketika terbelalak karena terkejut dengan teriakan Hana.
__ADS_1
Astaga.. Aku mengingat semua yang terjadi semalam, tapi kenapa aku melupakan kalau bocah kecil ini tinggal bersamaku sekarang..
"Kamu ini kenapa berteriak kencang sekali, membuatku kaget saja..." Tegur Dzaki sedikit kesal sambil berjalan menuju meja dimana segelas air tergeletak disana.