The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 9


__ADS_3

"Aku memang suka dendam, suka gak bisa terima sama hal yang sebelumnya menjadi milikku tapi harus berbagi dengan oranglain.. Ah bukan berbagi, tapi menjadi milik oranglain secara utuh.." Dzaki seperti sedang meluapkan perasaannya, lirikan matanya masih tidak lepas dari sosok Myesha yang tertunduk mendengar jawaban Dzaki. "Ck.. Aku ini ngomong apa sih? Kenapa bisa kelepasan?? Hadehh udah setahun tapi masih saja ini mulut gak bisa dikontrol.." Batinnya kesal.


"Maksudmu? Kenapa ngomongmu melenceng sekali??" Nara sampai kebingungan mendengar jawaban Dzaki.


"I itu.. Ma maksudku tentang rumahku.. Awalnya itu adalah rumahku seutuhnya dan sekarang harus berbagi dengan orang lain.." Jawab Dzaki ngeles.


Myesha yang sedari tadi menunduk mendengar semua perkataan Dzaki yang seolah diarahkan padanya secara tidak langsung, mengangkat kepalanya menatap Dzaki.


"Ber berbagi rumah?? Dengan siapa??" Tanya Myesha dengan tatapannya yang kebingungan bercampur penasaran.


"Permisi.. Bapak memanggil saya??"


Spontan semua mata tertuju pada sumber suara.


"Dia orangnya?" Gumam Dzaki menatap wanita berkulit putih yang entah sejak kapan berdiri dipintu kamar rawat inap Danish.


.

__ADS_1


.


.


.


Bibir kecilnya dibuat maju kedepan memperlihatkan pada dunia betapa imutnya dia. Dedaunan diluar terus-terusan ditatapnya meski itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Tidak ada hal yang bisa dia fokuskan, hanya perasaan penasaran yang terkadang berbaur dengan rasa bosan yang menghampiri.


Tok tok..


Hana, gadis yang sedari tadi duduk sendiri dikamar rawat inapnya itu menoleh.


"Bagaimana kesehatan anda pagi ini Nona?" Pak Kasim begitu ramah menyapa gadis yang bahkan dirinya sendiri pun dia tidak ingat.


"Ah, mulai membaik.." Jawabnya tersenyum ramah.


"Nona dipanggil oleh pak Randi untuk bertemu di kamar ujung.."

__ADS_1


"A aku??" Dia menunjuk dirinya sendiri sembari membulatkan matanya yang dasarnya memang sudah bulat.


"Iya Nona.."


"Ta tapi kenapa??" Tanyanya ragu-ragu.


"Saya juga tidak tahu, mungkin hari ini Nona sudah boleh keluar dari Rumah sakit sehingga bapak akan memberi tahu dimana Nona akan tinggal.."


Dia terdiam sejenak, seperti ada perasaan risau untuk bertemu dengan laki-laki paruh baya yang baru dia temui 3 hari yang lalu setelah sadar dari kecelakaan yang menimpanya.


"Mari Nona, pak Randi sudah menunggu"


Perlahan Hana beranjak dari ranjangnya yang sudah dia tempati selama tiga hari belakangan ini. Baju pasien yang berukuran besar membuat tubuhnya yang kecil semakin tenggelam.


Najla Hana Zahirah, gadis dengan ukuran tubuh yang mini. Matanya bulat dan bibirnya yang mendukung tubuh mininya untuk terlihat semakin imut, rambut ikalnya yang cukup panjang terurai begitu saja.


Kecelakaan tiga hari yang lalu membuat kesehatannya terganggu dan yang gangguan yang terparah dari kesehatannya yaitu luka pada kepalanya yang membuatnya menjadi tidak bisa mengingat sesuatu. Jangankan mengingat hal lain, orangtua bahkan dirinya sendiripun dia tidak ingat. 'Najla Hana Zahirah' adalah satu-satunya peninggalan tersisa dari kehidupan sebelumnya, dia yang sekarang memulai kehidupan barunya dengan semua hal yang baru akan dia pelajari. Karena luka pada kepalanya itu juga yang membuat Hana tidak mengingat bahwa nyawa orangtuanya telah direnggut dalam kecelakaan itu.

__ADS_1


POV Hana.


Jari-jariku kuremas satu sama lain sembari berjalan menunduk mengikuti pak Kasim dari belakang menuju kamar yang dimaksud. Aku takut, khawatir dan perasaan bercampur aduk yang tidak bisa aku jelaskan. "Hufftt.. Hana semua akan baik-baik saja" Aku mencoba menguatkan diriku.


__ADS_2