
"Sudah sudah.. Dzaki, dokter bilang kamu sudah boleh pulang hari ini. Juga Hana.." Randi mengalihkan pandangannya dari Dzaki dan menatap gadis bertubuh mungil itu yang hanya berdiri diam disamping Nara sedari tadi. "Kamu juga sudah boleh pulang.." Hana hanya tersenyum menanggapi perkataan Randi. "Kalian belum makan kan??"
"Ya belum, tadi Nar.. Ah maksudku Ibu datang kesini hanya membawa makanan untuk Ayah saja.."
"Ya sudah, di sebelah Rumah sakit ada Restoran. Kamu makan dulu disana bersama Hana dan tunggu Ayah disana.."
Dzaki hanya mengangguk mengiyakan permintaan Ayahnya begitupun Hana.
"Kak.. Cepatlah sehat, banyak hal yang ingin aku lakukan bersama kakak..." Dzaki memegang erat tangan Danish. Danish bisa melihat dengan jelas bagaimana adiknya itu sangat mengharapkan kesembuhannya.
"Iya.." Jawan Danish tersenyum dengan suara yang masih tertatih-tatih.
"Kalau kakak cepat sembuh setidaknya ada yang bisa membantuku untuk balas menyerang Ayah.." Dzaki melirik tajam Ayahnya. Danish tertawa kecil meihat sorot mata adiknya yang seperti ingin menerkam Ayah mereka itu. "Ibu muda kita juga sudah tidak berpihak padaku kak.." Keluh Dzaki. Perlahan Danish mengarahkan pandangannya pada Nara. Ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan melihat perempuan yang sudah menjadi Ibunya itu sedikit terkekeh melihat tingkah Dzaki yang terlihat kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Dzaki... Berhenti menganggu kakakmu dengan kata-katamu yang tidak jelas itu.." Randi bersuara, sepertinya putra bungsunya itu tidak akan beranjak jika tidak ditegur.
"Pulanglah dulu, aku akan istirahat dengan baik biar bisa sembuh dengan cepat dan membelamu seperti biasanya.." Meski nafasnya masih tersenggal-senggal, Danish berusaha menyelesaikan kata-katanya untuk menenangkan adiknya itu.
Dzaki memeluk Danish perlahan. "Aku rindu sama kakak..."
"Kenapa kalian drama sekali sih?? Setiap hari kan juga kamu melihat kakakmu.." Randi nyaris habis kesabaran.
"Ayah ini kenapa?? Aku hanya merengek sama kakak, kenapa sewot begitu??" Balas Dzaki dengan kesal.
Dzaki beranjak mundur dari sisi Danish. Diliriknya Myesha yang masih bertengger di sisi sebelah Danish. "Kakak ipar, tolong jaga kakakku baik-baik.." Sorot mata Dzaki yang tajam, tidak bisa diartikan membuat Myesha kebingungan sendiri dibuatnya.
"Dia sedang marah padaku???" Seperti itu dipikiran Myesha.
__ADS_1
Myesha hanya mengangguk mengiyakan permintaan Dzaki.
Perlahan Dzaki beranjak keluar dari ruangan disusul Hana setelah meminta izin undur diri pada semua yang berada dalam ruangan itu, dan lagi Hana merasa ada pandangan tidak senang dari Myesha yang diarahkan padanya.
.
.
.
.
Jam sarapan memang sudah berlalu dan waktu makan siang belum saatnya namun itu bukan menjadi patokan yang bisa membuat sebuah restoran yang bersebelahan dengan Rumah sakit swasta sepi pengunjung, penikmat kuliner ataupun orang-orang yang sedang sekedar mengisi perut di selisih waktu makan itu ramai berdatangan. Semuanya sibuk dengan perbincangan masing-masing, saling melempar tawa sambil menunggu pesanan datang atau saing bertukar pikiran sembari mencicipi makanan yang tersedia juga yang duduk sendiri namun tetap asyik menikmati menu yang dihidangkan. Semua tampak riuh kecuali meja yang sedang ditempati Hana dan Dzaki. Keduanya hanya terdiam tanpa satu katapun.
__ADS_1
Hana melirik Dzaki sejenak, laki-laki yang duduk didepannya, sama sekali tidak bergeming.