The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 27


__ADS_3

Brakk....


Dzaki setengah membanting pintu kamarnya, berdiri mematung bersandar dibalik pintu.


"Apa dia melihatnya??" Dzaki kembali menunduk melihat tubuhnya yang benar-benar terpampang nyata. "Aisshhh..." Rambut yang tidak bersalahpun menjadi sasaran kekesalan Dzaki, dijambak dan di ucek-ucek hingga berantakan tak karuan. "Dia pasti melihat semuanya.. Ah asetku yang berharganya.."


Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Wajahnya semakin memerah setiap membayangkan bagaimana Hana melihatnya tadi.


"Apa yang dia pikirkan tentangku sekarang?? Aisshhh... Ini memalukan sekali..." Lagi-lagi Dzaki menjambak rambutnya mengekspresikan kekesalan dan rasa malunya.


Dzaki melirik cermin berukuran besar setinggi tubuhnya. Dia berjalan cepat menghampiri cermin itu mencoba mengecek seperti apa sudut pandang Hana saat melihatnya tadi.


"Ahh tidak tidaakk...." Belum Dzaki memperhatikan tubuhnya dengan saksama dicermin, dia sudah lebih dulu mundur. "Ini benar-benar terlihat jelas.. Arrgghhh bagaimana aku menghadapinya sekarang???"


Dzaki tidak bisa berfikir jernih, rasa malu dan kesal terus-terusan bermain disekitarnya. Ingin sekali rasanya dia melepas wajahnya itu dan memasukkannya dalam kantong plastik kemudian membuangnya jauh-jauh.


"Tenang Dzaki tenangg... Kamu harus tenang biar bisa ngambil keputusan, harus seperti apa saat berhadapan dengan anak kecil itu.." Tangannya dikepal, seolah siap bertarung melawan sesuatu.


.


.

__ADS_1


.


.


Dzaki jalan mengendap-endap, mengintip Hana dari balik tembok untuk mengetahui sedang apa dia sekarang. Yah, dia ingin terlihat santai saja didepan Hana untuk memecahkan kecanggungan, namun itu jelas bukan hal yang mudah dia lakukan.


"Eheemm..." Dzaki berdehem mencoba memberi tahu Hana tentang keberadaannya yang akan tiba di meja makan dan bergabung dengan Hana.


Hana menoleh, rasa gugup menghampirinya dan lagi bayangan tubuh Dzaki kembali bermain diingatannya.


"Gak gak.. Lupakan lupakann..." Meski Hana tahu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak akan membuatnya lupa, tapi tetap saja dia melakukannya.


Dzaki menarik kursi didepan Hana. Ia mencoba memasang wajah datar, berkelakuan seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.


"Kenapa belum makan?" Dzaki memecah perhatian Hana yang sedari tadi tidak konsen.


"I itu.. Aku lagi nungguin kamu.."


"Ck.. Makan ya tinggal makan.. Gak usah pake nungguin aku segala.."


Apa dia marah padaku?? Hana menatap Dzaki.

__ADS_1


"Kenapa??" Tatapan Hana yang tertangkap oleh Dzaki membuatnya bertanya.


"Ah.. Ti tidak.." Hana mengalihkan pandangannya. "A aku tidak tahu kamu biasanya sarapan dengan apa, jadi aku nyiapin nasi dan roti"


Dzaki meraih piring dan mengambil beberapa helai roti.


"Aku makan apa saja yang ada, asal bukan junk food dan makanan yang dibeli jadi, kecuali kalau terpaksa.." Jelas Dzaki sembari menyiapkan selai di rotinya.


Hana kembali curi-curi memandang Dzaki.


Dia terlihat biasa saja? Apa dia tidak mempermasalahkan yang terjadi barusan??


Dzaki berhasil membuat Hana berfikiran sesuai keinginannya, seolah tidak masalah baginya sedang Dzaki sendiripun masih berusaha menangani diri tentang kejadian yang memalukan tadi.


"Tidak banyak bahan makanan, jadi aku tidak menyiapkan bermacam-macam selai.."


Dzaki mengalihkan pandangannya yang sibuk mengamati selai yang dia oles dengan rata diatas permukaan roti. Pandangannya diarahkan kearah dapur, mencoba membenarkan perkataan Hana tentang persediaan dapurnya.


"Tiga hari aku dirumah sakit, dan tidak ada yang bisa berbelanja untuk mengisi dapurku.."


Tidak ada? Apa benar Dzaki tidak memiliki pembantu??

__ADS_1


__ADS_2