The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 29


__ADS_3

Pertanyaan Dzaki mengejutkan Hana yang sempat melamun sejenak berusaha mencerna perkataan Dzaki sebelumnya.


"Ah? I Iyaa..."


Dzaki beranjak, mengambil piring Hana juga piringnya.


"Gak.." Tahan Hana. "Biar aku saja yang mencucinya.."


"Tidak usah, bereskan saja mejanya kemudian mandi. Kita bisa terlambat ke sekolah nanti.."


Hana hanya terdiam. Sejenak dia kesal pada Dzaki, namun tidak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali kebingungan dengan sikap Dzaki yang menurutnya itu baik.


.


.


.


.


Sudah bukan rahasia lagi, wanita lebih lama dalam berpakaian jika dibandingkan dengan laki-laki.


Hana lebih dulu bersiap-siap, membersihkan meja makan membutuhkan waktu yang lebih singkat dibandingkan mencuci piring, namun alhasil Dzaki lebih dulu siap dan sudah menunggu Hana.


"Maaf maaf... Aku telat.." Menyadari dirinya yang datang terlambat, dengan langkah yang dipercepat, Hana menghampiri dan meminta maaf pada Dzaki.


"Kamu ini ngapain saja?" Tanya Dzaki dengan wajahnya yang jelas terlihat sudah kesal.


"Maaf.." Tidak ada kata lain yang bisa dikatakan Hana sebagai pembelaan.

__ADS_1


"Yasudah ayo.." Dzaki beranjak.


Ini adalah hari pertama Dzaki berangkat sekolah ditemani oleh seseorang, meski dia merasa sedikit terganggu namun dia tetap melakukannya. Alasan klasik yang membuat Dzaki tetap melakukannya itu demi kakaknya Danish. Selain itu, Dzaki juga sudah terlanjur berjanji untuk menjaga Hana.


"Loh..."


Hana terkejut melihat Dzaki yang terus-terus berjalan keluar pekarangan rumah melewati mobilnya.


"Kamu gak naik mobil??"


"Memangnya kamu bisa??" Tanya Dzaki kembali.


Hana terdiam sejenak. Dan akhirnya menggeleng setelah sadar, berada dimobil akan membawa ingatan yang buruk untuknya dan itu membuatnya trauma.


Dzaki kembali meneruskan langkahnya, disusul Hana yang harus berlari kecil untuk menyeimbangi langkah Dzaki yang lebih luas.


"Apa sekolahnya jauh?" Tanya Hana yang harus sambil mendongkak untuk bisa menatap Dzaki yang cukup tinggi darinya.


"Ja jadi kita? Kita lari-larian begini kesekolah??"


Dzaki berbalik menatap Hana.


"Lari-larian? Memangnya kamu lihat aku sedang berlari? Yang lari kamu saja tuh.." Ketusnya kata-kata Dzaki kembali membuat Hana kesal.


"Ya karena kamu jalannya terlalu cepat, jadi aku harus berlari kecil untuk menyusulmu.."


"Kakimu saja yang pendek sampai harus berlari menyeimbangiku.."


Hana tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresi kesalnya.

__ADS_1


Hana berhenti sejenak, rasanya benar-benar kewalahan untuk mengikuti langkah kaki Dzaki. Hana mulai tertinggal agak jauh dibelakang, sedang halte masih didepan sana.


"Kenapa berhenti?" Tanya Dzakii sembari menunggu Hana ditempatnya.


Hana tidak menjawab.


"Kenapa??" Dzaki menghampiri Hana.


"Aku capek ngejar kamu.."


"Ck.. Aku kan gak lari.."


"Tap.."


"Ayo.." Dzaki meraih tangan Hana dan menggandengnya. "Aku malas berdebat denganmu, buang-buang waktu dan kita bisa telat" Gerutu Dzaki.


Hana hanya mengikut, langkah Dzaki pun dia sesuaikan dengan langkah Hana yang lebih sempit karena kaki yang dimilikinya tidak cukup panjang.


.


.


Dzaki benar-benar berusaha menepati kata-katanya, berkelakuan baik pada Hana dan mencoba menjaga Hana sebisanya.  Meski ia masih saja menggerutu dalam hati.


"Dzaki..."


Dzaki menoleh mendengar namanya disebut seseorang. Myesha memberinya senyuman manis pagi ini saat menyapanya.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Myesha sembari melirik toilet perempuan yang ada dibelakang Dzaki.

__ADS_1


"Nunggu seseorang.." Perasaan yang belum bisa Dzaki kendalikan sepenuhnya pada Myesha membuat Dzaki sering kali kebingungan menghadapi Myesha. Memang bukan hal yang mudah bagi Dzaki untuk mengendalikan perasaannya.


__ADS_2