
Pak Kasim berhenti disalah satu pintu.
"Nona Hana silahkan masuk.."
"Pak Kasim tidak ikut masuk??"
Pak Kasim hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Kenapa?? Ayo masuk sama aku pak.."
"Maaf Nona, hanya Nona yang dipanggil oleh tuan.."
"Tapi pak.. Aku takut.." Dengan memasang wajah memelas dan memegang erat pergelangan tangan pak Kasim aku berharap pak Kasim bisa berubah pikiran dan menemaniku masuk kedalam.
"Nona tidak perlu takut, Nona kan sudah bertemu dengan pak Randi sebelumnya. Apa menurut Nona pak Randi menakutkan waktu itu.."
"Tidak sih pak.." Genggaman tanganku pada pak Randi terlepas. "Tapi tetap saja aku takut.."
"Jangan takut.. Nona masuk saja, saya ada disini menunggu Nona.."
__ADS_1
"Apa didalam hanya ada pak Randi saja??"
"Tidak, didalam juga ada Nyonya dan Tuan Muda beserta tunangan Tuan muda pertama"
Sebanyak itu?? Ah nyaliku semakin ciut untuk melangkah masuk.
"Tidak perlu khawatir seperti itu Nona"
Sepertinya pak Kasim bisa membaca ekspresi gelisahku, ah wajar saja dia bisa membacanya karena aku tidak bisa menyembunyikannya.
"Tuan dan Nyonya orangnya sangat ramah, Tuan muda juga begitu dan lagi dia seusia dengan Nona jadi Nona dan Tuan muda bisa saling mengerti selayaknya remaja pada umumnya. Nona Myesha juga sangat ramah.."
"Nona, mau tidak mau Nona tetap akan berhadapan dengan keluarga pak Randi. Hari ini jika Nona tidak melangkahkan kaki masuk kedalam, besok atau lusa Nona tetap akan bertemu dengan mereka. Tidak ada gunanya Nona menunda-nunda untuk bertemu dengan keluarga pak Randi.." Jelas pak Kasim.
Benar juga apa yang dikatakan pak Kasim, tidak seharusnya aku takut seperti ini karena cepat atau lambat aku akan berhadapan dengan keluarga itu. Aku harusnya berterimakasih dengan mereka karena mereka mau menerima orang sepertiku yang bahkan diri sendiripun aku tidak ingat.
Aku akhirnya memberanikan diri melangkah masuk.
Tidak ada yang menghiraukan aku yang sekarang berdiri didepan pintu dengan masih memegangi ganggang pintu. Mereka semua seperti sibuk dengan pembahasan yang akupun tidak tahu. Aku mengarahkan pandanganku melihat semuanya. Mataku terpaku pada laki-laki yang sedang berbaring dengan selang yang menempel di hidungnya penghubung dengan okisgen yang membantunya untuk tetap bertahan.
__ADS_1
Ah tidak ada yang menyadari keberadaanku
Aku kembali menyusuri seisi kamar dengan pandanganku sembari mencari celah untuk berbicara agar mereka tahu aku ada disini saat ini.
"Itu Tuan Randi, dan mungkin itu adalah Tuan muda pertama dan kedua" Pikirku sembari menatap anak laki-laki yang ekspresi wajahnya seperti baru saja kalah dari taruhan togel, lesuh dan terlihat sedang kesal. "Lalu yang mana Nyonya? Dua perempuan yang disana siapa? Salah satu dari mereka pasti Myesha, tunangan Tuan muda pertama.."
Aku mencoba meraba-raba kondisi dalam ruangan saat ini.
"Permisi.. Bapak memanggil saya.."
Semua orang mengarahkan pandangannya kearahku membuatku jadi tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Oh, kamu sudah disini Hana??"
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pak Randi.
"Dia orang yang..." Tanya salah satu wanita yang ada didalam ruangan itu sambil menatap pak Randi dan mengarahkan jari telunjuknya padaku.
"Iya Sayang.."
__ADS_1
Pak Randi memang penuh dengan kasih sayang, dia begitu ramah pada semua orang bahkan panggilan 'sayang' itu terdengar hangat.