The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 12


__ADS_3

"Kenapa dia??" Aku mengikuti pandangan Myesha yang sepertinya tertuju pada gadis kecil itu, seperti ada tatapan tidak senang di matanya. "Apa Myesha mengenal anak itu??" Dzaki berusaha menebak dengan mengamati ekspresi Myesha.


"Danish.. Kamu sudah sadar nak.." Seruan Ayah membuat perhatianku teralihkan dari Myesha.


"Kak Danish sudah sadar.." Tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca melihat kak Danish yang perlahan membuka matanya meski terlihat masih sangat lemah.


Belum sampai langkahku mendekat pada kak Danish, Myesha sudah lebih dulu menghambur memeluknya sambil terisak.


Ya itu adalah hal wajar yang dilakukan oleh seorang kekasih, yang tidak wajar dari hal ini adalah perasaanku yang entah mengapa terlalu sakit melihat tontonan drama romance yang diadegankan oleh Myesha, wanita yang sampai saat ini tidak bisa kupungkiri bahwa dia masih menjadi penghuni istimewa dalam hatiku.

__ADS_1


Lucu sekali takdir ini mempermainkan perasaanku, apa aku punya masalah pada dunia sampai dia dengan senangnya memberiku kehidupan yang seperti ini. Ingin rasanya aku mengumpat dan mengutuk saat ini. Hanya saja kesadaranku masih membuatku bertahan.


.


.


.


Pak Randi dengan cepat memanggil dokter setelah melihat putra sulungnya itu siuman, dan pemeriksaan dokter memberinya hasil yang memuaskan. Danish dinyatakan lolos dari masa kritisnya dan tinggal menjalani masa pemulihan hingga tubuhnya mampu beraktifitas seperti semula.

__ADS_1


Myesha terus-terusan bertengger disamping Danish. Seolah tidak ingin lepas dari pandangan kekasihnya, Myesha terus-terusan berusaha mengajak Danish mengobrol entah itu informasi yang penting untuk Danish atau cuman sekedar kata-kata buaian saja. Melihat Myesha yang begitu antusias setelah Danish sadar dari komanya, membuat Randi selaku orangtua Danish merasa senang, setidaknya dia memiliki calon menantu yang benar-benar bersedia menemani putranya dalam keadaan sehat maupun sakit. Namun berbeda dengan Dzaki, dia masih berusaha keras melawan rasa cemburunya dan membuat dirinya sesadar mungkin bahwa wanita yang dicintainya itu sudah menjadi milik kakaknya.


"Ayah, bagaimana tentang aku?? Apa kata dokter??" Dzaki berusaha mengalihkan pikirannya dari medan yang berputar di sekitar Myesha yang selalu menghasilkan rasa sakit dihatinya.


"Ah iya, Ayah sampai lupa sama kamu.." Randi tertawa kecil mengingat bagaimana dia melupakan putra bungsunya karena terlalu bahagia selepas putra sulungnya siuman.


"Iya.. Anak Ayah emang cuman kak Randi doang.." Nada-nada ngambek mulai terdengar dari ucapan Dzaki.


"Sudah-sudah, jangan ngambek. Ibu selalu mengingat kamu kok meski Ayahmu kadang melupakanmu.." Nara berusaha menenangkan Dzaki sebelum dia meledak-ledak lagi dengan kekesalannya seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Kata-katamu lebih terdengar seperti seorang kakak yang sedang membujuk adiknya.." Dengus Dzaki.


"Ck, setidaknya kamu beruntung karena ada aku..." Nada judes Nara mulai keluar. Anak tirinya itu selalu saja bisa mengoyak-ngoyak kesabaran Nara dan membuatnya lepas kendali dari pertahanannya untuk bisa menjadi Ibu yang tenang dengan penuh kesabaran untuk Dzaki dan Danish. Ya dilihat dari segimanapun, Nara benar-benar berusaha keras untuk bisa menjadi sosok pengganti orangtua kandung bagi Dzaki dan Danish meski usianya terbilang belia untuk menjadi seorang Ibu dari dua remaja itu.


__ADS_2