The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 38


__ADS_3

Karena suhu wajan yang terlalu panas membuat Hana tanpa sengaja melepaskan telur yang digenggamnya. Minyak panas terciprat mengenai beberapa bagian tangannya membuat Hana spontan menjerit.


"Auuu..." Hana mundur beberapa langkah menjauh dari wajan.


"Haanaa..."


Teriakan Dzaki dari luar sontak membuat Hana lebih terkejut lagi.


"Hana kamu kenapa??" Dzaki muncul dari balik dinding memperlihatkan eskpresi wajah yang sangat khawatir.


Hana tertegun melihatnya.


Anak ini kenapa berteriak segitu kerasnya, seperti terjadi sesuatu hal yang besar saja


"Kamu yang kenapa?" Hana balik bertanya, dibandingkan rasa terkejut setelah mendapat beberapa percikkan minyak, Hana lebih terkejut lagi melihat Dzaki yang menghampirinya dengan tergesa-gesa.


Ekspresi khawatir Dzaki berubah menjadi datar melihat Hana yang kebingungan menatapnya.


"Ah.." Dzaki mengalihkan pandangannya. "Aku kira kamu terluka.."


Pandangan Hana dengan tatapan yang bingung tidak lepas dari Dzaki.


"Astagaaa..."


Dzaki dengan cepat mematikan kompor yang semakin dipenuhi kepulan asap disekitarnya.


"Ka kamu beneran gak papa kan.." Dzaki berbalik menatap Hana.


Hana hanya mengangguk sembari meniup bagian tangannya yang mendapat percikan minyak.


"Tanganmu kenapa??" Tanyan Dzaki khawatir dan dengan cepat meraih tangan Hana.


"I ini, aku tidak sengaja melepas telurnya dan minyaknya terpecik. Aku.."


"Kenapa ceroboh begini sih??" Potong Dzaki tanpa mendengar penjelasan Hana.

__ADS_1


Dzaki berbalik dan mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas.


"Sini.."


Hana mengikut saja dengan tarikan Dzaki menuju wastafel.


"Aduh..." Keluh Hana saat Dzaki menyiram tangannya dengan air dingin.


"Perih??" Tatapan khawatir tidak lepas dari mata Dzaki.


Hana hanya mengangguk.


"Padahal setiap hari memasak, baru juga satu kali memasak sendiri sudah luka begini"


"Minyaknya terlalu panas, jadi telur yang aku pegang terlepas.."


"Kenapa juga harus nungguin minyaknya terlalu panas baru mau masukin telurnya.."


"Bukannya aku ngebiarin minyaknya terlalu panas, aku lupa karena sambil ngebersihin daun selada tadi.."


"Ya karena ini sudah siang, kamu bisa telat sarapan kalau aku masaknya gak cepat.."


Perdebatan diantara keduanya tidak terelakkan lagi.


"Aku kan gak bilang kalau aku udah lapar.."


Hana diam saja sembari memperlihatkan wajah cemberutnya, rasanya dia tidak akan menang jika melawan Dzaki dalam hal berdebat.


"Yasudah, biar aku saja yang masak hari ini.."


"Tapi kakimu ka...." Belum Hana menyelesaikan kata-katanya, dia lebih dulu menyadari sesuatu. "Kamu tadi kesini lari kan?? Kamu bohong kalau kakimu sakit???"


Dzaki terlihat bingung. Diapun lupa kalau kakinya sedang terluka. Dzaki hanya menatap kakinya dengan kebingungan.


"Eh iya ya.. Tadi kok gak kerasa sakit"

__ADS_1


"Kamu ngebohongin aku? Kamu pura-pura sakit biar kerjaan rumah aku yang ngerjain gitu??"


"Gak.. Kakiku beneran sakit, sekarang juga terasa sakit.."


"Ck.." Hana menatap Dzaki dengan kesal. "Sekarang sakit, tadi lari-larian bisa.."


"A aku juga gak tahu. Tapi beneran kakiku sakit.." Dzaki kebingungan sendiri. Jelas sekali saat ini dia merasakan nyeri di pergelangan kakinya, namun dia juga tidak memungkiri bahwa sebelumnya dia berlari dan dia sama sekali tidak merasakan rasa sakit waktu itu.


Hana tidak hentinya menatap Dzaki dengan tajam dan ekspresi wajah kesal.


"Ka kamu tadi juga kan lihat kalau kakiku bengkak.." Dzaki mencoba membela diri.


"Ah iya ya.. Waktu aku olesin kencur juga tadi keliatan kalau kakimu membiru.."


Pembelaan Dzaki berhasil. Hanapun ikut bingung dibuatnya, dia sendiri jelas sekali melihat kaki Dzaki yang bengkak dan memar.


"Kan.. Kamu percaya kan kalau kakiku beneran sakit. Aku gak bohong, aku gak pura-pura.."


"Iya iyaa.. Yasudah sana duduk lagi, biar aku lanjut masak.."


"Gak, biar aku aja yang masak.."


"Kakimu kan sakit, gimana caranya kam.."


"Kamu juga kan tanganmu luka.."


"Bukan luka parah kok, aku masih bisa masak.."


"Aku juga masih bisa masak. Sana duduk saja deh.."


"Kalau gitu, kamu ngelanjutin ngegoreng telurnya, aku yang nyiapin roti sama seladanya.."


"Yaudah.."


Kegiatan memasak yang sempat tertunda dengan perdebatan akhirnya dilanjut. Acara Hana memasak sendiri sebelumnya kini kembali berubah menjadi masak berdua dengan Dzaki.

__ADS_1


__ADS_2