
Hahh?? Apa ini benar??
"Jika Hana ditemukan dalam keadaan yang tidak baik, apa kamu pikir polisi tidak akan menguak kembali perkara ini?? Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian kakakmu Dzaki, dan orangtua Hana meninggal dalam kecelakaan itu.."
Dzaki tertegun tidak bisa berkata apa-apa.
"Ja jadi.."
"Iya.. Yang kita lakukan selama ini adalah untuk melindungi kakakmu. Aku bisa saja membuat Hana tinggal bersama kakakmu dan mengabaikan Myesha, hanya saja aku khawatir bagaimana jika Danish terus-terusan melihat Hana dia teringat dengan kejadian itu lalu menyalahkan dirinya sendiri, Danish bukan seseorang yang berfikiran acuh dengan masalah yang seperti ini.."
Dzaki terdiam, perlahan mengalihkan pandangannya mencoba memberi ketenangan pada hatinya yang penuh kebimbangan.
Dzaki sangat tidak senang dengan kehadiran Hana, bukan semata karena Hana itu orang yang tidak dikenalinya tapi karena pada dasarnya Dzaki memang tidak senang dengan kontak fisik atau sekedar berbaur dengan perempuan.
"Ayah minta maaf karena menempatkanmu di posisi yang tidak menyenangkan seperti ini. Ayah sama sekali tidak bermaksud membuatmu kesulitan Dzaki"
Dzaki masih saja terdiam.
"Jadi Ayah minta tolong.."
Dzaki mengangguk, membuat Randi tidak meneruskan kata-katanya.
"Iya, aku akan melakukannya.."
__ADS_1
"Beneran??" Randi sampai beranjak dari tempat duduknya.
Dzaki kembali mengangguk. "Aku akan melakukan apapun jika itu untuk melindungi kakak, sudah seharusnya aku balas budi atas segala apa yang kakak kasi sama aku selama ini..."
Putraku, aku tidak tahu harus berterimakasih seperti apa. Tuhan benar-benar memberiku karunia yang luar biasa dengan menghadirkan kalian yang rela berkorban satu sama lain untuk saling melindungi. Maafkan Ayah karena harus menipumu seperti ini.
"Terimakasih Dzaki. Jika keadaan Hana mulai membaik, Ayah akan memberinya rumah lain sehingga tidak lagi harus tinggal bersamamu.."
Dzaki hanya mengangguk pelan.
"Tidak ada yang harus dibahas lagi kan?? Aku ke kamar dulu.." Dzaki beranjak.
"Dzaki..."
"Jaga Hana baik-baik nak, Ayah hanya bisa berharap padamu.."
"Jangan khawatir.."
"Juga.. Terimakasih.."
Dzaki menoleh dan menatap Ayahnya. Ada kelegaan dimata Ayahnya.
Ayah, maafkan aku karena telalu egois sebelum ini. Aku tahu kamu menanggung beban begitu banyak, dan pikiran yang begitu rumit.
__ADS_1
Dzaki tersenyum. "Sana istirahat, Nara ah maksudku Ibu mungkin sudah menunggu Ayah dikamar.." Dzaki melanjutkan langkahnya menuju kamar. Perasaannya masih belum bisa dia kondisikan sebaik mungkin, melihat kelegaan dimata Ayahnya tadi membuatnya sadar bahwa begitu banyak beban dipundak Ayahnya pasca kecelakaan itu dan dia dengan segala keegoisannya tidak bisa turut membantu. Ya, dia akan berusha menjadi lebih baik sekarang.
.
.
.
.
Nara berlari kecil menghampiri suaminya yang melangkah masuk kedalam kamar.
"Bagaimana???" Tanya Nara antusias.
"Aku merasa bersalah sama Dzaki.. Aku sudah menipunya, kasus tentang kecelakaan ini sudah ditutup dan aku menjadikan itu juga kakaknya sebagai sebuah senjata untuk menodongnya.."
Nara memeluk suaminya.
"Maaf, karena ini adalah ideku, aku membuatmu melakukan ini pada putramu. Aku kan sudah bilang biar aku saja yang bicara sama Dzaki tapi kamu..."
"Tidak apa.." Randi balas memeluk istrinya. "Yang harus dipikirkan saat ini adalah bagaimana cara menghadapi Dzaki jika suatu hari nanti dia tahu bahwa kita menipunya malam ini.."
"Dia tidak akan tahu, hanya kita bertiga yang tahu dan tidak ada diantara kita yang bisa membuka mulut masalah ini.."
__ADS_1