
Sepanjang perjalanan, Dzaki hanya duduk sambil menatap keluar jendela memandangi riuhnya kota. Headset yang terpasang ditelinganya seolah memberi peringatan pada Hana untuk tidak mengajaknya mengobrol selagi dalam bus. Hana sendiri paham bagaimana Dzaki kesulitan saat ini, Dzaki yang dulunya kemana-kemana menggunakan mobil pribadinya sekarang mau tidak mau harus menggunakan bus demi menjaga dan membuatnya tetap merasa nyaman.
Meski rasa kesal masih saja tidak lepas dari perasaan Hana, namun rasa bersalah juga terus menghampirinya menyadari dia yang menjadi beban bagi Dzaki dan tidak ada pilihan lain baginya selain menurut pada keadaan.
Entah karena masih jam kerja bagi orang dewasa atau karena cuaca yang cukup mendung membuat supermarket terlihat sepi.
Hana berdiri didepan rak yang menyediakan beberapa jenis sossis sembari memandangi satu persatu yang tersedia disana.
"Liat apa?" Pertanyaan Dzaki membuatnya terkejut.
"Ah.. Gak.." Jawab Hana tersenyum.
Apa sebelumnya aku itu suka Sossis, ngeliatnya dari balik kaca saja serasa ngiler.
"Kamu mau?" Tawar Dzaki.
Hana menggeleng. Hana tahu, makanan seperti sossis tidak akan dikonsumsi oleh Dzaki. Dzaki sendiri sudah menjelaskan sebelumnya jika dia tidak senang dengan makanan olahan seperti itu.
"Sudah belanjanya?" Sembari melirik keranjang belanjaan yang nyaris penuh digenggaman Dzaki.
"Belum.."
"Keranjangmu sudah hampir full.." Hana keheranan. Untuk ukuran hidup berdua, menurutnya belanjaan Dzaki sudah lebih dari cukup.
"Kita butuh lebih, kita tidak bisa setiap hari berbelanja.."
Ah benar juga.
__ADS_1
"Kamu, apa gak ada sesuatu yang mau kamu beli?"
Sekali lagi Hana menggeleng.
"Kenapa? Tidak punya uang? Ayah tidak memberimu kartu??"
"Ah bukan bukan.. Aku punya.."
"Terus? Takut uangnya habis??"
"Gak juga.. Kamu sudah beli sebanyak ini un..."
"Ini kan aku beli untukku sendiri..."
Haah.. Kenapa aku tidak sadar kalau anak ini peduli padaku karena terpaksa. Untuk kelanjutan hidupku, sudah jelas dia tidak akan peduli.
"Tidak.. Aku belinya untuk berdua, kalau tidak ada lagi ayo ke kasir.." Dzaki berjalan menyunggingkan bibirnya memperlihatkan smirik yang membuat Hana semakin kesal melihatnya.
Dia mempermainkanku.
Hana kembali mengekori Dzaki dan wajah yang terus mengejek dari belakang.
"Ah..." Dzaki spontan berbalik, memberikan Hana keranjang bawaannya.
"Apa lagi?"
"Aku lupa sesuatu, kamu duluan saja kekasir.."
__ADS_1
"Kenapa??"
"Karena aku harus beli sesuatu yang aku lupa"
"Aku tunggu disini saja.." Hana menolak beranjak sendiri lebih dulu.
"Ck.. Duluan saja, nanti aku menyusul.."
Dzaki berlari kecil masuk kedalam kerumunan kecil orang-orang yang sedang berbelanja meninggalkan Hana. Hana memasang wajah cemberut.
"Kurang apa lagi sih? Satu keranjang penuh dan dia masih butuh sesuatu lagi??" Gerutu Hana sembari berjalan menuju kasir.
Langkah-langkah kecil dan tertatih-tatih membawa keranjang belanjaan yang penuh dan lumayan berat baginya.
"Huuhh.." Smirik Hana, memperlihatkan ekspresinya yang kesal. "Dasarr Dzakii..." Hana berbalik, mencari sosok tinggi yang tidak dijangkau penglihatannya. "Dia pasti malas ngantri kan, makanya nyuruh aku duluan yang kesini.." Hana begitu kesal menerima kenyataan dimana dia berada dideretan antrian yang tak terhitung itu.
.
.
.
.
Entah ada apa dengan sepatu atau lantai yang sedang dia pijaki, berjalan sembari menunduk dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Myesha berjalan menunduk menyusuri koridor bagian VIP di Rumah sakit tempat Danish dirawat. Keranjang buah bertengger ditangannya.
__ADS_1