
Selain itu, keduanya pun sudah terbiasa saling membantu satu sama lain saat kesulitan, seperti halnya hari ini. Dzaki yang terjatuh dalam toilet membuat kakinya terkilir dan sedikit kesusahan dalam berjalan.
"Kamu ini kenapa bisa jatuh sih??" Omel Hana sembari membawa mangkuk yang berisi kencur yang sudah diparutnya.
"Ya namanya juga lantainya licin, kalau dikasi pilihan ya aku juga gak mau jatuh lah.." Balas Dzaki menggerutu.
Seperti hari-hari sebelumnya, mereka mulai ribut di pagi hari. Terlebih hari ini adalah akhir pekan sehingga mereka memiliki waktu lebih lama untuk berdebat.
"Makanya bersihkan lantai kamar mandimu, sikat biar tidak licin.."
"Kamu pikir aku membiarkan lantai kamar mandiku kotor, kamu tahu kan aku tidak suka yang kotor-kotor" Bela Dzaki.
"Ck.." Dengus Hana sambil menatap Dzaki dengan kesal sembari duduk disamping Dzaki.
Dzaki hanya terdiam, ya karena saat ini yang terluka adalah dia, dia memilih untuk diam lebih cepat dibanding meneruskan mendebat Hana.
"I itu apa??" Aroma yang asing dan tampilan yang aneh membuat Dzaki bertanya tentang sesuatu yang dibawah oleh Hana dalam mangkuk kecil. "Jahe??" Tanya Dzaki lagi.
"Ck.. Kamu ini kan bisa masak, masa gak tahu ngebedain bumbu dapur. Dari baunya saja ini jelas sekali kalau bukan jahe.." Jelas Hana dengan nada kesal.
"Aku kan cuman tanya, lagian itu modelnya seperti jahe parut.."
"Ini kencur. Sini kakimu.."
"Un untuk apa??" Tanya Dzaki terbata-bata.
__ADS_1
"Ya untuk aku obati, itu bisa makin parah kalau gak diobati.."
"Obati? Pakai apa? Pakai itu?" Tunjuk Dzaki pada mangkuk yang dipegang Hana.
"Iya.."
"Tahu darimana??"
"Ya dari internet lah, aku kan gak punya oranglain yang bisa aku hubungi untuk bertanya hal yang seperti ini.."
"Nara, bukannya semua hal kamu tanyakan pada Nara.."
"Aku gak bisa ngehubungi Mami sesukaku, Mami kan sibuk. Dan lagi kalau dia tahu kamu luka seperti ini, Mami pasti khawatir.."
"Iyalah.. Cepat sini kakimu, ini sudah mulai siang dan aku belum masak.."
"Ga gak.. Gak usah.."
Dzaki sedikit sungkan mengingat Hana akan menyentuh kakinya, rasanya tidak sopan sekali.
"Apanya yang gak usah, kakimu bisa makin parah nanti.."
Hana menunduk hendak meraih kaki Dzaki, namun Dzaki dengan cepat menghindar.
"Kamu ini kenapa sih? Mau sakit terus? Sengaja biar aku yang ngerjain tugas rumah semuanya??"
__ADS_1
"Bukannya begitu.. Yasudah, sini kencurnya, biar aku saja.."
"Kakimu itu gak bisa bengkok, dan tanganmu gak cukup panjang untuk bisa nempelin ini kencur ke kakimu yang keseleo.."
Dzaki menatap kakinya, rasanya benar-benar sungkan untuk menyerahkan kakinya yang akan disentuh oleh Hana.
"Kenapa??" Tanya Hana.
Dzaki berbalik menatap Hana.
"Kamu sungkan? Kamu kepikiran kalau aku bakal megang kakimu?"
Dzaki hanya terdiam, namun sangat jelas terlihat dimata Hana saat ini bagaimana Dzaki yang sedang sungkan terhadapnya.
"kenapa harus sungkan sih.." Hana dengan cepat menarik kaki Dzaki dan menyimpan dipangkuannya, Dzaki tersentak dengan wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkejut. "Kalau mau berbicara sungkan, harusnya aku yang sungkan kan, karena tinggal gratis dirumahmu.."
"Kenapa harus ngomong gitu?" Dzaki menarik kembali kakinya dari pangkuan Hana. "Kan aku sudah bilang, aku udah gak mempermasalahkan lagi tentang kamu yang tinggal dirumahku. Aku udah gak keberatan lagi.."
"Iya iyaa.. Gak usah marah juga.." Hana kembali menarik kaki Dzaki kepangkuannya.
"Aku bukannya marah.. Aku cum.."
"Iya kamu gak marah. Bisa diam dulu gak, biar aku bisa ngolesin kakimu dengan benar. Kita bisa-bisa gak sarapan gara-gara aku gak sempat masak karena kamu yang ribut terus.."
Dzaki akhirnya menurut dengan perkataan Hana dan diam.
__ADS_1