The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 24


__ADS_3

Randi tersenyum, istrinya benar-benar tidak pernah gagal dalam menenangkan perasaannya.


"Oh iya, bagaimana dengan Danish??"


"Ah, dia bilang untuk menelfon dia setelah kita selesai berbicara dengan Dzaki.."


Randi meraih ponselnya, dia tahu putra sulungnya itu sedang menunggu kabar darinya saat ini.


"Halo Ayah.. Bagaimana??" Terdengar suara antusias Danish dari seberang telfon.


"Ayah berhasil, Dzaki akhirnya menurut.."


"Ah syukurlah.. Bagaimana keadaan Dzaki sekarang??"


"Kamu kan tahu nak, adikmu itu sudah baikan. Yang harus kamu pikirkan sekarang itu adalah kesehatanmu.."


Meski Danish tahu tentang Dzaki yang tidak bisa mengingat kejadian pasca kecelakaan itu, tapi Randi tetap menyembunyikan fakta bahwa ada hal yang masih Dokter cari tahu tentang hilangnya ingatan Dzaki di waktu kecelakaan itu.


"Aku juga sudah membaik Ayah.."


"Danish maafkan Ayah.."

__ADS_1


"Maaf? Untuk Apa??"


"Kamu harus menanggung beban ini sendirian, adikmu akan terus-terusan berfikir kalau kamu yang lalai dalam mengendarai dan menyebabkan kecelakaan itu. Dipikiran Dzaki saat ini kamulah yang membuat...."


"Ayah.." Dzaki memotong perkataan Randi. "Aku lebih suka Dzaki berfikiran seperti itu dibanding dia tahu kebenarannya kalau dia yang menyetir saat itu. Dzaki akan merasa sangat bersalah jika tahu dia yang menyetir dan kecelakaan itu menyebabkan aku koma. Dzaki tidak akan bisa memaafkan dirinya kalau dia tahu dan aku tidak ingin itu.."


"Kamu benar-benar kakak yang luarbiasa Danish, wajar saja kalau Dzaki tidak berfikir dua kali saat aku menjadikan kamu alasan.."


"Aku dan Dzaki seperti ini karena memiliki Ayah yang hebat seperti Ayah.."


Meski takdir sempat mengoyak kehidupan keluarganya dengan kecelakaan yang menimpa kedua putranya, namun rasa saling menyayangi diantara mereka membuat takdir tidak bisa berkutik memasuki medan perasaan mereka dengan luka.


.


.


.


Awalnya tidak ada yang berubah, semua seperti biasanya sampai akhirnya.


"HHHUUUAAAAA..." Teriakan Hana yang disusul Dzaki memecah keheningan dan membuat suasana seketika menjadi riuh.

__ADS_1


Apa yang terjadi??


.


.


.


.


Waktu masih menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit, Hana sudah terbangun dan bingung ingin melakukan apa. Entah karena sebelumnya Hana selalu bangun lebih awal atau karena suasana baru dirumah Dzaki yang membuat tidurnya harus selesai walau pagi masih begitu gelap.


Hana tidak tahu apa yang harus dia lakukan sepagi ini. Dia sudah menyelesaikan segala perlengkapan sekolahnya semalam sebelum tertidur. Rasa kesalnya pada Dzaki membuatnya memilih menyiapkan perlengkapan sekolah untuk mengalihkan perhatiannya.


"Bagaimana bisa dia menganggapku anak kecil. Ck, bukan ukuran tubuhku yang kecil, dia saja yang terlalu besar dan tinggi seperti jerapah" Gerutu Hana semalam sembari menyiapkan perlengkapan sekolahnya.


Hana beranjak dari tempat tidur, meski dia tidak senang dengan Dzaki tapi dia masih sadar diri bahwa sekarang dia tinggal bersama, dan Dzaki sebagai pemilik rumah. "Setidaknya aku harus bersih-bersih atau menyiapkan sarapan untuk kami pagi ini" Pikirnya.


Hana menyentuh beberapa perabot dirumah Dzaki, alih-alih niat membersihkan Hana malah dibuat terheran-heran dengan keadaan rumah Dzaki yang tetap bersih bebas dari debu. Hana tidak melihat ada oranglain dirumah Dzaki seperti seorang pembantu rumah tangga misalnya, itu membuatnya menjadi bingung sendiri mengapa rumah ini tetap bersih sedang dia tahu, Dzaki sendiri tidak berada di rumahnya selama tiga hari terakhir ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2