
Batin Dzaki yang sedari tadi bergejolak hanya karena sakit atas pilihan Myesha, sekarang semakin tercabik-cabik mendengar perempuan yang begitu dicintainya membanding-bandingkannya dengan orang lain.
"Lalu kenapa? Kenapa 3 tahun yang lalu aku yang..."
"Kita masih muda waktu itu.." Jawaban Myesha memotong perkataan Dzaki. "Myesha yang waktu itu adalah gadis muda yang belum bisa menilai dengan benar"
Apa maksud perkataanmu bahwa memilihku waktu itu adalah sebuah kesalahan?
"Kita hanya seperti remaja pada umunya, yang terlalu naif mengartikan perasaan kita tanpa memikirkan hal apa yang terjadi kedepannya. Sekarang aku sudah dewasa Dzaki, aku sudah memikirkan masa depanku dan seperti apa aku kedepannya, aku ingin bersama dengan laki-laki yang.."
"Apa kamu pikir aku tidak bisa menjamin hidupmu di masa yang akan datang?" Tanya Dzaki dengan sorot matanya yang tajam. "Aku bukannya sedang menjalin cinta monyet dengan Myesha kecil diwaktu itu, aku bukannya anak yang selalu dimanjakan Ayah dan kakakku sampai tidak memikirkan masa depan yang baik untukmu dimasa yang akan datang. Apa perasaanku yang tulus sama kamu kurang bisa memberimu keyakinan kalau aku mampu membahagiakanmu??"
Jawaban menohok Dzaki seolah memberi tamparan pada Myesha membuat mulut Myesha terbungkam rapat.
__ADS_1
"Apa ini wujud aslimu?? Apa yang selama ini kamu perlihatkan sama aku adalah sebuah kepalsuan??"
"Dzaki.. Aku benar-benar mencintaimu diwaktu itu.."
"Buat apa mengatakan perasaanmu diwaktu itu kalau perasaanmu itu tidak bertahan sampai sekarang?? Apa hanya sedangkal itu kamu bisa mencintai??"
"Aku..."
"Selamat..." Dzaki mengulurkan tangannya. Myesha hanya terdiam menatap tangan Dzaki dan mengangkat kepalanya menatap wajah Dzaki dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Selamat bergabung dikeluargaku kakak ipar..." Ucapan terakhir Dzaki membuatnya kelopak matanya tidak lagi bisa menahan air yang sedari tadi menggenang disana. Airmatanya jatuh tanpa kedipan mata.
Degg..
__ADS_1
Ada perasaan ngilu direlung hati Myesha mendengar kata-kata Dzaki dan perasaan yang sama sakitnya melihat Dzaki yang berdiri didepannya dengan airmatanya yang mengalir menandakan sakitnya. Sedari kecil Myesha tumbuh bersama Dzaki, dan entah kapan kali terakhir dia melihat Dzaki yang menangis karena selama ini yang Dzaki perlihatkan hanya senyuman manisnya yang berbentuk kotak memperlihatkan deretan giginya yang kecil tersusun rapi.
Dzaki memalingkan wajahnya, ingatan tentang Myesha sejenak membuatnya kembali terperangkap masuk dalam luka perasaannya yang sudah dia kubur dalam-dalam.
Meski Dzaki sangat menghindari Myesha untuk membuat perasaannya tetap tenang, namun dihadapan orangtunya Dzaki masih meladeni bicara Myesha seperti biasanya, dia tidak ingin masalah pribadinya dengan Myesha terkuak dan terdengar oleh Ayahnya. Dzaki sadar, hal itu akan menambah beban pikiran Ayahnya juga kakaknya.
"Apa kabar Dzaki??" Sapa Myesha.
"Seperti yang kamu lihat.." Jawab Dzaki senyum smirik.
"Kenapa judes begitu?" Tanya Nara mendengar nada bicara Dzaki yang tidak biasanya.
Meski Dzaki berusaha menutupi sakit perasaannya pada Myesha, tetap saja ada waktu dimana dia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik sehingga sesekali perilakunya bisa terbaca oleh orang sekitarnya. Namun Dzaki selalu memiliki jawaban yang bisa meredam pikiran-pikiran oranglain tentang perilakunya yang mulai berubah pada Myesha.
__ADS_1
"Ya ampun.. Kamu ini kenapa dendam sekali sih Dzaki.." Nara mulai kesal.
Nara yang tidak tahu apa-apa, hanya percaya dengan jawaban Dzaki