The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 7


__ADS_3

"Apa yang Ayah katakan tidak benar kan?? Ayah hanya keliru kan?" Desak Dzaki.


"Apa yang kamu lihat dari mataku Ki?" Tanya balik Myesha sambil menatap Dzaki lekat.


"Gak.. Matamu sedang menipuku saat ini. Aku tahu kamu sedang menipuku. Kamu cuman mau ngelihat kesungguhanku kan..."


Dzaki mencoba mengelak dari kebenaran yang perlahan mulai dia sadari.


"Bagaimana bisa aku menipumu dengan mataku.. Kamu juga tahu, hal yang tidak bisa aku sembunyikan dari kamu adalah kebenaran yang selalu diperlihatkan mataku.."


"Gak..."


"Dzaki..."


Sekali lagi Myesha menatap lekat Dzaki, mencoba menyadarkan Dzaki tentang fakta yang ada sekarang.


Dzaki terdiam. Genggaman erat tangannya di pundak Myesha perlahan merenggang hingga tangannya jatuh tak bertenaga.


"Ha... ha.. ha.." Entah dia sedang tertawa atau sedang berusaha menipu diri dengan senyuman smiriknya. "Kamu bukan lagi orang yang kukenali"


Langkah yang tadinya begitu terburu-buru untuk bisa tiba dengan cepat dihadapan Myesha perlahan mundur tidak karuan.


.

__ADS_1


.


.


.


Dzaki menipu dirinya dengan terus-terusan bertanya pada Myesha. Meski kecil, Dzaki sangat berharap Myesha bisa memberinya jawaban yang dia inginkan, namun tatapan Myesha saat ini memberinya kesadaran bahwa wanita yang sedang berdiri didepannya saat ini bukan lagi miliknya.


Dzaki berbalik membelakangi Myesha, perasaannya tidak karuan dan airmatanya sudah menumpuk dipelupuk mata siap untuk ditumpahkan.


"Dzaki..."


Dzaki hanya terdiam.


"Kenapa??" Suara parau Dzaki memberi isyarat pada Myesha bahwa sebentar lagi akan ada hujan di wajahnya.


"Maaf.."


Spontan Dzaki berbalik. "Beri aku alasan.. Kenapa kak Danish dan bukan aku???" Desak Dzaki dengan pertanyaannya yang berburu menginginkan jawaban. "Kamu bilang cinta sama aku, kamu bilang kamu gak suka kalau ada cewek lain yang dekat sama aku, kamu bilang..." Dzaki menarik nafas sejenak. "Kamu bilang hanya aku, hanya aku yang pantas bersamamu. Lalu ini semua apa Yesha???" Dzaki setengah  menggertak membuat mata Myesha refleks berkedip.


"Maaf.." Satu kata itu yang sedari tadi Myesha ulang-ulang.


"Maaf??? Maaf itu berlaku jika kamu bisa mengubah kenyataannya. Oke, aku akan menganggap semua ini sebuah kesalahan, ayo bilang sama Ayah kalau kamu salah menyebut nama" Dzaki menarik tangan Myesha.

__ADS_1


"Dzaki.." Myesha menarik tangannya kembali.


"Apalagi? Kita harus cepat ngejelasin ini semua sama Ayah sebelum Ayah terlanjur salah paham sama pilihanmu.." Dzaki kembali meraih tangannya Myesha dan menariknya.


"Pilihanku gak salah.." Kata Myesha datar.


Degg..


"Ha ha ha.." Tertawa yang begitu kaku. "Sekarang itu bukan saatnya untuk bercanda Yeshh.."


"Aku lagi gak bercanda Ki.. Aku memilih kak Danish, bukan kamu.."


Ada gemuruh dalam hati Dzaki yang tidak bisa dijabarkan seperti apa rasanya. Seperti ada ribuan jarum menghujani hatinya.


"Ke kenapa??" Meski dia tahu, jawaban Myesha hanya akan semakin membuatnya terluka, namun setidaknya jawaban itu yang akan membantunya memperkuat dirinya untuk melepas Myesha.


"Tidak alasan yang spesifik. Kak Danish hanya lebih berkualitas" Jawab Myesha datar.


Lebih berkualitas?? Lalu selama ini aku tidak berkualitas? Kalau seperti ini kenapa dari awal kamu memuja-muja laki-laki yang tidak berkualitas ini??


"Kak Danish lebih dewasa, dan sekarang sudah kuliah. Kak Danish bisa mapan lebih cepat" Myesha melanjutkan jawabannya.


Batin Dzaki yang sedari tadi bergejolak hanya karena sakit atas pilihan Myesha, sekarang semakin tercabik-cabik mendengar perempuan yang begitu dicintainya membanding-bandingkannya dengan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2