
Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih luas dan menempuh jarak lebih cepat membuat Hana dengan ukuran tubuh mininya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah Dzaki. "Siapa suruh punya kaki pendek" Gumam Dzaki
Dari belakang terlihat jelas bagaimana Hana kesal melihat Dzaki yang seolah membuatnya kesulitan mengejar langkah kakinya.
"Tunggu..." Hana dengan nadanya yang sedikit meninggi. Dia nyaris hilang kesabaran melihat Dzaki. Sedari awal pertemuannya di kamar Danish tadi, Hana sudah memberi cap 'tidak suka' pada Dzaki. Dia hanya berusaha menahannya mengingat Dzaki adalah putra Randi, seseorang yang telah membantu hidupnya.
"Kenapa??" Tanya Dzaki judes.
"Kamu jalannya terlalu cepat, aku kesusahan mengikutimu.."
Dzaki berbalik, menatap Hana dari ujung kakinya hingga ujung rambut yang membuat Hana menjadi gugup.
"Bukan jalanku yang cepat, tapi kakimu yang terlalu pendek sampai langkahmu terlalu kecil.." Jawaban jujur Dzaki itu seolah mengolok-olok ukuran tubuh mini milik Hana.
Ingin rasanya Hana mengumpat atau setidaknya menyumpal mulut Dzaki yang berkata pedis itu, tapi apalah daya itu hal yang tidak mungkin dia lakukan.
"Kalau sudah tahu, setidaknya kamu jalannya lambat sedikit biar aku gak ketinggalan.."
__ADS_1
"Kalau sudah tahu, setidaknya kamu harus berlari biar bisa mengimbangi langkahku..."
Tidak tahan lagi, Hana memperlihatkan tatapan kesalnya pada Dzaki. Kekesalannya kali ini bukan lagi hal yang bisa dia sembunyikan.
Dzaki dengan segala ketidakpeduliannya kembali berbalik melanjutkan langkahnya dan bermasa bodoh tentang Hana. Tidak ada hal yang bisa Hana lakukan selain berlari kecil mengikuti Dzaki. "Kalau saja aku punya pilihan lain, aku tidak akan mengikuti laki-laki yang bisa membuatku nyaris menyebut kebun binatang.." Dengus Hana
Entah karena sengaja atau karena memang langkah kaki Dzaki yang tanpa sadar semakin cepat itu membuat Hana benar-benar harus agak berlari untuk bisa mengejar Dzaki.
BRUUKKK....
Spontan Dzaki berbalik. Hana jatuh tersungkur dan lututnya mengalami luka kecil. Karena harus berlari kecil sedang kesehatannya masih tidak sepenuhnya pulih membuat Hana kehilangan keseimbangan dan terjatuh saat berusaha mengejar langkah Dzaki.
"Kamu ini bagaimana sih? Jalan saja bisa jatuh, Ayah bisa memarahiku kalau tahu kam..."
"Karena jalanmu terlalu cepat, jadi aku harus lari dulu biar bisa ngejar kamu.." Potong Hana sembari memegangi lututnya yang sedikit lecet.
Dzaki menyingkirkan tangan Hana yang sedang memegangi lututnya untuk bisa melihat seperti apa luka pada lutu Hana itu.
__ADS_1
"Masih bisa jalan?" Tanya Dzaki tanpa mengalihkan pandangannya dari lutut Hana.
"Bisa.."
"Tunggu aku disana.." Dzaki menunjuk sebuah kursi kosong. "Biar aku sendiri yang ke parkiran, aku akan menjemputmu disitu nanti.."
Hana hanya mengangguk.
Dzaki kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran, Hana hanya menatap punggung Dzaki yang semakin lama semakin menjauh karena tidak seperti sebelumnya yang hanya berjalan dengan cepat. Dzaki kali ini berlari kecil menuju dimana mobilnya berada.
Sebuah mobil mendekat dan berhenti perlahan didepan Hana.
"Ayo.." Entah karena kasihan setelah melihat Hana yang terjatuh atau karena nuraininya lagi terdorong untuk menjadi orang baik sehingga membuat Dzaki yang awalnya begitu dingin pada Hana sekarang bersedia turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Hana.
DEGGGGG.... "Apa barusan????"
"Buka mobilnyaa.. bukaa..." Hana memberontak membuat Dzaki terkejut.
__ADS_1
"Apa?? Kenapa??" Tanya Dzaki panik dan mulai kebingungan sekarang