The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold eps 22


__ADS_3

"Semoga bisa, aku benar-benar sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Diagnosa dokter tentang Dzaki juga masih saja menganggu pikiranku.." Randi tidak bisa lagi menyembunyikan gelisahnya.


"Jangan terlalu khawatir, itu hanya trauma bagi Dzaki sampai membuatnya tidak bisa mengingat kejadian itu. Toh semuanya Dzaki tetap ingat.." Nara mencoba menenangkan perasaan suaminya.


"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.." Nara kembali memeluk suaminya dengan hangat.


"Terimakasih sayang"


Hanya senyuman balasan dari ucapan terimkasih dari Randi.


.


.


.


Malam belum begitu larut, Randi meminta Dzaki dan Hana untuk berbicara.


"Bagaimana dengan kamarmu Hana? Kamu suka?" Tanya Randi. Hana hanya mengangguk tersenyum.


"Maaf kalau kurang bagus, soalnya saya tidak punya anak perempuan jadi saya kurang tahu seperti apa minat anak perempuan.."


"Tidak apa-apa, aku suka kok sama kamarku.."


"Sykurlah.. Ah iya aku memanggil kalian kesini untuk membahas masalah pendidikan kamu Hana" Randi akhirnya membahas alasan dia memanggil Hana dan Dzaki untuk berbicara.


"Aku sudah mengurusnya, dan kamu akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Dzaki.." Jelas Randi.

__ADS_1


"A apa?? Sekolah sama aku??" Dzaki yang tadinya acuh tak acuh seketika membelalak dengan ekspresinya yang sangat terkejut. "A anak ini?? Anak kecil ini??" Jari telunjuknya terus dia acungkan pada Hana.


Dzaki dengan cepat menoleh menatap Hana, ditatap dari atas hingga bawah. "Bukannya dia masih kecil??" Dzaki sangat terkejut, Dzaki selalu beranggapan bahwa Hana hanyalah anak kecil dan tubuh mini Hana lah yang menjadikan Dzaki berfikiran demikian.


Hana menatap Dzaki dengan tatapan tidak senang. "Kalau saja dia bukannya anak pak Randi, sudah jelas aku tidak mau mengenalinya.." Hana hanya bisa mengecamnya dalam hati.


"Anak kecil? Dzaki, Hana ini seumuran sama kamu.."


"What????" Dzaki kembali menoleh dan menatah Hana dengan tatapan tidak mungkin. "Oh world, are you kidding me?"


.


.


.


.


"Dzaki..."


Wajah yang sedari tertunduk dengan segala kebingungan yang menggerogoti pikirannya diangkat secara perlahan.


"Ayah berharap kamu bisa menjaga Hana disekolah.."


"Lelucon apa lagi ini Ayah? Kurang dermawan apa aku ngasih dia tumpangan dirumahku dan sekarang..."


"Karena diaa.."

__ADS_1


"Belum pulih seutuhnya kan??" Dzaki memotong perkataan Randi menebak apa yang akan Ayahya katakan dan menatapnya sejenak.


"Bukan hanya itu.."


"Terus?? Ayah, kenapa Ayah jadi drama begini sih?? Kenapa Ayah jadi begitu dermawan sama orang yang tidak kita kenal. tidak kita tahu asal usulnya dan tidak.."


"Untuk melindungi kakakmu.." Potong Randi.


What?? Melindungi kakak? Alasan baru apalagi ini?


"Huhh.. Apa Ayah sudah kehabisan alasan sampai ngebawa-bawa kak Danish juga??"


"Tidak Dzaki. Kamu yang harusnya ada di lokasi kejadian bisa lebih paham masalah ini.."


Ekspresi wajah kesal yang sedari tadi Dzaki tampakkan berubah menjadi kebingungan dengan segala pertanyaan yang mulai muncul di benaknya.


"Maksud Ayah??"


"Kamu tahu kan, kalau kalian dan Hana terlibat dalam kecelakaan yang sama?"


Dzaki mengangguk.


"Kamu juga tahu kan orangtua Hana meninggal karena kejadian itu.."


Dzaki kembali mengangguk.


"Menyelamatkan Hana, memberi Hana tempat tinggal dan sebagainya adalah cara Ayah untuk menutup kasus itu sehingga kakakmu bisa aman.."

__ADS_1


Hahh?? Apa ini benar??


Dzaki begitu sulit mencerna apa yang Ayahnya katakan.


__ADS_2