
Dia cemburu? Apa Dzaki sedang dekat dengan perempuan lain sekarang? Rasanya tidak mungkin anak nakal itu bisa melupakan Myesha dalam waktu secepat ini.
"Tentu saja boleh. Tidak ada yang berhak melarangmu untuk cemburu.."
"Iya, hanya saja aku merasa terlalu egois untuk merasa cemburu.."
"Myesha, perasaan cemburu itu wajar kamu rasakan untuk orang kamu cintai.."
Matanya mulai berkaca-kaca. Perasaannya mulai kalut kembali saat mengingat bagaimana Dzaki begitu akrab dengan Hana. Masih ada perasaan tidak ikhlas mengingat Dzaki membuka diri pada perempuan lain selain dirinya. Myesha sadar, perasaannya saat ini adalah sebuah keegoisan.
"Kenapa? Apa Dzaki dekat sama oranglain sekarang?"
Myesha mengangguk.
"Sama siapa?" Danish setengah terkejut. Danish tahu betul seperti apa adiknya itu. Untuk bisa dekat dengan seorang perempuan, Dzaki membutuhkan waktu yang lebih lama.
"Hana. Kakak tahu Hana kan?"
Perempuan yang terlibat kecelakaan denganku kan? Yang sekarang tinggal bersama Dzaki.
"Iya.."
"Hari ini aku ketemu Dzaki dan dia. Cara Dzaki memperlakukan Hana, sama seperti cara Dzaki memperlakukanku dulu. Aku tahu, aku egois seperti ini. Tapi aku beneran belum bisa nerima ada perempuan lain yang dekat sama Dzaki kak.."
__ADS_1
Danish tesenyum. "Jangan terlalu dipikirkan Yesh, wajar saja jika Dzaki memperlakukan Hana dengan baik. Kamu tahu kan kalau Hana itu tidak punya siapa-siapa sekarang, dan lagi dia sedang lupa ingatan. Apa yang Dzaki lakukan pada Hana bukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan sama kamu. Itu hanya bentuk simpati Dzaki saja.." Jelas Danish berusaha menenangkan Myesha dari pikiran kalutnya.
"Tapi kak.."
"Hem.. Myesha, kamu tahu kan kalau Dzaki itu gak mudah dekat sama perempuan. Apa kamu pikir Dzaki bisa seperti itu pada Hana kalau bukan dengan alasan atas dasar kemanusiaan? Aku yakin, masih kamu yang ada dihati Dzaki saat ini.."
Myesha tersenyum. "Aku berharap seperti itu kak.."
"Jangan pikirkan hal seperti ini lagi. Saat ini banyak hal yang harus kamu lakukan, kamu tidak lupa kan kalau harus belajar dengan baik agar bisa sukses dan melampui Ayahmu.."
Myesha mengangguk.
"Anak baik.." Kata Danish sambil mengelus kepala Myesha dengan lembut.
"Ha ha ha, iya iya.."
Maafkan aku Myesha, aku tidak tahu harus berbuat apa untukmu. Aku sadar, meyakinkanmu tentang Dzaki yang masih mencintaimu adalah sebuah kesalahan selagi aku tidak menemukan cara untuk bisa menyatukan kalian. Untuk saat ini, hanya menenangkanmu dengan cara seperti ini saja yang bisa aku lakukan agar kamu bisa berjuang dan semangat dalam hidupmu sembari menyiapkan diri untuk bisa melampaui Ayahmu. Suatu hari nanti, entah perasaanmu masih untuk Dzaki atau berpindah, aku yakin usahamu saat ini tidak akan sia-sia.
"Sudah sudah, jangan pasang wajah cemberut. Sini buah dan pisaunya.."
"Gak.." Tolak Myesha. "Biar aku saja yang kupas..."
"Tanganmu kan lagi luka Yesh.."
__ADS_1
"Ini cuman luka kec.."
"Sudah jangan bandel, berikan buah dan pisaunya.."
Myesha memberikan pisau dan sebuah Apel pada Danish.
"Kak.."
"Hem??" Sahut Danish tanpa mengalihkan perhatiannya dari pisau dan buah yang sedah dikupasnya.
"Makasih ya.."
"Untuk??"
"Karena udah ngejaga aku, dan mau ngebantu aku mengikuti alur cerita yang Ayah buat untukku. Aku gak tahu, akan seperti apa aku tanpa kakak.."
Danish tersenyum. "Kamu ini bicaranya seperti kalau aku ini oranglain saja. Aku kan kakakmu Yesh, wajar saja kalau aku menjaga dan melindungimu"
"Meskipun begitu, aku harus tetap berterimakasih sama kakak kan. Aku tahu, permintaanku ini sangat konyol dan lagi ini bukan hal yang mudah dijalani"
"Jangan sungkan begitu. Aku senang ngebantu kamu seperti ini"
Myesha tersenyum. Myesha bersyukur ada Danish yang begitu pengertian akan kondisinya, sehingga dia tidak harus melewati semuanya sendirian.
__ADS_1