The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 16


__ADS_3

Jujur saja, aku sangat tidak ingin tinggal dengan Dzaki, tapi mendengar dia yang bahkan bersedia membelikanku rumah, rasanya aku kelewatan sekali jika menginginkan hal itu dari orang yang sudah berbaik hati menolongku.


"Tidak usah khawatir, Dzaki tidak akan memperlakukanmu dengan tidak baik. Dirumahnya ada CCTV, jadi itu bisa mengawasinya secara langsung"


Aku hanya tersenyum kecil sembari mengingat apa yang akan terjadi padaku kedepannya.


.


.


.


.


Author Pov


Hana masih sangat terkejut mengetahui bahwa dia akan tinggal satu atap dengan Dzaki, laki-laki yang menurutnya memiiki kepribadian yang tidak menentu. Menurut Hana, Dzaki sangat hangat sebelumnya meski tingkahnya sangat menyebalkan, namun saat berdua dengannya sikap Dzaki begitu dingin meski menyebalkannya masih tetap sama.


Hana sangat tidak ingin tingga bersama dengan Dzaki, namun dia sendiri tidak punya pilihan lain. Baginya tinggal bersama Dzaki adalah sebuah keburukan tapi meski begitu Hana masih bersyukur, setidaknya ada seseorang yang bisa bertanggung jawab pada hidupnya yang bahkan mengenali diri sendiripun dia tidak bisa. Bagi Hana, semua hal yang diberikan Randi untuknya adalah sebuah anugrah meski hal itu bukan sesuatu yang dia senangi.


.

__ADS_1


.


.


"Sayangg..." Nara menghampiri Randi dengan cepat setelah Randi tiba kembali setelah sebelumnya bertemu dengan Hana dan Dzaki di restoran.


"Kenapa??" Ekspresi istrinya membuatnya bertanya.


"Apa tidak sebaiknya kita memeriksa kesehatan Dzaki lagi??"


"Ada apa? Apa yang salah dengan Dzaki? Bukannya dokter bilang dia sudah sehat.." Randi kebingungan mendengar permintaan istrinya itu.


Nara menarik Randi menghampiri Danish yang terbaring dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Randi hanya mengikut dengan segala kebingungannya.


"Dia bilang apa??"


"Dia bilang, yang menyetir saat kecelakaan itu  terjadi adalah kakaknya tapi Danish..." Nara menatap Danish, meminta Danish menjelaskan lebih pada Ayahnya.


"Bukan aku Ayah.. Bukan aku yang menyetir saat kecelakaan itu terjadi. Iya aku yang menjemput Dzaki, aku juga yang menyetir sebelumnya tapi karena melihatku yang kurang fokus dalam menyetir, Dzaki memintaku bertukar tempat dan akhirnya dia yang menyetir.."


Randi kebingungan, ada apa lagi ini??

__ADS_1


"Maksudmu adikmu tidak sadar saat dia menyetir.."


"Aku tidak tahu, hanya saja kalau seperti yang Ibu katakan sepertinya Dzaki tidak ingat.."


"Iya sayang.. Saat aku tanyapun, Dzaki sempat kebingungan sendiri. Dia spontan ngejawab kalau dia lupa.."


Perasaan Randi yang sebelumnya sudah lebih tenang saat Dzaki siuman, sekarang kembali kacau lagi mengingat ada hal yang tidak beres dari ingatan Dzaki.


"Apa itu termasuk Amnesia juga??" Nara mencoba menebak-nebak.


"Amnesia?? Tapi Dzaki masih mengingat semuanya, dan juga dia..." Randi kebingungan sendiri harus melanjutkan apa kata-katanya. "Yah, sebaiknya kita periksa kesehatan Dzaki kembali, aku akan memintanya datang sekarang.." Randi mengusap dahinya yang dikerutkan karena pikirannya tentang Dzaki mulai menganggunya. Sungguh dia bersyukur sebelumnya atas Dzaki, namun sekarang ia kembali gelisah


.


.


.


.


"Aku bilang aku udah sehat, kenapa harus kembali periksa lagi sih??" Gerutu Dzaki sambil berjalan menuju parkiran setelah sebelumnya dia kembalikan  memeriksakan kesehatannya atas keinginan Randi.

__ADS_1


Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih luas dan menempuh jarak lebih cepat membuat Hana dengan ukuran tubuh mininya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah Dzaki. "Siapa suruh punya kaki pendek" Gumam Dzaki


__ADS_2