The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth Untold 6


__ADS_3

Meski tanpa status, Myesha dan Dzaki menjalani hari-hari mereka layaknya pasangan, menghabiskan waktu bersama dan saling menjaga perasaan satu sama lain. Bagi Dzaki dan Myesha, status bukanlah hal penting asal mereka saling mengetahui perasaan satu sama lain.


Hubungan keduanya berlanjut baik-baik saja, layaknya remaja yang sedang dimabuk cinta lainnya, mereka tidak henti-hentinya saling mengabari meski pagi hingga sore bahkan malam mereka memiliki waktu untuk bersama. Keakraban Dzaki dan Myesha yang mereka perlihatkan pada semuanya tidak lagi mengundang tanya, bagi yang mengenal mereka itu bukan lagi hal yang harus dipertanyakan mengingat keduanya tumbuh bersama sedari kecil. Beberapa menyadari bahwa keduanya terlibat dalam perasaan cinta satu sama lain namun beberapa juga berasumsi bahwa keduanya akrab seperti itu karena dibesarkan bersama sedari kecil.


Hubungan antara Randi dan orangtua Myesha sangatlah baik sehingga bukan lagi hal yang tidak mungkin jika keduanya berniat menjodohkan putra putri mereka untuk mempererat tali persaudaraan diantara keduanya, dan itulah awal keretakan hubungan Dzaki dan Myesha.


Dzaki selalu mengingat bagaimana saat Myesha mengungkapkan perasaannya, bagaimana ketulusan Myesha dalam mencintainya sehingga membuat hatinya luluh dan balas mencintai Myesha bahkan mungkin perasaan Dzaki jauh lebih besar daripada perasaan Myesha.


Dzaki menuangkan semua perasaan cintanya, berusaha membuat Myesha senyaman mungkin dan menjadikan Myesha satu-satunya perempuan yang berhak atas dirinya, namun sepertinya itu tidak cukup untuk membuat Myesha yang awalnya sangat mencintainya bisa mempertahankan perasaan cintanya yang seperti itu.


Fauzi tidak pernah habis pikir, apa yang membuat pilihan Myesha itu tidak jatuh padanya. Selama ini yang dia tahu, Myesha hanya mencintainya dan dialah satu-satunya laki-laki yang akan menjadi pendamping Myesha kelak. Tapi hal itu sepertinya hanya ada dalam pikiran Dzaki saja, karena pilihan Myesha membuktikan bahwa dia bukan lagi orang yang diinginkan Myesha untuk bersamanya.


Masih kuat diingatan Dzaki bagaimana saat dia mendebat Myesha mengenai pilihannya yang sedikit tidak masuk akal bagi Dzaki itu.

__ADS_1


.


.


Langkah kakinya semakin cepat bahkan nyaris berlari.


"Yeshaaa..." Dzaki setengah mendobrak pintu kamar Myesha membuat Myesha yang sedang duduk didepan meja riasnya terkejut.


"Dzaki.." Myesha hanya menatap Dzaki yang berjalan mendekatinya. Melihat reaksi Dzaki yang seperti ini membuat Myesha sadar bahwa Dzakii sudah mengetahui tentang pilihannya.


Bukan jawaban, hanya tatapan saja balasan dari Myesha.


"Jawab aku Yess..." Cengkram Dzaki pada pundak Myesha.

__ADS_1


Myesha hanya terdiam dan menunduk.


"Kenapa diam? Aku tidak suka tingkahmu yang seolah membenarkan apa yang Ayah katakan.."


Menatap wajah Dzaki adalah sebuah kesulitan bagi Myesha saat ini. Dzaki bukan seseorang yang baru mengenalnya kemarin, sehingga membaca pikiran Myesha melalui tatapannya itu bukan hal yang sulit bagi Dzaki.


"Yeshaa lihat aku.. Bilang kalau itu gak benar..." Cengkraman Dzaki dibahu Myesha semakin kuat.


Myesha hanya bisa merelakan bahunya sebagai pelampiasan penekanan dari laki-laki yang sekarang berdiri didepannya itu. Rasa sakit cengkraman tangan dengan jari-jari yang panjang itu ditahannya.


"Kamu kenapa? Kenapa hanya diam Shaa??"


Suara serak mulai terdengar dari Dzakii.

__ADS_1


Perlahan Myesha mengangkat wajahnya, menatap Dzakii yang sedari tadi menekannya dengan pertanyaan-pertanyaannya yang segera membutuhkan jawaban. Tatapan sendunya semakin membuat Dzaki memburu mendapatkan mwminta jawaban.


__ADS_2