The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth untold 19


__ADS_3

"Memangnya kenapa??" Nara cukup kesal melihat anak tirinya itu selalu saja punya pertanyaan lain sebelum menjawab pertanyaannya. Namun pertanyaan Dzaki kali ini cukup menarik perhatiannya membuat dia mengabaikan rasa kesal yang sempat tertumpuk di hatinya.


"Apa dia dari pedalaman? Atau dari hutan? Apa jangan-jangan dia masih primitif??" Eskpresi Dzaki memperlihatkan betapa seriusnya dia dengan pertanyannya. Namun berbeda dengan Hana yang mengubah perasaan penasarannya menjadi kesal yang semakin tidak tertahankan. "Apa otak anak ini juga rusak setelah kecelakaan kemarin? Primitif katanya? Memangnya disekitar sini ada perkampungan yang bisa menciptakan kondisi primitif begitu??"


"Sepertinya kamu harus periksakan otakmu juga" Dengus Nara kesal.


"Aku serius bertanya seperti ini.."


"Ck, kamu ini ada-ada saja... Memangnya ada apa? Kenapa bertanya seperti itu??"


"Anak itu aneh.."


"Aneh bagaimana?" Nara mulai bingung lagi.


"Aku juga gak tahu gimana jelasinnya. Tadi aku niatnya pulang bawa mobilku, tapi karena itu bocah histeris teriak-teriak minta turun dari mobil, jadi ya mobilku ku tinggal disana.." Dzaki masih saja kesal mengingat kejadian tadi. "Kayaknya dia takut naik mobil.."


Penjelasan Dzaki seperti ada yang janggal menurut Nara. "Bagaimana bisa di jaman modern seperti ini ada orang yang takut naik mobil, apa ada sesuatu di dalam mobil Dzaki yang membuatnya takut"


"Eh tapi gak bisa dibilang takut naik mobil juga sih..." Sanggah Dzaki.


Nara hanya menatap Dzaki dengan bingung.

__ADS_1


"Tadi aku pulangnya naik Bis sama dia.." Dzaki mengingat kembali bahwa mereka tiba di rumah menggunakan Bis.


"Apa ada sesuatu dalam mobilmu??"


Dzaki berusaha mengingatnya.


"Gak ada.." Jawab Dzaki sambil menggeleng. "Ah dia saja yang aneh..." Dengus Dzaki kembali memainkan ponselnya.


"Hem..." Nara semakin bingung saja. "Ya sudah kamu istirahat dulu, aku akan disini bersama Ayahmu sampai malam.."


Dzaki hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


Seperti ada teka-teki yang harus Nara pecahkan, kesehatan Dzaki dan Danish ada prioritas saat ini tapi hal-hal mengenai Hana juga harus menjadi hal yang harus dia perhatikan.


Nara mengetuk pelan pintu kamar Hana.


"Hana, apa kamu sedang tidur??"


"Tidak Mami.."


Tedengar suara langkah kaki Hana semakin mendekat.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Hana saat menemui Nara dibalik pintu.


"Boleh aku tanya sesuatu??"


"Iya.."


Nara melangkah masuk kedalam kamar Hana, mencoba mencari tahu dan memecahkan hal-hal yang menurutnya janggal.


"Maaf aku menganggu waktu istirahatmu.."


Hana menggeleng sambil tersenyum. "Enggak kok.." Jawabnya.


"Engg Hana.. Barusan aku dari kamar Dzaki, dan dia bilang kalian pulang menggunakan bis hari ini karena kamu.."


"Ah maaf.." Potong Hana.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di mobil Dzaki??"


Hana menggeleng. "Masalahnya bukan sama mobilnya, tapi aku.." Jawab Hana sembari menunduk tidak berani mengangkat wajahnya menatap Nara. "Aku tidak tahu pasti, hanya saja saat berada dalam mobil Dzaki aku terbayang sesuatu yang menyeramkan.."


"Sesuatu yang menyeramkan? Seperti apa??"

__ADS_1


Hana kembali menggeleng, dia benar-benar bingung harus menjelaskan seperti apa perasaannya.


"Aku tidak tahu, jantungku hanya berdetak kencang dan tidak karuan. Bayangan seperti tabrakan muncul dikepalaku dan..." Hana menghentikan kata-katanya. "Aduhh.. Kepalaku....." Ada rasa nyeri hebat yang dia rasakan di kepalanya, seperti ada yang berdengung sampai membuatnya kesulitan dan kesakitan.


__ADS_2