
Dzaki akhirnya menurut dengan perkataan Hana dan diam.
Dzaki diam-diam memandangi Hana yang dengan telaten membaluri kencur yang telah diparut ke permukaan kakinya yang terkilir. Tanpa sadar ada perasaan kagum dan senang melihat Hana yang memperhatikannya seperti itu, matanya tidak teralihkan dari sosok Hana yang tengah serius mengobatinya.
"Selesai.. Jangan banyak gerak.." Hana selesai membalut kaki Dzaki dengan kain seadanya agar parutan kencur yang dia letakkan diatas kaki Dzaki yang terkilir tidak jatuh dan berserakan.
Dzaki dengan cepat mengalihkan pandangannya sebelum Hana mendapatinya.
"Mau sarapan pakai apa? Biar aku sendiri yang masak hari ini. Kamu istirahat saja"
"Iyalah, kan aku sakit. Masa kamu ngebiarin aku masak sementara bediri aja aku kesusahan.."
"Kalau begitu cepat sembuh tuan Dzaki, jangan sengaja berlama-lamaan sakit biar bisa duduk cantik ngeliat aku masak sendirian.."
"Iya iya Nyonya.."
"Yasudah, mau makan apa??"
"Terserah saja.."
"Roti pake telur dadar sama selada??"
"Kemarin kan makannya telur dadar juga.."
__ADS_1
"Ya terus bagaimana? Kan kita rencana belanjanya hari ini, jadi gak banyak yang bisa dimasak hari ini. Lagian kan kamu bilangnya terserah.."
"Ya tapi jangan telur dadar lagi.."
"Telur ceplok, mau??"
Dzaki berfikir sejenak.
"Gak banyak bahan, jadi jangan milih-milih.."
"Ya itu aja, dari pada telur dadar lagi.."
Hana bergegas menuju dapur.
Sejenak Dzaki bingung akan perasaannya, perhatian Hana barusan seakan menghipnotisnya membuat bayangan Hana selalu terbayang dipikirannya.
"Apa karena udah kelamaan tinggal bersama makanya aku terus-terusan kepikiran Hana. Ah ya.. Ini pasti karena selalu ketemu saja.."
Perasaannya yang membingungkan mencoba dia tepis dan berfikir lebih rasional.
"Auuu....." Jerit Hana.
Usahanya untuk merasionalkan pikiran dalam memahami perasaannya terhadap Hana buyar seketika mendengar jeritan Hana.
__ADS_1
"Hanaaa..." Spontan Dzaki berbalik, dan tanpa sadar beranjak dari tempat duduknya berlari menuju dapur menghampiri Hana. "Hana kamu kenapa??" Tanya Dzaki dengan khawatir.
Hana hanya terdiam menatap Dzaki.
.
.
.
Tidak seperti biasanya, hari ini Hana harus menyiapkan sarapan sendirian. Memasak sendiri seperti saat ini yang sebelumnya dilakukan bersama dengan Dzaki, jelas membuatnya sedikit kewalahan, meski tidak banyak jenis yang harus dia masak. Namun karena mengingat waktu yang sudah semakin siang membuat Hana menjadi sedikit terburu-buru.
Karena sudah cukup lama tinggal bersama, Hana jadi tahu selera makan Dzaki. Jika umumnya orang-orang menyukai telur dengan tekstur yang masih lembut karena setengah matang, namun berbeda dengan Dzaki yang menyukai telur over cook, sehingga Hana harus menggunakan minyak berlebih agar telur yang digorengnya bisa memberikan tekstur yang renyah.
Sembari menunggu minyak menjadi panas, Hana beralih membersihkan daun selada dan menyiapkan roti. Niat hati ingin menyiapkan dengan cepat, namun Hana malah kewalahan. Asap mulai mengepul disekitar wajan menandakan suhu disekitar wajan sudah sangat panas. Hana meletakkan kembali daun seladanya dan beralih menggoreng telur, tapi..
praatt praatt..
Karena suhu wajan yang terlalu panas membuat Hana tanpa sengaja melepaskan telur yang digenggamnya. Minyak panas terciprat mengenai beberapa bagian tangannya membuat Hana spontan menjerit.
"Auuu..." Hana mundur beberapa langkah menjauh dari wajan.
"Haanaa..."
__ADS_1