The Truth (Un)Told

The Truth (Un)Told
The truth Untold 11


__ADS_3

"Wah.. Cantiknya..." Dia mendekatiku dan perlahan memelukku dengan lembut. Aku hanya balas memeluknya meski aku tidak mengenalinya.


"Sayang.. Kamu harusnya memperkenalkan diri dulu sebelum memeluknya seperti itu. Lihat dia sepertinya kebingungan.." Tegur pak Randi.


"Ah iya..Maaf maaf.." Dia melepas pelukannya dariku. "Perkenalkan aku Nara, kamu bisa memanggilku Mami juga seperti Myesha memanggilku.."


Mami?? Bukannya itu panggilan untuk seorang Ibu?


"Ma mami??" Aku tidak ingin menyimpulkan sendiri, baiknya aku bertanya ulang agar semakin jelas.


"Dia pasti tidak mengira kalau Nara yang masih muda begitu istrinya Ayah.." Celetuk anak laki-laki yang sedari tadi bersandar di sofa dengan malasnya.


I istri?? Ja jadi perempuan muda ini??

__ADS_1


"Ah ma maaf Nyonya, sa saya tidak tahu..."


"Tuh kan, kubilang juga apa. Dia tidak mungkin mengira kalau Nara itu istri Ayah.." Laki-laki itu sedari tadi berbicara dengan nada santainya.


"Dzaki.. Sudah Ayah bilang berhenti memanggil Ibumu dengan namanya secara lansung.." Perkataan pak Randi barusan seolah memperjelas kebingunganku tentang siapa wanita yang ada didepanku saat ini.


"Nyonya?? Kenapa memanggilku seperti itu??" Nara menatapku lekat, seolah aku sedang melakukan kesalahan sekarang.


"Ajarannya pak Kasim itu.." Entah mengapa laki-laki itu selalu saja berbicara disela-sela percakapan oranglain, aku sedikit kesal melihatnya.


Aku mengangguk perlahan mengiyakan permintaannya "I iya Ma mami.." Jujur saja fakta bahwa wanita muda ini adalah istri pak Randi membuatku sangat terkejut.


Aku kembali mengarahkan pandanganku pada penghuni lain dalam ruangan ini. Entah perasaanku saja atau bagaimana, rasanya perempuan lain yang ada dalam ruangan ini selain Istri pak Randi seperti menatapku dengan tatapan tidak senang.

__ADS_1


Ah, mungkin hanya aku yang terlalu berfikir keras, buat apa juga dia tidak menyukaiku sedang aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa aku bisa seudzon sama orang lain begini sih??.


.


.


Kehadiran Hana dalam kamar rawat Inap Danish mengubah suasana. Nara yang sedari tadi tidak ada habisnya mendebati Dzaki anak tirinya akhirnya beranjak mengabaikan Dzaki dan fokus pada gadis dengan ukuran tubuh mini yang baru bergabung dengan mereka dalam ruangan itu.


POV Dzaki


"Ternyata cuman anak kecil, aku kira anak itu remaja seumuranku atau yang lebih tua dariku.." Gumam Dzaki dalam hati saat melihat Hana. "Ah, ini sih sama saja kalau aku diminta buat jaga anak. Etdaah nikah aja belum tapi sudah harus ngurus anak.." Dzaki mendengus kesal.


Aku masih saja kesal mengingat Ayah yang memintaku untuk tinggal satu atap dengan perempuan itu, tapi aku merasa lebih lega mengingat dia hanya anak kecil, yah mungkin dia sedang menempuh pendidikan di Sekolah menengah pertama sekarang.

__ADS_1


Aku kembali melirik Myesha. Aku masih saja kesulitan mengendalikan pandanganku untuk tidak melihatnya jika dia ada disekitarku. Jujur saja, perasaan yang kubawa-bawa tiga tahun padanya tidak mudah hilang begitu saja. Aku sudah terlanjur mencintainya, meski aku berusaha melupakannya dengan selalu mengingatkan diri bahwa dia adalah milik kak Danish sekarang, tapi tetap saja itu tidak bisa membantuku melupakannya secara utuh.


"Kenapa dia??" Aku mengikuti pandangan Myesha yang sepertinya tertuju pada gadis kecil itu, seperti ada tatapan tidak senang di matanya. "Apa Myesha mengenal anak itu??" Dzaki berusaha menebak dengan mengamati ekspresi Myesha.


__ADS_2