
"Maaf ya Hana.. Karena terlalu senang tadi, saya sampai tidak ingat tentang sarapanmu. Perawat juga sudah tidak menyiapkannya karena saya sudah mengatakan kamu keluar pagi ini.."
"Tidak apa pak.." Jawabku tersenyum.
Betapa beruntungnya Dzaki dan Danish memiliki Ayah sebaik ini. Aku yang hanya orang luar saja dia perhatikan sebaik ini, apalagi kedua putranya itu.
"Dzaki, hari ini kamu pulang sama Ayah saja.."
"Sama Ayah? Aku pulang kerumah Ayah??"
"Ya kerumah kamu lah.. Kenapa kamu harus pulang ke rumah Ayah??"
Whatt?? Dia punya rumah sendiri?? Dari yang aku lihat, dia masih cukup muda dan kisaran umurnya sepertinya dia seumuran denganku.
"Terus kenapa aku pulangnya sama Ayah??"
"Maksud Ayah, Ayah akan mengantarmu pulang bersama Hana hari ini.."
Mengantar Dzaki pulang bersamaku?? Dia akan mengantarku pulang kemana??
"Mobilku kemana???"
__ADS_1
Sekaya apa pak Randi ini? Sampai anak semuda Dzaki sudah diberi rumah dan mobil pribadi. Ah aku tidak habis pikir tentang itu.
"Ayah masih khawatir kalau kamu yang bawa mobil, kamu kan baru saja sembuh.."
"Ayah, aku sudah sehat dari dua hari yang lalu, Ayah saja yang terus-terusan menganggap aku masih sakit sampai menjebakku dua hari ini dirumah sakit"
"Tetap saja.."
"Tidak.." Potong Dzaki. "Aku mau pulang dengan mobilku.."
Sesiapapun yang melihatnya, akan ikut merasakan rasa kesal sepertiku melihat Dzaki yang berprilaku seperti itu pada Ayahnya.
Dzaki melirikku sejenak. Kemudian mengangguk pelan.
Sampai sekarang aku masih tidak tahu dimana aku akan tinggal, sedari tadi pak Randi hanya mengatakan bahwa aku akan pulang bersama Dzaki. Bukannya Dzaki memiliki rumah sendiri? Apa itu berarti...
"Maaf pak..." Dengan ragu-ragu aku mencoba bertanya untuk memperjelas dimana aku akan tinggal.
"Haduh.. Jangan panggil saya bapak, panggil Ayah saja seperti Dzaki memanggil saya.." Dia tersenyum begitu ramah.
"Ck, makanya kencangkan sabukmu biar Nara bisa memberimu anak perempuan..." Celetuk Dzaki tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang disendoknya pelan-pelan.
__ADS_1
"Woah.. Apa kamu mau adik perempuan.." Semeringai pak Randi memperlihatkan betapa dia bahagia dengan kata-kata Dzaki yang terdengar setengah hati itu.
"Menurut Ayah??" Dzaki mengangkat wajah, menatap Ayahnya sejenak.
"Sudahlah.." Ekspresi senang itu berubah menjadi datar. "Ah Hana.." Dia kembali menatapku dengan tersenyum. "Ada apa tadi?"
Aku sendiri sampai lupa kalau akan bertanya tadi. "I itu.. Maaf kalau aku menanyakan ini A ayah.."
"Tanyakan apa? Tanyakan saja, jangan sungkan begitu.."
"Aku tahu, sangat tidak baik kalau aku bertanya perihal ini, tapi kalau boleh tahu aku akan tinggal dimana?" Tanyaku ragu-ragu.
"Ah iya, aku lupa memberitahumu. Untuk sementara kamu tinggal bersama Dzaki dulu ya.."
WHAATT??? Dia bilang apa? Tinggal bersamaa....
Aku mengalihkan pandanganku menatap Dzaki yang sudah lebih dulu meyorotiku dengan pandangan anehnya.
"Maaf, mungkin kamu akan merasa canggung tinggal bersama anak laki-laki, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa membawaku bersama Nara karena kami tidak tinggal menetap, sedangkan dengan Danish.. Hem seperti yang kamu lihat, dia baru saja siuman hari ini dan lagi itu tidak baik karena aku harus menjaga perasaan Myesha. Aku bisa saja membelikanmu sebuah rumah..."
"Ah tidak tidakk..." Aku memotong perkataan oak Randi, memang sangat tidak sopan. "Tidak mengapa aku tinggal dengan Dzaki.."
__ADS_1