
DEGGGGG.... "Apa barusan????"
"Buka mobilnyaa.. bukaa..." Hana memberontak membuat Dzaki terkejut.
"Apa?? Kenapa??" Tanya Dzaki panik dan kebingungan.
"Aku bilang bukaa.. bukaaa.. aku mau keluarr.. bukaaa...." Hana terus-terusan memberontak, peralahan airmatanya mulai menetes.
Dzaki yang tidak tahu apa yang terjadi hanya berusaha menuruti permintaan Hana.
Hana berhambur keluar dari mobil, berlari menjauh dari mobil sebisanya hingga jatuh tersungkur saat kehilangan keseimbangannya.
Dzaki bergegas menghampiri Hana.
"Kamu kenapa??"
Tidak ada jawaban dari Hana, dia hanya menggeleng dan tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Dzaki, airmatanya terus menetes.
"A aku tidak mau.. aku tidak mau naik... Aku tidak mauu..." Hana tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan. Ada perasaan tekananan yang membuatnya ketakutan.
.
.
.
.
Raja sang galaksi sedang sombong-sombongnya memamerkan teriknya pada planet yang berpenghuni ini. Seolah memperlihatkan, bahwa dialah pengusaha panas yang sebenarnya disaat siang.
__ADS_1
Nara sudah sedari tadi menunggu didepan rumah Dzaki. Meski suaminya sudah beristirahat didalam, Nara masih saja tidak bisa tenang mengingat Dzaki dan Hana belum juga tiba. Nara terus-terusan kepikiran dengan kesehatan Dzaki terlebih setelah tahu hasil dari pemeriksaan dokter tadi.
Nara berlari kecil menghampiri gerbang ketika melihat Hana dan Dzaki berjalan pelan.
"Kenapa jalan kaki? Mobilmu mana Ki?"
"Ditinggal di Rumah sakit.." Jawab Dzaki melewati Nara begitu saja. Nara hanya mengikuti langkah Dzaki dengan pandangannya yang terus-terus hingga masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Nara ataupun Hana.
Perhatian Nara teralihkan dari Dzaki ke Hana.
"Hana, kamu baik-baik saja sayang??" Hana terlihat begitu pucat membuat Nara semakin khawatir.
Hana hanya tersenyum.
"Ayo masuk.. Kamu harus istirahat.." Nara merangkul Hana dengan lembut, mencoba memopang Hana yang terlihat sangat lemah.
"Kamu baik-baik saja kan?" Nara mencoba memastikan kesehatan Hana.
Sekali lagi Hana mengangguk.
"Ya sudah, istrihatlah. Kalau ada perlu kamu bisa manggil aku.." Nara berusaha menjadi Ibu yang baik juga bagi Hana.
"Terimakasih Mami.."
"Iya sayang..."
.
.
__ADS_1
.
Nara bergegas menuju kamar Dzaki, ada berapa hal yang harus dia pastikan pada Dzaki.
"Dzaki..." Panggil Nara sambil mengetuk pelan kamar Dzaki. "Aku bisa masuk??"
"Gak di kunci.." Jawab Dzaki jutek.
Nara memutar engsel pintu, menampakkan wajahnya dari balik pintu kamar Dzaki.
"Kamu baik-baik saja??" Nara berjalan menghampiri Dzaki yang berbaring dengan malasnya sambil memainkan ponselnya di sofa.
"Kelihatannya??" Dzaki menjawab pertanyaan Nara dengan balas bertanya.
Nara masih terus-terusan kepikiran tentang kesehatan Dzaki. Melihat Dzaki yang pulang tanpa membawa mobilnya membuat Nara berfikir yang tidak-tidak.
"Ya kayaknya sih baik-baik saja.." Nara menyembunyikan kebenaran diagnosa dokter pada Dzaki. "Oh iya, kenapa pulangnya gak bawa mobil? Bukannya tadi kamu minta pak Kasim buat nyiapin mobilmu??" Dia mencoba mencari tahu penyebab Dzaki meninggalkan mobilnya di Rumah sakit. "Mungkin Dzaki memiliki ingatan yang buruk jika dia mengendarai.." Pikir Nara.
"Memangnya kenapa??" Nara cukup kesal melihat anak tirinya itu selalu saja punya pertanyaan lain sebelum menjawab pertanyaannya. Namun pertanyaan Dzaki kali ini cukup menarik perhatiannya membuat dia mengabaikan rasa kesal yang sempat tertumpuk di hatinya.
.
.
.
.
Terimakasih masih membaca sampai sekarang. Jangan bosan-bosan ya uri readers..
__ADS_1