
"Aduhh.. Kepalaku....." Ada rasa nyeri hebat yang dia rasakan di kepalanya, seperti ada yang berdengung sampai membuatnya kesulitan dan kesakitan.
"Hana, kamu baik-baik saja??" Tanya Nara khawatir.
Hana terus-terusan memegangi kepalanya.
"Hana...."
Tidak ada jawaban dari panggilan Nara, Hana terus-terusan memegangi kepalanya yang terasa sakit sampai membuatnya tidak bisa mendengar panggilan Nara.
Nara berhambur memeluk Hana, mencoba menenangkan Hana dengan pelukannya dan berharap rasa nyeri di kepala yang terus-terusan Hana rasakan bisa mereda.
Pelukan hangat Nara perlahan menenangkan Hana, detak jantungnya yang sedari tadi berdetak cepat sampai membuatnya sesak perlahan stabil, rasa nyeri di kepalanya meski masih terasa namun tidak sesakit tadi.
"Tenanglah Hana..." Nara mengusap-usap rambut hingga punggung Hana mencoba untuk memberi ketenangan pada Hana.
"Maaf..." Airmata Hana perlahan menetes.
"Tidak apa, tidak usah dipikirkan lagi.." Nara mengusap airmata Hana. "Sepertinya kamu masih butuh istirahat, jangan paksakan dirimu.."
__ADS_1
"Maafkan aku..." Airmata Hana terus menetes. Ada rasa bersalah dalam hatinya, rasanya dia begitu merepotkan dan itu membuatnya merasa tidak tenang.
"Tidak apa.. Sudah, kamu istirahat dulu.." Nara mencoba membantu Hana untuk berbaring.
Nara melangkah keluar dari kamar Hana, mencoba memberi Hana waktu sendiri untuk beristirahat. Ada satu kesimpulan yang bisa Nara tarik dari apa yang dia dengar dan lihat dari Hana. "Sepertinya dia memiliki Trauma..".
.
.
.
Semua masalah dalam medan yang disebabkan oleh kecelakaan beberapa hari yang terus-menerus muncul.
"Kamu dari mana saja sayang ??" Tanya Randi melihat istrinya berjalan masuk ke kamar dengan lesuh.
Nara tidak menjawab dengan cepat, beberapa hal masih menganggu dipikirannya membuatnya tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya.
"Ah, aku dari kamar Dzaki dan Hana .." Jawabnya kemudian.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mereka ??" "Hem .. Seperti yang kita lihat, jasmaninya baik-baik saja tapi aku tidak tahu dengan rohaninya .."
Nara menghembuskan nafas panjang, beban pikirannya benar-benar sampai berubah menjadi apa pun.
"Maafkan aku.." Lirih ucapan Randi membuat Nara spontan menatapnya.
"Harusnya yang kamu dapatkan saat bersamaku hanyalah kebahagiaan, kamu masih terlalu muda untuk memikirkan hal-hal yang seperti ini, terlebih ini adalah masalah anak-anakku.."
Nara sadar, beban pikiran yang dia miliki sekarang tidaklah seberapa dibanding beban yang sudah ditanggung oleh suaminya, namun suaminya sebisa mungkin tidak menampakkannya agar dia tidak terlalu khawatir.
Nara mendekat dan memberi pelukan hangat pada suaminya yang terlihat sangat down itu. "Kenapa meminta maaf?? Aku bahagia bersamamu. Saat aku memilih untuk menjadi istrimu, aku sudah membuat kesepakatan pada diriku sendiri saat itu untuk menanggung semua suka dan duka bersamamu. Ingat, aku adalah istrimu dan bukan oranglain, anakmu adalah anakku juga, jadi wajar saja kalau aku mengkhawatirkan mereka"
Nara mempererat pelukannya, berusaha memberi ketenangan pada suaminya itu.
"Tapi..."
Cup..
Kecupan manis Nara membungkam mulut Randi.
__ADS_1
"Berhenti selalu memikirkan hal-hal yang seperti itu. Aku senang seperti ini, membuatku merasakan seperti seorang Ibu yang sesungguhnya.." Senyum manis Nara yang menenangkan perasaan Randi