
POV Hana.
Sekitar 25 menit yang lalu, aku mengikuti putra bungsu pak Randi keluar dari kamar dimana Danish dirawat. Danish baru saja siuman dari yang kudengar setelah tiga hari berbaring koma pasca kecelakaan. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya, aku hanya mengetahui beberapa garis besar peristiwa itu dari apa yang diceritakan oleh pak Randi dan pak Kasim. Pak Randi mengatakan bahwa aku terlibat kecelakaan dengan kedua putranya yang menyebabkan salah satu diantaranya hilang kesadaran hingga tiga hari. Pak Randi sendiri tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang kecelakaan itu padaku karena dia tidak berada di lokasi kejadian. Aku cukup mengerti itu, jangankan untuk menanyai putra mereka tentang kronologi itu, mengingat putranya harus mengingat kejadian mengenaskan itu saja dia tidak akan tega.
Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa aku terbangun di Rumah sakit itu. Saat siuman, orang yang pertama kali aku lihat adalah pak Kasim. Beliau seolah sedang menungguku hingga tersadar, terlihat dari bagaimana dia yang masih terjaga di dinihari saat aku siuman.
Aku merasa sangat bersyukur, meski aku yang tidak mengingat apapun bahkan tidak mengenali diri sendiri ini masih bisa tertolong dan bertemu dengan orang sebaik pak Randi. Aku berhutang besar pada keluarga ini.
.
__ADS_1
.
Aku hanya mengekor dibelakang putra bungsu pak Randi yang jika aku tidak salah mengingat namanya adalah Dzaki. Dia terlihat sangat berbeda dari saat dia berada diruangan Danish tadi. Meski sebelumnya dia terlihat cukup menyebalkan saat berada dalam kamar rawat inap Danish, namun dia cukup hangat saat itu. Berbeda saat ini, dia hanya duduk di depanku tanpa mengucapkan satu katapun. Jangankan berucap, menatapku atau bahkan sekedar berekspresipun tidak, wajahnya datar sedari tadi sambil sibuk memainkan ponselnya.
Sesekali aku meliriknya yang duduk selonjoran didepanku sambil menunggu pesanan makanan datang, aku berharap sesekali dia melihat ke arah dan mengubah eskpresi dinginnya itu, tapi sampai pelayanan datang membawa makanan kami dia tetap saja acuh.
"Maaf maaf, Ayah telat datang.." Pak Randi menghampiri kami sambil mengatur nafasnya, sepertinya dia berlari menuju kemari tadi. Apa segitunya pak Randi mencintai putranya sampai dia tidak membiarkan putranya menunggu lebih lama.
Ck, apa dia seacuh itu juga pada Ayahnya.
__ADS_1
"Turunkan ponselmu dan segera makan.." Ponsel yang sedari tadi dimainkan Dzaki ditarik begitu saja oleh pak Randi. Tidak ada perlawanan dari Dzaki, sangat berbeda saat dia berada dalam kamar rawat inap Danish tadi. Sebelumnya dia terlihat sangat sangar, aku mengira dia akan berusaha sebisanya untuk meraih ponselnya kembali saat pak Randi mengambilnya, namun dia diam saja dan beralih pada makanan yang sudah disediakan diatas meja.
Dia melirikku sejenak, aku berusaha tersenyum untuk memberi kesan yang baik namun apa balasannya? Jangankan balas tersenyum, mengubah ekspresi dinginnyapun dia enggan. Ah, aku menjadi kesal melihatnya.
"Hana.. Silahkan makan.."
"Ah.. I iya pak.."
Semoga saja pak Randi tidak memergoki ekspresiku yang memperlihatkan bagaimana aku tidak senang dengan tingkah laku putra bungsunya ini.
__ADS_1
Semoga saja pak Randi tidak memergoki ekspresiku yang memperlihatkan bagaimana aku tidak senang dengan tingkah laku putra bungsunya ini. Aku benar-benar kesal melihatnya, apa dia tidak bisa sopan sedikit pada Ayahnya?