The Tunnel and The Sprite's Muffler
( Terowongan dan Selendang Peri )
“Ohhh... liburan sekolah yang hanya beberapa hari ini kita buang dengan perjalanan ke tempat tinggal kakekmu, kawan?” Gerutu pemuda keriting sambil mengelap peluh di dahinya. Ransel besar berwarna hitam tergendong dipunggungnya. Terlihat penat. Karena didalamnya terisi berbagai makanan ringan, pakaian, dan benda-benda yang dianggap penting olehnya.
“Tak apa, Doni.” Sahut kawannya yang memiliki wajah lebih tampan dari dia. “Kakek ingin sekali bertemu denganku. Dan juga, sekalian refreshing sebelum kita menghadapi ujian.”
“Ha?” Doni tercengang tak niat. “Ujian Nasional sudah dekat, Riko! seharusnya kita memanfaatkan waktu ini untuk duduk di rumah, bersandar pada tembok dengan ditemani segelas air susu hangat lalu membaca modul. Belajar!”
“Santai saja, kawan.” Sahut Riko sambil tertawa kecil. “Kenapa sih kau begitu tegang dengan Ujian Nasional?”
__ADS_1
“Bagaimana tidak?” kawannya langsung memotong. “Dari tahun ke tahun paket soal selalu bertambah, Riko! Aku sama sekali tidak bisa tenang. Bagaimana kalau kita tidak lulus?”
Riko lalu menoleh ke arah wajah kawannya. Wajah yang berkulit putih namun pucat dan kering itu, padahal butiran keringat membasahi wajahnya. Kedua matanya bundar dan lebar. Jika baru pertama bertemu dengan kawannya yang bernama Doni itu, orang pasti akan menilai ia sebagai pemuda yang bodoh dan dungu. Karena tatapan kedua matanya yang memang terlihat bodoh itu.
“Apa kau tidak lelah, Riko?" menanya Doni sambil mengangkat penggendong ransel lalu diturunkan lagi untuk meringankan pegalnya. "Puluhan kilo telah kita tempuh demi bertemu dengan kakekmu yang tua itu?”
“Tidak.” Sahut Riko terus berjalan. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Matanya yang sebenarnya bersih kini nampak kotor dan lemah. Bibirnya pecah-pecah. Alisnya yang cukup tebal mengerut karena panasnya terik matahari. “Dan jangan kau sebut kakekku itu tua, kawanku! Itu terdengar tidak sopan!”
Setelah satu jam bersama akhirnya mereka tiba di depan pintu sebuah rumah yang mirip gubuk tua. Doni seketika menjatuhkan ranselnya, mereka berdua lalu menjatuhkan diri di ambang pintu dengan nafas memburu. Beristirahat karena saking lelahnya.
“Kakek... kakek...” Riko berseru lemah dengan nafas terengah-engah. “Aku datang...!”
__ADS_1
Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki perlahan. Kemudian muncul seorang kakek yang sudah beruban sampai jenggotnya yang panjang. Kulitnya sudah kriput namun kegagahannya pada waktu remaja masih terlihat. Ia lalu menghampiri mereka berdua yang tengah terbaring kelelahan.
“Kakek!” Riko lalu berdiri setelah melihat sang kakek yang tengah mengawasi mereka. Kakek tersebut lalu mengawasi wajah tampan Riko yang penuh keringat, berkulit kuning mendekati putih, berpostur tinggi serta bertubuh tegap itu. Ia lalu tersenyum dan mengangguk. Riko kini berusia 18 tahun. Ia tampak lebih dewasa dari sebelumnya.
“Kakek!” Doni pun ikut berdiri di samping sahabatnya.
Sang Kakek lalu mengerutkan alis sambil mengawasi wajah Doni. Wajah yang bulat penuh keringat dengan mata lebar, berambut keriting, berkulit sedikit putih namun pucat dan kering, berpostur lebih pendek sedikit dari Riko. Ia mengerutkan alis karena tidak kenal siapa adanya pemuda keriting ini.
“Oh, dia Doni, kek.” Riko menjawab seakan tahu apa yang ada di kepala kakeknya. “Dia temanku dan aku yang mengajaknya untuk menemaniku dalam perjalanan kemari.”
“Temanmu?” sang Kakek mengangkat alisnya. “Apa yang diluar juga temanmu?”
__ADS_1
Riko lalu mengedipkan mata. Ia tidak tahu akan apa yang dimaksudkan oleh kakeknya. Ia lalu menoleh ke belakang. Doni pun juga.