“Hmm-hmm-hmm-hmm...” Zhani bersenandung setelah dirinya berdiri lalu membusungkan dadanya yang membentuk dibalik penutup tubuh. Ia melepas kemudian melempar penutup tubuhnya ke atas ranjang, lalu berjalan mendekati almarinya. Memilih baju, lalu menanggalkan gaun biru yang dikenakannya.
Riko yang berada di bawah meja melihat akan hal itu. Ia lihat kedua betis gadis tersebut yang putih dan sangat mulus. Gaunnya merosot turun sampai ke mata kakinya, berikut selendangnya. Riko lalu menundukan kepala secepatnya dan memeramkan kedua matanya erat-erat.
Setelah mengganti gaun dengan gaun putih yang panjang berbelah, Zhani lalu mengenakan selendangnya kembali. Ia kemudian menuju ke meja dimana Riko bersembunyi, dan mengambil kursi empuk baru kemudian duduk di depan meja tersebut yang mana adalah meja bercermin. Tempat untuk berhias.
Riko yang berada di bawah meja membuka matanya perlahan. Ia kini jumpai di depan matanya sangat nampak sepasang kaki yang putih dan sangat halus menggesek lembut satu sama lain. Kuku-kukunya sangat bersih putih dan terwat sekali. Aromanya pun wangi seperti di lumuri oleh parfum-parfum kenamaan.
“Kau rela begitu?” terdengar suara Zhani bertanya dengan dirinya di depan cermin. Riko berkerut kening. Ia lalu mengangkat wajahnya berusaha memandang wajah yang bicara namun malah melihat paha yang mulus milik gadis tersebut. Lantas Riko lalu membelalakan mata dan secepatnya menunduk kembali.
“Taat kepada Ayah handa, bersikap tegas?” lanjutnya. “Tapi apa yang kau dapatkan? Apakah mereka akan senang kepadamu? Mendekatimu lalu mengajak berteman dengamu, begitu?”
Riko kemudian membuka matanya dan memasang telinganya. Ia masih menunduk dan berpangku mulut pada kedua lengannya.
“Kau malah dibenci mereka.” Zhani memegang cermin lalu memandangnya kembali. “Dalam hatinya pasti mencacimu tiada henti!” Gadis ini lalu menghela nafas, “Kau ingin berteman dengan mereka, tapi kau selalu ragu manakala mereka tidak mau berteman denganmu! Lagi pula, siapa yang akan mau jadi temanmu?”
__ADS_1
Ia lalu meletakan jari telunjuknya pada wajahnya yang berada di cermin. “Kau selalu menampakan wajah dingin. Menghukum mereka bila mendapat perintah ayah handa.” Ucapnya lalu menarik nafas panjang. “Ayah handa memang menyukaimu. Sangat menyukaimu sampai hampir setiap harinya memujimu. Tapi apakah mereka juga menyukaimu? Tidak! Mereka tidak menyukaimu, dan aku pun tidak menyukaimu!” Zhani lalu menutup cermin sampai terdengar suaranya yang membentur meja. Ia lalu berdiri, membalikan badan kemudian menendang kursi sambil menghadap ke belakang. Kursi yang tadi di dudukinya itu langsung masuk ke bawah meja dan wajah Riko yang berada dibawah meja lantas tersambar oleh kaki kursi tersebut.
“Uakhhh...” Riko mengeluh sambil memegangi bibirnya yang berdarah.
“Ah!” Zhani berseru tertahan lalu membalikan tubuhnya. Ia menuju ke arah meja kembali lalu menundukan tubuhnya. Ia kini jumpai Riko yang tengah tengkurap sambil memegangi bibirnya meringis kesakitan. Melihat dirinya sudah ketahuan, Riko lalu membuka mata kemudian tertawa terpaksa ke arah wajah cantik yang tengah membelalakan mata itu.
“Srett!!” Sambil mengeluarkan seruan terkejut Riko merasa tubuhnya ditarik. Dan benar saja, Zhani saat itu langsung mencengkram kerah baju Riko dan menariknya keluar.
Gadis bergaun putih itu mendirikan alisnya memandang wajah Riko yang tengah berkedip-kedip menunggu apa yang gadis cantik itu akan lakukan pada dirinya.
“Siapa kau?!” Zhani mendirikan alis mencengkram kerah baju Riko.
“Apa sedari tadi kau berada di sini?!” potong Zhani.
Riko lalu pandangi wajah gadis cantik itu yang nampak sedang marah. Ia kemudian menghela nafas dan memasang senyuman. “Benar, Nona.” sahutnya lalu tersenyum keren. “Memang benar aku dari tadi berada di tempat ini,”
__ADS_1
Zhani lalu membelalakan matanya. Cengkramannya di lepaskan lalu pahanya terangkat kemudian memancal tubuh Riko tanpa dapat dihindarinya.
“Wusshh... Brukk...!” Riko melesat sampai lima langkah dan tubuhnya membentur meja kecil sampai ambruk. “Ughh... Aghh...” Riko mengeluh karena pinggangnya terasa patah dan encok-encok. Baru hendak berdiri kerah bajunya sudah kena cengkram Dewi berselendang biru langit itu kembali.
“Kurang ajar!” maki Zhani sambil mencengkram kerah leher Riko dengan mata terbelalak. “Tukang intip!”
“Nona!” potong Riko cepat. “Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu!”
“Jadi kau mendengar aku--?” Zhani pandang wajah Riko dengan nafas sedikit memburu. “Melihat aku--?”
“Tidak!” sahut Riko cepat sampai gadis itu sedikit kaget. “Aku memang melihatmu saat... Eighh...!” baru ingin berkata ‘saat kau mengganti pakaian’ Zhani lalu semakin membelalakan kedua matanya yang jelita dan sedikit membuka mulutnya yang indah sambil mengeraskan cengkramannya sampai membuat sesak nafas pemuda itu. “Aku memang melihatnya tapi tidak semuanya, Nona!”
“Dan kau mendengarnya?!”
“Ya aku mendengar tapi tidak terlalu jelas. Suaramu seperti bergumam sehingga kedua telingaku tidak menangkap semuanya!” sahut Riko lalu menelan ludah. “Dan yang ingin aku tanyakan, Nona. Bagaimana wanita sepertimu tidak punya teman?”
__ADS_1
“Srett!” secepat kilat mata pisau telah menempel pada leher Riko. Dan pemuda itu lantas terkejut sekali. Zhani kembali mencengkram pemuda itu erat-erat dan kedua matanya kembali terbelalak memerah, seperti tidak terima kalau Riko membicarakan akan hal itu.
“B-baiklah baiklah, Nona. Aku tidak akan bicara tetang itu kembali. Tidak akan...” kata Riko dengan nafas memburu dan kedua mata memeram.