Jondan terbelalak saat melihat kawan mereka telah roboh semua. Maka sambil menggeram ia lalu membalikan tubuh dan lari dari tempat itu.
Namun ada satu Monster yang melihat pelarian Jondan. Ia tidak kebagian makan daging, maka ia hanya bengong di belakang dan melihat larinya Jondan. Ketika melihat manusia itu tengah berlari, ia pun langsung mengejarnya.
“Sial!” keluh Jondan ketika ia tengok kebelakang melihat ada satu Monster yang mengejarnya. Tubuhnya masih memakai baju baja sehingga larinya menjadi lambat dan tidak leluasa. Tidak sempat ia untuk melepas bajunya itu sehingga ia terus saja berlari keluar dari tempat itu.
“A...!” Jondan tersandung ketika melewati jalan yang menurun. Ia merangkak ingin segera berdiri tapi tidak bisa karena saking takutnya. Monster itu sudah dekat sekali dibelakangnya. Jondan hanya dapat merangkak dengan wajah ketakutan dan tanpa terasa ia berteriak minta tolong sambil menangis.
“Wusshh...!!!” Monster itu setelah menggeram lalu menubruk tubuh Jondan. Jondan lantas berteriak ketakutan. Selagi Monster itu hampir berhasil menubruknya, tiba-tiba muncul angin kencang dan dengan diiringi bunyi “Duk!!!” tubuh si Monster terlempar dan kepalanya hancur seketika. Tubuh Jondan terasa melayang diudara. Namun itu benar adanya. Dirinya tengah dibawa terbang oleh seorang kakek 60 tahunan dengan tampang mirip seperti kelelawar! Dirinya yang tak sadarkan diri karena ketakutannya itu dipondong terbang melarikan diri dari tempat itu!
****
“Riko...” terdengar seorang gadis memanggil namanya. “Riko... Riko...”
Riko lalu membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa berat namun sangat nyaman ditempat itu.
“Riko...” panggil gadis itu lagi. “Sayang, apa kau tak ingin bangun? Ini sudah siang,”
Terdengar suara korden dibuka. Baru kemudian suara terbukanya jendela. “Sayang...?” ucap Riko dalam hati.
Terasa dirinya ditepuk oleh tangan yang halus. “Sayang apa kau tak ingin bangun? Aku sudah membuat sarapan untukmu.” Katanya mesra.
Dalam hati Riko penasaran. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Tidak salah lagi, itu... Setelah perlahan-lahan kedua mata Riko terbuka, ia samar-samar melihat seorang gadis yang tengah membangunkannya. Gadis itu tersenyum manis kepadanya.
__ADS_1
“Wu-wulan...?” kata Riko tergagap. Dirinya heran sekali kenapa Wulan memanggilnya ‘sayang’. Dan kenapa tiba-tiba ia ada dikamarnya sendiri.
“Sayang, aku juga sudah membuatkan susu untukmu.” Kata seorang gadis yang ada di sebelahnya. Kali ini suara itu lain. Dan memang orangnya pun lain. Cepat Riko tengok ke samping kirinya. Ternyata itu adalah Sofia. “Cepatlah bangun lalu sarapan denganku!”
“H-hahh...?” kali ini Riko tercengang sekali. Ada dua gadis yang memanggilnya sayang. Apa artinya ini? Di kanan ada Wulan yang mengajaknya sarapan. Di kirinya juga ada Sofia yang mengajaknya sarapan pula. Dua gadis cantik jelita ini, berperilaku seperti layaknya kekasihnya, atau malah, istrinya!
“Tidak!” ketus Wulan tiba-tiba. “Sayang, lebih baik kau sarapan denganku.”
Riko menoleh ke arah Wulan sambil melongo.
“Tidak!” ketus Sofia pula. “Lebih enak masakan aku, sayang. Kau sama aku saja!”
Riko lalu menoleh ke arah Sofia sambil melongo.
“E-e-ehh!” Sofia mendirikan alis sambil menarik tangan kiri Riko. “Sayang, masakannya tidak enak. Jangan mau dengan dia!”
“Heh, siluman!” ketus Wulan. “Takutnya dimakananmu itu ada usus manusianya, mana boleh suamiku makan bersamamu!” ia menarik tangan kanan Riko.
“Apa?!” balas Sofia. “Aku juga takut jangan-jangan masakanmu itu gosong dan busuk. Ihh... itu sangat berbahaya bagi kesehatan suamiku.” Katanya sambil menarik tangan kiri Riko.
“Jangan dengarkan omongannya, sayang, ayo kita sarapan!” kata Wulan.
“Tidak bisa! Sarapan denganku saja!” balas Sofia.
__ADS_1
“Tidak! Denganku saja!” Wulan tak mau kalah.
“Dengan ku!” Sofia sewot.
“Aku!”
“Aku!”
“Aku!”
“Aku!”
Kedua gadis itu bercekcok saling merebutkan Riko. Ditariknya tangannya yang sudah lemas karena saking bingungnya itu kekanan dan kekiri.
“Heh...!!!” pintu kamar terbuka keras sampai membentur dinding. Kedua gadis itu berhenti tarik menarik. Mereka kini melihat ke depan mereka. Begitupula dengan Riko.
“Cepatlah bangun!” ketus orang itu. Yang mana suara seorang gadis. “Lekas bekerja! Apa kau tak ingin menafkahkan kita bertiga!”
Kali ini Riko ingin pingsan. Siapa yang bicara kali ini? Itu bukan lain adalah Ang Zhani! Ketua para Dewi yang cantik jelita serta penuh kharisma itu. Dan kini gadis itu mengaku sebagai isterinya? Sungguh Riko tak dapat mengucapakan sepatah kata. Karena masih terheran-heran maka ia tak sadar bahwa Zhani sudah memancal tubuhnya. “Dukk...!” tubuhnya terasa terlempar ke belakang lalu jatuh ke tanah.
“Ugh...” Riko membuka mata perlahan. Terasa sakit dan pegal tubuhnya. Ia sapu sekelilingnya dengan kedua matanya yang masih susah untuk dibuka. Sel besi? Riko lalu menoleh kedepan. Terlihat dua makhluk hitam yang tadi menendangnya. Mereka berdua tanpa mengeluarkan suara langsung menutup pintu sel kemudian di gembok lalu setelahnya mereka pergi meninggalkan Riko.
“Dimana aku?” pikir Riko. Ia coba gerakan tubuh untuk bangkit, namun terlalu susah sehingga ia hanya merangkak sesaat lalu duduk bersandar pada dinding di penjara itu. Ia mengingat-ingat kejadian tadi, ia ingat bagaimana ia dan teman-temannya di keroyok oleh puluhan monster, dan bagaimana ia melihat dengan mata kepala sendiri Sofia luka berat karena membentur pohon dengan kerasnya, terlebih lagi Zhu dijadikan santapan oleh mereka. Mengingat kejadian itu dada Riko menjadi sesak. Kedua siluman itu telah membelanya mati-matian, sementara dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Malah ia sekarang berada dalam sel tahanan bawah tanah ini. Bagaimana keadaan Zhu dan Sofia sekarang? Kenapa pula mereka mengurung diriku di tempat ini? Pikir Riko.
__ADS_1