Zhu lalu menghela nafas. Begitu pula dengan si gendut dan si kurus.
“Persahabatan manusia tidak boleh di anggap remah.” Kata Regit yang lalu berdiri. “Ia sudah memanggilku saudara maka aku akan membantunya!” katanya lalu berlari mengejar kedua pemuda itu.
“Aku pun akan ikut!” kata Zhu. “Manusia memang makhluk yang menarik!” katanya lalu seketika itu kemudian menyusul mereka.
“Aku juga!” kata si gendut lalu berlari dengan perut bergelombang menyusul dari belakang.
Sofia pun lalu mendirikan alis kemudian berlari mengejar mereka semua. Ketika si kurus Eno hendak berlari menyusul mereka, pundaknya lalu ditarik oleh Eagla ke belakang.
****
__ADS_1
Hari itu sudah tengah malam, bulan purnama sudah meninggi keatas. Riko masih duduk menanti di kamar Zhani. Sampai akhirnya terdengar pintu terbuka.
“Hey!” bisik dewi berselendang itu memberi isyarat untuk mengikutinya.
Riko lalu mengangguk. Cepat-cepat ia menuju ke arah Zhani yang sudah berada di luar pintu. Ketika berada di dekatnya. Gadis itu lalu berbisik. “Ikuti aku dan jangan bersuara.” Katanya lalu ia berjalan cepat ke arah barat. Pemuda itu hanya mengangguk dan mengikutinya. Setelah menepuk dinding dua kali dengan punggung jarinya, tiba-tiba dinding itu muncul sebuah pintu yang tidak lebar. Zhani lalu memasuki pintu tersebut begitu pula pemuda itu. Dibawanya Riko menuju ke jalanan yang kecil. Yang mungkin jarang orang melewati jalanan itu. Melalui tikungan, kemudian berjalan lurus, sampai akhirnya tiba di sisi pintu istana. Gadis itu lalu berhenti dan Riko pun berhenti. Di lihatnya oleh mereka betapa 4 penjaga tengah berpatroli di sana. Dengan sekali tubuhnya melesat, Zhani sudah berada di belakang ke-empat penjaga itu, lalu menotok tubuhnya satu persatu, tanpa menimbulkan suara. Kini ke-empat penjaga tersebut roboh tak berdaya. Zhani lalu memberikan isyarat dengan gerakan kepala agar Riko mengikutinya, kemudian pemuda itu mengangguk dan mengikuti gadis itu sampai di sebuah pintu kecil disamping gerbang istana. Zhani lalu membuka pintu tersebut, lalu menatap Riko agar cepat keluar.
Sebelum pemuda itu melangkah, ia lalu memandang gadis itu.
“Cepatlah sebelum ada orang yang tahu.” Kata Zhani yang lalu memalingkan wajah ketika di pandang Riko.
“Sudahlah.” Sahut Zhani sedikit tersenyum namun tidak memandang pemuda itu. “Cepatlah kau pergi.”
__ADS_1
Riko lalu memandang gadis itu sampai beberapa lama untuk memasukan wajahnya ke kepalanya. Baru kemudian ia mengangguk, lalu secepatnya menerobos pintu dan pergi dari tempat tersebut. Setelah pemuda itu berlari jauh, Zhani lalu tersenyum kemudian menutup pintunya. Ia sempat berdiri terdiam sambil masih memegangi daun pintu. Ia heran sendiri dengan dirinya oleh kenapa baru pertama kalinya ia mau menolong seorang lelaki. Padahal dia selalu bersikap dingin dan acuh sekali dengan lelaki. Dan pertolongan yang dilakukannya ini sebenarnya sangat berbahaya bagi dirinya. Jika ketahuan, akan sangat murkalah sang Raja Istana yang sebenarnya Istana tersebut bernama Istana Yuansu itu. Diambil dari nama pemiliknya, yaitu ayah handa para Dewa dan Dewi, atau sang Raja itu sendiri. Raja Yuansu terang sekali melarang Manusia memasuki tempat tersebut. Bukan hanya manusia, akan tetapi bangsa monster dan siluman. Mereka yang memasuki tempat tersebut tidak akan dapat kembali lagi jika ketahuan. Sudah banyak bangsa monster dan siluman yang kala itu memasuki tempat tersebut, bertujuan hendak melihat para Dewi yang sangat cantik rupanya, atau saja hendak menculik mereka untuk menjadi isterinya. Akan tetapi usaha mereka kesemuanya tidak berhasil. Setelah mereka ketahuan oleh para prajurit, para Peri cepat muncul ketika dibunyikan tanda dan bertarunglah mereka yang memasuki istana tersebut dengan para Peri maupun Perwira istana, prajurit, atau bahkan Dewa dan para Dewi sendiri. Dan hasilnya, mereka tidak dapat keluar dari istana tersebut. Tubuhnya dibuang disuatu tempat, yaitu di atas gunung yang berada di istana tersebut. Jika menengok tempat tersebut, maka disana tertumpuk ratusan mayat bangsa monster dan siluman yang sudah memasuki istana Yuansu itu. Tubuh mereka tumpang tindih seperti tumpukan sampah, dan keadaan tubuhnya mengerikan sekali! Banyak bagian tubuh mereka yang kuntung atau putus. Dari mulai bagian tubuhnya, sampai kaki, tangan dan kepala. Semua mayat tersebut tertumpuk di gunung tersebut, di dalam lubang yang besar, yaitu kawah gunung itu sendiri yang sudah tidak aktiv. Hal ini semua adalah peraturan dari para leluhur Istana tersebut. Yang mana berisi aturan seperti diatas.
Zhani tidak ingin pemuda itu mengalami nasib seperti mereka, maka entah karena dorongan apa ia mau melakukan itu semua. Padahal gadis ini adalah dewi yang patuh sekali dengan Ayah Handanya dan ia lah yang sering melaporkan jika ada bangsa monster atau siluman yang memasuki tempat tersebut, dan dia juga lah yang sering menumpas mereka.
Setelah menghela nafas panjang Zhani lalu membalikan badannya untuk menuju ke kamarnya kembali. Akan tetapi baru saja ia membalikan badan, sosok Raja dengan di dampingi oleh dua dewi berselendang sudah berada di depannya. 30 prajurit istana juga berada di belakang sang Raja dengan dipimpin seorang perwira yang berada didepannya. Latas Zhani membelalakan kedua matanya karena terkejutnya. Kedatangan mereka itu, sama sekali tidak dirasakan oleh gadis ini sebelumnya.
Untuk menghilangkan rasa terkejutnya, gadis tersebut langsung menjatuhkan diri berlutut. “Ayah handa.” Katanya yang lalu menunduk memberi hormat kepada sang Raja. Ia pun melirik dewi yang berada di samping sang Raja. Ternyata mereka itu adalah dewi berselendang Jambon dan Nila. Ia dapat menduga secara pasti bahwa kedua dewi inilah yang mengadukan kepada Ayah handanya itu.
“Apa yang kau lakukan ini sungguh hebat, Ang Zhani!” geram Raja tersebut dengan tersenyum kecewa. Zhani lalu semakin menunduk dan mengencangkan rahangnya.
“Cepat kalian tangkap manusia itu!” perintah dewi berselendang jambon kepada sang perwira. Perwira tersebut mengangguk kemudian berseru kepada 30 prajuritnya yang berada di tempat itu.
__ADS_1
“Ambil kuda kalian dan kita kejar manusia tadi!” perintah sang perwira 35 tahunan itu yang berewok.
“Siap!” serentak ke tiga puluh prajurit itu lalu berlari ke kandang kuda. Yang mana ada ratusan kuda di tempat tersebut. Setelah satu persatu mendapat kuda, mereka lalu berbaris dengan di komandani oleh sang perwira yang memakai kuda berkostum baja. Gerbang di buka oleh penjaga gerbang yang saat itu datang dan terbukalah perlahan gerbang yang besar itu ke samping kanan dan kiri. Terdengar derap kaki menuju selatan dan berangkatlah mereka mengejar Riko.