The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia

The Tunnel And The Sprite'S Muffler Bahasa Indonesia
Bab 10


__ADS_3

“Tok-tok-tok!” pintu kamar terketuk lalu masuklah dewi berselendang hitam menghampiri Wulan. Setelah di dekatnya, gadis 18 tahun itu lalu mendekati sahabatnya yang tengah duduk di ranjang dengan wajah murung. Ia lalu duduk di sampingnya.


“Mana yang sakit, Wulan?” tanya Mia memegang tangan sahabatnya.


“Tidak ada,” sahut Wulan tersenyum menggeleng kepala.


“Eh? Dia tidak menyiksamu?” Mia terkejut membelalakan matanya yang mungil.


“Emm,” Wulan menggeleng kepala.


“Baguslah!” Mia tersenyum gembira tidak melihat kemurungan wajah sahabatnya. “Eh, katanya kau akan menceritakan kenapa kau kehilangan selendangmu, Wulan. Itu bagaimana ceritanya?”


Wulan tersenyum. Ia kemudian menunduk.


“Ha-ha-ha!” Mia tertawa lalu naik ke atas ranjang. “Kenapa kau malu-malu begitu?”


Wulan juga naik ke atas ranjangnya. Ia kemudian memegang tangan sahabatnya. “Aku bertemu dengannya!” bisiknya tersenyum.


“Dengannya... siapa?” Mia menanya keheranan.


“Lelaki. Manusia bumi!”


“Hah?” Mia mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


“Emm-hmm,” Wulan mengangguk tersenyum manis.


“Ah! Bagaimana rupanya?! Ceritakan ceritakan!” Mia berseru semangat seperti penasaran sekali.


“Luar biasa.” bisik Wulan lalu menunduk.


“Ha-ha-ha!” Mia tertawa girang. Kedua giginya yang besar dua terlihat. “Aku juga pernah dengar dari teman-teman, bahwa lelaki bumi itu tampan wajahnya. Mereka itu sangat setia dengan pasangannya, rajin bekerja, dan juga romantis!”


“Benarkah itu?” Wulan tersenyum girang.


“Tentu!” sahut Mia mengangguk. “Eh, Bagaimana kau dapat bertemu dengannya?”


“Tidak tahu pasti.” Wulan menggeleng kepala. “Waktu itu, wajahku seperti tersentuh oleh seseorang, dan tak tahunya aku lalu terjatuh di sebuah rumah yang sederhana. Aku takut manakala tempat itu sarang bangsa monster, maka aku berlari menuju ke sebuah pintu dengan maksud ingin kembali kemari. Tapi, ternyata di dalam pintu adalah terowongan yang gelap. Aku tidak bisa melihat dengan jelas kesekitar sampai akhirnya aku berbenturan dengan dia.”


“Lelaki itu, ya?” tanya Mia girang sambil menyandarkan dagu ketangannya sendiri.


“Hayoo...?” Mia meledek sahabatnya.


“Ih, kau nakal, Mia!” Wulan mendirikan alis lalu cemberut.


“Hahaha!” Mia tertawa. “Ayo lanjutkan lagi.”


“Kami lalu berdiri, dan aku yang berjalan duluan. Tak tahunya, aku menoleh kebelakang ternyata lelaki itu jatuh tengkurap! Tersandung batu.”

__ADS_1


“Hikhikhik...” Mia tertawa di hidungnya.


“Kami lalu berjalan bersama. Dia yang mengajakku. Dan ketika kami berpisah, rasanya berat untukku. Maka aku gunakan ilmu memindahkan benda dan aku pindahkan selendangku ke tempat dimana kami berbenturan.”


“Eh, k-kau sampai rela melakukan itu?!” Mia terbelalak.


“Aku ingin dia kemari dan menemuiku.”


“Kenapa kau begitu bodoh, Wulan?!” Mia mengerutkan alis. “Itu sangat berbahaya bagimu dan baginya.”


“Tidak apa.” Wulan tersenyum sedikit. “Aku sudah siap dengan resikoku.”


“Lalu bagaimana dengan resikonya?”


“Jika dia bersungguh-sungguh kemari, berarti ia juga ingin bertemu denganku. Karena aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa akan sangat berbahaya jika ia sampai ke dunia ini.”


“Bagaimana jika lelaki itu tidak kemari. Kau akan kehilangan selendang selamanya dan kau tentu tahu hukumannya, kan?”


“Asal selendangku berada padanya, aku dapat memeramkan mata dengan tenang.”


“Ahh...! kau itu sungguh *****!”


“Saat bertemu dengannya, aku memang menjadi bodoh, Mia..”

__ADS_1


Mia lalu memeluk sahabatnya. Dan ia lalu menitikkan air mata. Membayangkan hal yang akan meimpa sahabatnya kelak jika ketahuan sang Raja. “Kau ini rela berkorban demi lelaki! Kau memang sahabatku yang paling *****!”


Wulan lalu memeluk Mia erat-erat. Ia lalu memejamkan matanya dan keluar pula air matanya.


__ADS_2